Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA 2023, penderita HIV di Indonesia diperkirakan ada sebanyak 515.455 orang. Karenanya, butuh penanganan masif untuk terus menurunkan kasus HIV di Indonesia.
Dikatakan oleh Kepala Tim kerja HIV/AIDS Kementerian Kesehatan Endang Lukitosari, salah satu kunci dari pemutusan mata rantai HIV ialah dengan melakukan pencegahan pada ibu hamil. Pasalnya, risiko penularan HIV dari ibu hamil terjadi sekitar 20-45%.
“Namun, belum semua ibu hamil melakukan screening HIV. Dari yang discrening terdapat 0,3% positif HIV dan baru 46,3% memulai ARV,” kata Endang dalam acara Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (13/12).
Baca juga : Mengenal Komplikasi Infeksi HIV pada Sistem Saraf
Ia mengakui, masih banyak hambatan yang ditemui dalam penanganan HIV. Selain screening yang rendah, masalah stigma dan diskriminasi masih ada.
Tidak hanya stigma diskriminasi di kalangan masyrakat dan tenaga kesehaan tapi juga cukup besar stigma yang ada di dalam internal dari ODHIV.
Baca juga : Penanganan HIV dan AIDS Perlu Dilakukan Secara Bersama
“Ini menyebabkan semakin banyak yang takut untuk berobat mencari pengobatan dan masih banyak isu HIV dan belum ada obat yang mampu mempertahankan, hal-hal seperti itu menjadi hambatan untuk kita mencapai indikator dan target yang ditetapkan,” bebernya.
Problem lainnya ialah baru 40% ODHIV yang kemudian melakukan pengobatan ARV. Padahal targetnya ialah 95%.
“Hambatan terbesar adalah tidak melanjutkan pengobatan karena banyak faktor, salah satunya merasa tidak sakit, terutama di awal-awal stadium karena tidak menunjukkan gejala sakit sehingga merasa sehat, tidak lanjut atau malu kemudian juga menghentikan karena harus setiap bulan ambil obat dan lain sebagainya,” beber dia.
Padahal, ODHIV yang minum obat teratur bisa tidak menularkan lagi ke orang lain dan virusnya tidak terdeteksi lagi. Dalam waktu tiga bulan minum obat ARV, 90% virus dalam tubuh penderita HIV sudah bisa tersurpresi.
“Ini yang belum diketahui banyak pihak bahwa virus HIV bisa dikendalikan dan tidak menularkan lagi,” beber dia.
Adapun, ia menjelaskan bahwa kasus HIV, khususnya pada anak tidak berdiri sendiri. Pada anak, kasus HIV berkaitan erat dengan infeksi pada ibu hamil. Karenanya, penting untuk skrining HIV pada ibu hamil.
“Penangaan HIV pada anak membutuhkan pendekatan komperhensif seperti imunisasi, pencegahan IO, nutrisi, ARV, dan PASI,” ucap dia.
Sebenarnya, lanjut dia, keberhasilan sudah bisa kita lihat dari adanya penurunan insiden kasus baru, tapi belum sebanyak yang kita harapkan penurunannya. Pada 2010, kasus HIV di Indonesia berada di angka 48.487 kasus. Lalu pada 2020 turun menjadi 27.580 kasus dan pada 2030 diharapkan kasus menurun jadi 21.270 kasus.
“Harapannya dengan screening yang lebih masif, ada kelompok kunci dan khusus dan termasuk ibu hamil bisa menurunkan insiden kasus baru ini,” beber dia.
Adapun, Kemenkes memasang target hingga 2030 agar 95% kasus bisa dicegah, 95% ODHIV mengetahui statusnya, 95% ODHIV melakukan pengobatan, 95% virus ODHIV bisa dihilangkan oleh ARV, 95% pemutusan mata rantai penularan HIV, 95% perempuan punya akses untuk HIV dan kesehatan reproduksi serta 90% ODHIV dan orang yang berisiko mempunyai akses untuk layanan terintegrasi.
“Untuk mencapai taret tersebut butuh dukungan kebijakan kementerian/lembaga dan dukungan penemuan kasus, sosialisasi dan advokasi oleh pemerintah daerah. Itu sangat dibutuhkan.
Nurul Saadah Andriani dari Yayasan Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak mengungkapkan, perlu edukasi yang masif terkait dengan mencegah HIV/AIDS pada ibu hamil.
“Sering kali perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga dalam kondisi hamil, apakah mereka punya hak mengontrol dirinya sendiri atas organ reproduksinya dan berpikir untuk tidak menularkan kepada pihak lain dan mengontrol aktivitas seksualnya,” beber dia. (Z-5)
Laporan terbaru NCHS menunjukkan tren kenaikan kasus sifilis maternal. Kenali risiko, gejala "senyap", dan cara melindungi janin dari infeksi mematikan.
Pada 2026 cakupan intervensi diharapkan semakin luas sehingga target penurunan stunting hingga 5 persen pada 2045 dapat tercapai.
Sentuhan ini ternyata sudah bisa dirasakan oleh bayi di dalam kandungan saat kehamilan memasuki trimester kedua.
Seiring bertambahnya usia kehamilan, ukuran bayi yang semakin besar akan memberikan tekanan mekanis pada pembuluh darah di sekitar panggul.
Anemia bukan sekadar masalah kekurangan darah biasa, melainkan pemicu berbagai komplikasi serius.
Ia menjelaskan pada 1.000 hari pertama kehidupan penting untuk perkembangan anak dan BGN akan pastikan program untuk seluruh ibu hamil, ibu menyusui dan anak balita.
Kemenkes mendukung rencana revitalisasi RSUD Kota Biak agar dapat berfungsi sebagai rumah sakit rujukan setara provinsi, dengan estimasi anggaran Rp13,5 miliar.
Kemenkes mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor HK.02.02/C/445/2026 tentang Kewaspadaan Terhadap Penyakit Virus Nipah di bandara
Di Indonesia, gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi yang tidak terkoreksi masih menjadi tantangan serius.
Pada 2026 cakupan intervensi diharapkan semakin luas sehingga target penurunan stunting hingga 5 persen pada 2045 dapat tercapai.
Berikut adalah analisis mendalam mengenai perbedaan Virus Nipah dan COVID-19 berdasarkan data medis dan epidemiologi terkini.
MESKI hingga sore ini (27/1) Kemenkes memastikan nol kasus konfirmasi pada manusia, potensi penyebaran Virus Nipah di Indonesia dinilai "sangat nyata" dan tidak boleh diremehkan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved