Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
KELOMPOK usia anak dan remaja menjadi fokus yang harus diperhatikan dalam penanganan isu kesehatan jiwa.
Selain kelompok usia itu, usia rentan terdampak masalah kesehatan jiwa adalah ibu dan bayi pada1000 hari pertama kehidupan serta para pekerja usia produktif.
Persoalan itu mengemuka dalam diskusi yang diselenggarakan Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa, Selasa (14/11) di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta.
Baca juga: Gangguan Kesehatan Jiwa Beri Dampak Buruk bagi Perekonomian Nasional
Diskusi yang mengambil tema ‘Saatnya Bicara Kesehatan Jiwa’ itu digagas dalam rangka Deklarasi Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa.
Diskusi menghadirkan pembicara Dekan Fisip UI, Semiarto Aji Purwanto, dokter spesialis penyakit jiwa Tjhin Wiguna, jurnalis Kompas Elvy Rachmawati, dan presenter Metro TV Marvin Sulistio. Diskusi berpijak pada hasil studi yang dilakukan Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa pada Oktober 2023.
Deklarasi Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa dihadiri Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendi.
Pendirian Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa didasari urgensi masalah kesehatan jiwa yang semakin hari semakin memprihatinkan.
Baca juga: Cegah Stigma, Personal Growth Gelar Talkshow 'Impact the World #BreakingStigma'
Dalam deklarasinya disebutkan, Kaukus ini merupakan gerakan bersama berbasis komunitas yang akan melakukan kegiatan riset, edukasi, advokasi, aksi pencegahan dan mitigasi karena tidak ada kesehatan fisik tanpa kesehatan jiwa.
Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa diinisiasi Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, Prof. Dr. FX Mudji Sutrisno, SJ., Prof. Dr. Drs. Semiarto Aji Purwanto, M.Si., Dr. Adriana Elisabeth, Dr. RayW. Basrowi, Maria Ekowati, dan Kristin Samah.
Ditegaskan dalam deklarasi, Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa diinisiasi secara mandiri, semata-mata untuk kepentingan kemanusiaan.
Selain Kemenko PMK, Deklarasi Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa dihadiri pihak pemerintah seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, BPIP, BRIN, BKKBN.
Hadir pula perwakilan dari perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia, Universitas Podomoro, Universitas Jenderal Ahmad Yani, ILUNI, KAGAMA, organisasi sosial kemasyarakatan, Perhumas, berbagai komunitas.
Kesehatan Jiwa Harus Jadi Isu Sentral
Dalam rencana aktivitasnya, Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa akan mendorong para pihak baik pemerintah, perguruan tinggi, akademisi, praktisi, organisasi masyarakat dan komunitas, industri, media masa, serta key opinion leader untuk menjadikan kesehatan jiwa
sebagai isu sentral dan prioritas untuk membangun generasi yang sehat jiwa dan raga.
Baca juga: Kasus Bunuh Diri pada Anak Meningkat Lima Tahun Terakhir
Studi yang dilakukan Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa menyimpulkan tingkat urgensi isu kesehatan jiwa di Indonesia sangat tinggi. Studi juga menemukan 5 urgensi dan 3 esensi kesehatan jiwa di Indonesia.
Urgensi itu antara lain menyebut bahwa kesehatan jiwa berdampak multisektor karena merupakan bagian dari kondisi kesehatan yang komprehensif.
Sehat tidaknya jiwa seseorang akan mempengaruhi tingkat produktivitas dan menentukan kualitas hidup serta pencapaian generasi selanjutnya.
Tiga Esensi Kunci Masalah Kesehatan Jiwa
Tiga esensi kunci yang menjadi faktor pendorong tingkatnya urgensi masalah kesehatan jiwa adalah: (1) Adanya stigma yang luas dan masif terhadap penderita gangguan kesehatan jiwa;
(2) Lingkungan spesifik terutama pada tingkat keluarga, sekolah, dan tempat kerja yang sebagian besar tidak ramah kesehatan jiwa; dan (3) Fenomena self-diagnostic terutama terjadi di kalangan, remaja, anak sekolah, dan pekerja.
Penelitian ini menganalisis lebih jauh terkait isu prioritas yang harus menjadi fokus intervensi baik pencegahan maupun penanganan spesifik.
Terlihat bahwa masalah kesehatan jiwa di Indonesia begitu kompleksnya hingga teridentifikasi 27 isu prioritas yang harus dibenahi secara bersamaan untuk mencegah supaya dampak gangguan kesehatan jiwa tidak semakin kronis.
Baca juga: Menkes: 1 dari 10 Orang di Indonesia Idap Gangguan Kesehatan Jiwa
Dari sekian banyak matriks isu prioritas dan esensi masalah kesehatan jiwa di Indonesia, terselip beberapa komponen seperti penggunaan gawai tak terkontrol pada anak dan remaja, beban generasi sandwich, pencarian jati diri, pengaruh media sosial, serta problem emosi, perilaku dan kekerasan berbasis keluarga.
Temuan kelompok faktorial ini secara langsung mengoneksikan benturan nilai antar generasi, yang terintegrasi dengan teknologi digital dan sosial media, terhadap isu prioritas kesehatan jiwa anak muda Indonesia.
Survei eksploratif dilakukan pada 45 responeden terdiri dari pakar-pakar yaitu akademisi, psikolog, dokter spesialis, praktisi kesehatan masyarakat, organisasi masyarakat sipil, sosioantropolog/budayawan, media, dan swasta. (RO/S-4)
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Sepeda motor hasil rampokan tersebut sempat dipasarkan melalui media sosial (marketplace) sebelum akhirnya berhasil disita polisi sebagai barang bukti.
Untuk menyiasati dampak negatif FOMO, kunci utamanya justru terletak pada fondasi yang dipupuk sejak dini di lingkungan keluarga.
Meta menekankan bahwa perlindungan terhadap anak tidak harus dilakukan dengan cara yang mengekang atau memantau seluruh isi percakapan secara berlebihan.
Fenomena keinginan bunuh diri pada remaja tidak dipicu oleh penyebab tunggal, melainkan akumulasi dari berbagai faktor yang kompleks.
Upaya pencegahan bunuh diri pada remaja dinilai perlu dimulai dari penguatan “jaring pengaman” di lingkungan terdekat, terutama sekolah dan keluarga.
Agar aturan gawai dapat berjalan efektif, orangtua perlu menerapkan pola asuh yang masuk akal dan kolaboratif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved