Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBANYAK 23 spesies baru anggrek ditemukan di wilayah Papua Barat. Itu merupakan hasil eksplorasi yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Brida Papua Barat, UNIPA, Royal Botanic Garden Kew serta Balai Besar KSDA Papua Barat.
“Beberapa sudah dideskripsikan dan dibuat botanical description-nya. Semoga di tahun ini target kita atau paling lambat tahun depan, semua sudah kita publikasikan,” kata Pengendali Ekosistem Hutan pada Balai Besar KSDA Papua Barat Reza Saputra dalam acara Pekan Keanekaragaman Hayati, di Jakarta, Jumat (17/5).
Ia mengungkapkan, eksplorasi tersebut telah dilakukan sejak 2022. Adapun, beberapa spesies baru ditemukan di area Cagar Alam Pulau Batanta barat, TWA Klamono, Cagar Alam Pegunungan Tambrauw Utara dan daerah penyangga Cagar Alam Pegunungan Tambrauw Selatan.
Baca juga : 85% Spesies Baru Ditemukan di Papua, BRIN: Masih Banyak yang Belum Dieksplorasi
Nantinya, spesies yang baru ditemukan akan dinamakan dengan nama masyarakat lokal atau diambil dari kata lokal Papua Barat. Hal itu dilakukan untuk pendekatan konservasi ke masyarakat. “Kalau kita menamakan spesies baru ke mereka, pengelolaan kawasan dan pendekatan kita ke masyarakat jadi lebih enak untuk dibantu mereka,” kata dia.
Selain spesies baru, Reza bersama timnya juga menemukan kembali lima spesies anggrek yang tidak pernah lagi ditemukan sejak berpuluh-puluh bahkan ratusan tahun lalu. Di antaranya Taeniophyllum maximum yang baru ditemukan kembali setelah 107 tahun, Dendrobium azureum yang baru ditemukan kembali setelah 78 tahun, Didymoplexis torricellensis yang baru ditemukan kembali setelah 114 tahun, Crepidium productum yang baru ditemukan kembali setelah 110 tahun dan Taeniophyllum conoceras yang baru ditemukan kembali setelah 106 tahun.
“Yang menarik bagi saya ialah Didymoplexis torricellensis. Ini anggrek hantu yang ditemukan pada tahun 1909 dan hanya sekali dikoleksi tahun itu dan belum pernah ditemukan lagi. Itu dikoleksi di Papua Nugini dan saya temukan ini di Papua Barat,” beber Reza.
Baca juga : Gandititan Cavocaudatus, Spesies Dinosaurus Baru dari Tiongkok
“ Jadi dia rediscovery setelah 114 tahun gak ditemukan,, sekaligus new record juga untuk Indonesia. Spesimen type untuk anggrek hantu ini juga sudah rusak di Berlin. Sekaligus ini bisa menjadi spesimen penting,” imbuhnya.
Reza yang telah melakukan eksplorasi anggrek sejak 2016 mengungkapkan, pendataan spesies anggrek menjadi sangat penting untuk melakukan konservasi di Indonesia. Seperti diketahui, anggrek merupakan tumbuhan dengan diversitas tertinggi di Indonesia.
Ada sebanyak 3.820 spesies dan tertinggi ada di Kalimantan dan Papua. Sejauh ini, ada sebanyak 1.467 spesies di Kalimantan, 700 spesies di Sulawesi, 432 spesies di Maluku, 297 spesies di Nusa Tenggara, 784 spesies di Jawa, 1.231 di Sumatra dan 1.336 spesies di Papua.
“Ia menyatakan, selain eksplorasi, penginputan data ke IUCN juga menjadi penting untuk penelitian lebih lanjut. ”Banyak yang publikasi jenis baru dan melakukan asesmen awal, tapi jarang yang melakukan submit ke IUCN. Padahal ini sangat penting. Salah satu yang saya submit ialah anggrek Moi di Papua yang kini masuk dalam critically endangered pertama di Papua Barat karena lokasinya sempit dan banyak pembangunan di sana,” pungkas dia.
(Z-9)
Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq hadir langsung di SMAN 1 Manokwari, Papua Barat, untuk menjadi pembina upacara peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2025, Selasa (25/11).
Penemuan kasus baru Tuberkulosis (TBC) di daerah itu hingga Juli 2025 mencapai 550 kasus, bahkan ada pasien yang sudah menunjukkan resisten obat.
Festival ini menampilkan berbagai atraksi budaya seperti tarian tradisional, musik daerah, dan pameran kerajinan tangan, serta bazar Ekraft UMKM.
Masyarakat Papua Barat mendatangi kantor KPK dan Kejagung untuk melakukan klarifikasi dan memberikan informasi hasil investigasi terkait Gubernur Papua Barat Dominggus Madacan.
BENCANA tanah longsor dan banjir bandang Pegunungan Arfak, tepatnya di Kampung Jim, Distrik Catubouw, Papua Barat menelan belasan korban jiwa.
Jumlah keseluruhan korban dalam peristiwa itu sebanyak 24 orang, terdiri atas lima orang selamat, 16 korban meninggal dunia, sedangkan tiga korban lainnya belum berhasil ditemukan.
Menurut Menteri Lingkungan Hidup, Dr. Hanif Faisol Nuroqif, di tengah ancaman kepunahan berbagai satwa endemik, penyelamatan keanekaragaman hayati adalah prioritas
Volume besar itu tentunya memperparah tekanan terhadap lahan seluas 142 hektar yang sudah menampung sampah Ibu Kota selama lebih dari tiga dekade.
Dunia saat ini tengah menghadapi tiga ancaman serius yang disebut “Triple Planetary Crisis” oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pemerintah tekankan komitmen industri jalankan EPR demi kelola sampah plastik. Target 100% pengelolaan tercapai pada 2029 lewat kolaborasi multi-pihak.
KLHK melalui Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) menyegel empat perusahaan yang diduga terlibat dalam kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
‘’Kolaborasi, termasuk dengan kerja sama dengan pihak swasta menjadi kunci untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang efektif, bernilai ekonomis dan ramah lingkungan,”
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved