Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA merupakan negara yang kerap dilanda bencana alam. Terkait hal itu, anak-anak menjadi kelompok rentan terhadap bencana alam karena mereka memiliki karakteristik fisiologi, anatomi dan psikologi yang berbeda dengan orang dewasa. Karenanya, anak-anak perlu dilibatkan dalam mitigasi dan persiapan menghadapi bencana.
Sayangnya, berdasarkan survei yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), baru 30% masyarakat Indonesia yang memiliki kesiapan penuh untuk menghadapi bencana.
“Padahal, mitigasi dan persiapan untuk situasi yang tidak menyenangkan ini justru harus dilakukan saat kejadian itu tidak terjadi,” kata Satgas Bencana Ikatan Dokter Indonesia (IDAI) I Nyoman Arie Purwana dalam media briefing IDAI, Rabu (20/9).
Ia mengatakan, kini berbagai lembaga seperti BNPB hingga Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memiliki berbagai program untuk persiapan menghadapi bencana. Namun, ia mempertanyakan bagaimana implementasinya di lapangan.
Baca juga: Segera Antisipasi Dampak Perubahan Iklim Cegah Bencana Alam Meluas
“Banyak sekali program seperti itu, tapi spesifik untuk anak-anak setahu saya belum banyak dilakukan. Padahal savety briefing itu sangat penting dari tingkat TK sampai SMA dan bahkan kampus,” beber dia.
Arie kemudian memberikan contoh beberapa hal yang bisa diajarkan kepada anak-anak untuk menghadapi bencana alam gempa bumi. Di antaranya mempersiapkan tas siaga bencana yang berisi kebutuhan dasar untuk dua sampai tiga hari, seperti air minum, surat penting, makanan ringan dan sebagainya.
Selain itu, saat bencana, anak juga perlu tahu yang harus dilakukan, yakni melakukan evakuasi, entah berlindung di bawah meja atau keluar lewat jalur yang aman menuju lapangan terbuka.
“Anak perlu dilatih untuk pengambilan keputusan saat bencana dan mengantisipasi bencana. Saya melihat belum banyak keluarga yang melakukan ini,” beber dia.
Baca juga: BMKG Prakirakan Wilayah Selatan Jateng Masuki Awal Masa Pancaroba
Satgas Bencana IDAI Muhammad Reza mengungkapkan, saat terjadi bencana, masyarakat semestinya tidak mengharapkan bantuan dari pemerintah terlebih dahulu. Untuk menyelamatkan diri, masyarakat harus melakukannya sendiri. Pasalnya, kitalah yang paling tahu karakteristik wilayah kita tinggal.
Saat terjadi bencana, anak-anak kemungkinan akan panik dan menangis. Karenanya, orang tua harus siap untuk menghadapi dan mengantisipasi itu.
“Jadi bencana memang sering berdampak pada masyarakat yang edukasinya menengah ke bawah. Kelemahan Indonesia ini program pendidikan basic life support-nya belum jadi kewajiban. Sehingga IDAI turut andil di sini, untuk menyiapkan modul ke sekolah-sekolah agar anak-anak siap. Sehingga akan jauh lebih baik penanganannya,” pungkas dia. (Z-6)
Persepsi ini lahir dari cara pandang lama yang mengabaikan prinsip gizi seimbang. Padahal ukuran kesehatan tidak bisa hanya dilihat dari tampilan fisik semata.
Paparan gawai pada fase krusial pertumbuhan (usia 5 hingga 15 tahun) berisiko memicu gangguan tumbuh kembang yang menetap hingga dewasa.
Skrining pendengaran pada anak sejak dini menjadi kunci vital dalam menjaga kualitas hidup dan fungsi komunikasi buah hati.
Fungsi pendengaran memiliki kaitan erat dengan kemampuan bicara anak.
Orangtua diimbau untuk tidak membawa anak ke tempat yang terlalu padat guna meminimalisir risiko infeksi.
Kunci utama keberhasilan aturan pembatasan gawai bukan hanya pada larangan, melainkan pada keteladanan orangtua sebagai role model.
Pemprov DKI mitigasi risiko di TPST Bantargebang pascalongsor dan salurkan santunan BPJS Ketenagakerjaan ratusan juta bagi ahli waris serta beasiswa anak korban.
Pelayanan yang diberikan harus sesuai dengan harapan publik.
BADAN Penanggulangan bencana daerah (BPBD) Jawa Timur melakukan i pengecekan kondisi peralatan Early Warning System (EWS) yang tersebar di berbagai daerah di Jatim
Perubahan iklim global kini menjadi realitas ilmiah yang tidak terbantahkan dan berdampak langsung pada meningkatnya risiko bencana di berbagai wilayah, termasuk Sumatra.
DPR minta pemerintah prioritaskan pencegahan dan mitigasi bencana untuk kurangi kerugian ekonomi yang terus berulang di Indonesia.
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyoroti masih minimnya anggaran mitigasi bencana di Indonesia, di tengah meningkatnya ancaman bencana alam dan kerentanan wilayah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved