Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA merupakan negara yang kerap dilanda bencana alam. Terkait hal itu, anak-anak menjadi kelompok rentan terhadap bencana alam karena mereka memiliki karakteristik fisiologi, anatomi dan psikologi yang berbeda dengan orang dewasa. Karenanya, anak-anak perlu dilibatkan dalam mitigasi dan persiapan menghadapi bencana.
Sayangnya, berdasarkan survei yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), baru 30% masyarakat Indonesia yang memiliki kesiapan penuh untuk menghadapi bencana.
“Padahal, mitigasi dan persiapan untuk situasi yang tidak menyenangkan ini justru harus dilakukan saat kejadian itu tidak terjadi,” kata Satgas Bencana Ikatan Dokter Indonesia (IDAI) I Nyoman Arie Purwana dalam media briefing IDAI, Rabu (20/9).
Ia mengatakan, kini berbagai lembaga seperti BNPB hingga Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memiliki berbagai program untuk persiapan menghadapi bencana. Namun, ia mempertanyakan bagaimana implementasinya di lapangan.
Baca juga: Segera Antisipasi Dampak Perubahan Iklim Cegah Bencana Alam Meluas
“Banyak sekali program seperti itu, tapi spesifik untuk anak-anak setahu saya belum banyak dilakukan. Padahal savety briefing itu sangat penting dari tingkat TK sampai SMA dan bahkan kampus,” beber dia.
Arie kemudian memberikan contoh beberapa hal yang bisa diajarkan kepada anak-anak untuk menghadapi bencana alam gempa bumi. Di antaranya mempersiapkan tas siaga bencana yang berisi kebutuhan dasar untuk dua sampai tiga hari, seperti air minum, surat penting, makanan ringan dan sebagainya.
Selain itu, saat bencana, anak juga perlu tahu yang harus dilakukan, yakni melakukan evakuasi, entah berlindung di bawah meja atau keluar lewat jalur yang aman menuju lapangan terbuka.
“Anak perlu dilatih untuk pengambilan keputusan saat bencana dan mengantisipasi bencana. Saya melihat belum banyak keluarga yang melakukan ini,” beber dia.
Baca juga: BMKG Prakirakan Wilayah Selatan Jateng Masuki Awal Masa Pancaroba
Satgas Bencana IDAI Muhammad Reza mengungkapkan, saat terjadi bencana, masyarakat semestinya tidak mengharapkan bantuan dari pemerintah terlebih dahulu. Untuk menyelamatkan diri, masyarakat harus melakukannya sendiri. Pasalnya, kitalah yang paling tahu karakteristik wilayah kita tinggal.
Saat terjadi bencana, anak-anak kemungkinan akan panik dan menangis. Karenanya, orang tua harus siap untuk menghadapi dan mengantisipasi itu.
“Jadi bencana memang sering berdampak pada masyarakat yang edukasinya menengah ke bawah. Kelemahan Indonesia ini program pendidikan basic life support-nya belum jadi kewajiban. Sehingga IDAI turut andil di sini, untuk menyiapkan modul ke sekolah-sekolah agar anak-anak siap. Sehingga akan jauh lebih baik penanganannya,” pungkas dia. (Z-6)
Mengingat usia buah hatinya yang masih sangat kecil, Nikita Willy lebih fokus pada pengenalan suasana dan nilai-nilai spiritual ketimbang praktik fisik berpuasa.
Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan isu sektoral semata, melainkan persoalan kebangsaan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Perubahan iklim global kini menjadi realitas ilmiah yang tidak terbantahkan dan berdampak langsung pada meningkatnya risiko bencana di berbagai wilayah, termasuk Sumatra.
DPR minta pemerintah prioritaskan pencegahan dan mitigasi bencana untuk kurangi kerugian ekonomi yang terus berulang di Indonesia.
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyoroti masih minimnya anggaran mitigasi bencana di Indonesia, di tengah meningkatnya ancaman bencana alam dan kerentanan wilayah.
BMKG menyepakati bahwa kemampuan lingkungan dalam merespons air hujan yang jatuh menjadi faktor penting terjadi atau tidak terjadinya banjir.
Jepang telah menjadikan geosains sebagai basis pengambilan keputusan tertinggi.
Korban merupakan warga Penjaringan, Jakarta Utara, yang sedang mengemudikan kendaraan bernomor polisi B 2148 BOK.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved