Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
MERAWAT gigi anak merupakan pekerjaan wajib bagi setiap orangtua. Memastikan anak-anak menggosok gigi dengan baik dan benar merupakan tugas krusial.
Karena, walaupun gigi susu nantinya digantikan gigi tetap, kesehatannya mempengaruhi kualitas hidup anak. Menurut Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak RS Pondok Indah–Puri Indah drg Alana Aluditasari Sp KGA, ada beberapa hal yang harus diperhatikan setiap orang terkait kesehatan gigi buah hatinya.
Salah satunya dengan memastikan anak menyikat gigi minimal dua kali dalam sehari, saat pagi dan malam hari. Waktu menggosok gigi menjadi krusial, sebab sisa makanan yang menumpuk di mulut harus dibersihkan sebelum tidur. Jika tidak, bakteri akan lebih mudah menyerang gigi anak.
Baca juga : Orangtua Diingatkan Ajak Anak Secara Rutin ke Dokter Gigi
“Sore kalau mandi sore mau sikat, boleh. Tapi malamnya jangan lupa. Jadi yang utama justru malam,” ucap Alana dalam sebuah diskusi soal kesehatan gigi dan mulut anak pada Senin (18/3) di Jakarta.
“Kalau kita enggak sikat gigi malam paginya pasti mulutnya asam, nah sisa makanan kan ngumpul di situ tuh, nanti bakterinya senang, bikin giginya jadi gampang berlubang,” tambahnya.
Tak hanya waktu yang harus diperhatikan, takaran pasta gigi juga harus disesuaikan dengan umur anak. Alana menyebutkan pasta gigi untuk anak di bawah usia tiga tahun harus lebih sedikit. Ukuran termudahnya, jelas Alana, adalah sebesar satu butir beras.
Baca juga : Menyikat Gigi yang Benar Bisa Cegah Karies pada Anak
“Jangan dipikir biar bersih, banyak aja deh, enggak begitu,” ucapnya.
Alana menjelaskan, takaran ditambahkan ketika anak sudah di atas usia tiga tahun. “Di atas tiga tahun dibanyakin, masih tetap pasta gigi anak-anak, tapi diperbanyak. Biasanya sebesar ukuran kacang polong, sebesar itu.”
Penggunaan pasta gigi yang memiliki kandungan fluoride, kata Alana juga tak kalah penting. Da menceritakan masalah salah satu pasiennya yang berusia tiga tahun. Giginya nampak bagus dan putih, tetapi Alana menemukan lubang di gigi anak tersebut.
Baca juga : Ini Saat yang Tepat Mengenalkan Menyikat Gigi pada Anak
Ketika ditanyakan kepada orangtua, Alana menemukan fakta bahwa pasien tersebut menggunakan pasta gigi yang tidak berfluoride. Sebab orang tuanya takut sang anak menelan pasta gigi.
“Ibarat fluoride itu adalah makanan utamanya gigi. Kalau biar badan kita kuat kita makan makanan, kalau si gigi (makanannya) fluoride,” jelas Alana.
Selain tentang pasta gigi, Alana juga mengungkap bahwa anak baru boleh sikat gigi secara mandiri di atas usia 7 tahun. Di bawah itu, orangtua masih harus mengawasi, bahkan membantu anak menggosok gigi karena cenderung belum bisa mempraktikannya dengan baik dan benar.
Baca juga : Orangtua Diimbau Ajak Anak Periksa Gigi dan Mulut Rutin Sejak Dini
“Menurut saya orangtua hebat sekali kalau masih ngikutin anaknya sikat gigi sampai anaknya besar,” tutur Alana.
Lubang di gigi, jelas Alana, berpengaruh pada kualitas hidup anak. Anak dengan gigi berlubang akan menurun nafsu makannya. Dari sana, permasalahan lain akan bermunculan.
“Apalagi di usia sekolah dia enggak nafsu makan karena sakit gigi, tenaganya menurun, lagi sekolah enggak bisa konsentrasi, kualitas hidupnya pasti menurun,” pungkas Alana.
Maka dari itu, orangtua perlu merawat kesehatan gigi anak dengan serius. Menurut Alana, peran orangtua menjaga gigi anak sebenarnya tak terlalu sulit.
“Perawatan gigi anak tidak susah, cuma perlu kesabaran orangtua,” tutupnya. (Z-6)
Aroma tidak sedap saat berpuasa dipicu oleh penurunan produksi air liur (saliva). Kondisi mulut yang kering menciptakan lingkungan yang ideal bagi bakteri untuk berkembang biak.
Gigi orang dewasa seharusnya berada dalam kondisi stabil karena didukung oleh jaringan periodontal dan tulang rahang yang kuat.
Ketiga masalah itu adalah ketidakharmonisan susunan gigi (maloklusi), gigi berlubang, serta masih rendahnya kesadaran akan perawatan gigi preventif secara rutin.
Peradangan kronis pada gigi dan gusi bukan sekadar rasa nyeri, melainkan proses biologis yang memengaruhi pembuluh darah.
Durasi dan teknik penyikatan yang tepat adalah kunci utama kesehatan gigi dan gusi yang menyeluruh.
Selain teknik pembersihan gigi, edukasi kesehatan rongga mulut juga harus mencakup aspek gaya hidup, terutama pola makan.
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved