Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Periset Iklim dan Atmosfer dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Eddy Hermawan mengakui bahwa upaya modifikasi cuaca untuk mengatasi polusi udara di DKI Jakarta belum maksimal. Itu terjadi lantaran kondisi awan yang belum matang dan durasi modifikasi yang singkat.
"Belum tepat untuk penyemaian baik dari segi awan maupun arah. Kecepatan angin juga tidak mendukung," ujar Eddy di Jakarta, Rabu (30/8).
Peneliti Ahli Utama itu mengungkapkan hujan yang mengguyur Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi selama beberapa hari terakhir bukan hasil dari modifikasi cuaca. HUjan itu dipicu oleh Siklon Tropis Saola yang berada di Filipina.
Baca juga: Inilah Dampak Berolahraga di Luar Rumah Saat Kondisi Udara Buruk
Siklon Tropis Saola memiliki kecepatan angin maksimum sebesar 85 knot atau setara 155 kilometer per jam dengan tekanan udara minimum sebesar 955 miliar.
"Badai itu menarik awan dan uap air dari berbagai tempat dengan cepat, salah satunya dari perairan selatan Pulau Jawa," tuturnya.
Baca juga: Demi Kurangi Polusi, IESR Setuju Pertalite Dihapuskan
Eddy juga menyoroti upaya pemerintah yang menyemprotkan air dari gedung-gedung tinggi untuk mencuci udara agar kadar polusi turun. Menurut dia, cara itu bisa dicoba karena tidak ada lagi solusi instan untuk mengatasi polusi udara di Jakarta.
"Kalau menunggu Jakarta diguyur hujan, kita tunggu monsun Asia mulai masuk atau kapan Indian Ocean Dipole (IDO) itu mulai mendekati fase netral," imbuh Eddy.
Fenomena osilasi suhu air permukaan laut atau Dipol Samudra Hindia bergerak ke posisi netral baru akan terjadi pada akhir Desember, Januari, dan Februari 2024.
Edy meyakini dampak El Nino masih cukup kuat terasa di Indonesia bahkan hingga Maret, April, dan Mei 2024.
"Ini yang perlu kita waspadai. Memang sifat El Nino kali ini tidak kuat, tetapi durasinya cukup lama sekitar 9-12 bulan," tandasnya. (Z-11)
Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta Ali Lubis mengatakan, tingginya tingkat polusi udara di Jakarta membuat kesehatan masyarakat terganggu. Sekaligus menurunkan kualitas hidup warga.
Kemudian ada teknologi sensor supaya tahu kapan zona merah. Selain itu, ada truk embun sudah dilakukan di kota-kota Tiongkok.
Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya polusi udara merupakan langkah krusial dalam menekan dampak kesehatan yang ditimbulkan.
BMKG mengungkapkan, berdasarkan hasil pemantauan, dalam siklus harian, konsentrasi PM2,5 tertinggi di wilayah DKI Jakarta ialah selepas malam hari hingga menjelang pagi hari.
Kualitas udara di Jakarta, Senin (14/10) pagi masuk urutan ke delapan sebagai kota dengan udara terburuk di dunia.
POLUSI di DKI Jakarta menimbulkan dampak kesehatan dan kerugian yang besar bagi masyarakat.
PRESIDEN Prabowo Subianto menambah dana riset pada 2026 hingga Rp12 triliun. Hal itu disampaikan saat pertemuan dengan 1.200 guru besar, dekan, dan rektor, presiden minta kerja sama dengan BRIN
Kerusakan padang lamun di pesisir Jawa dan sebagian Sumatra berpotensi menjadi salah satu sumber emisi karbon tersembunyi terbesar di Indonesia.
Kepala BRIN Arif Satria menyatakan kesiapan riset dan inovasi Giant Sea Wall untuk mengatasi banjir rob dan penurunan tanah di Pantura Jawa.
Kerja sama dengan BRIN disebut akan menghadirkan teknologi pemeliharaan beras hasil karya dalam negeri.
Proyeksi hingga 2040 menunjukkan Sumatera menjadi wilayah paling rawan terhadap cuaca ekstrem.
Keberadaan Arsinum sangat membantu warga yang kesulitan memperoleh air bersih dan air minum setelah bencana.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved