Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis anak dan Sekretaris Satgas remaja Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Angga Wirahmadi mengatakan remaja yang sudah telanjur terpapar rokok dapat diintervensi dengan dukungan berbasis sekolah agar tidak menjadi perokok aktif.
"Ternyata program pencegahan merokok yang paling efektif adalah program pencegahan berbasis sekolah. Dan provider program yang paling berhasil untuk mengubah persepsi remaja tentang merokok adalah guru atau edukator," ucap Angga, dikutip Senin (5/6).
Ia mengatakan, sejatinya, ada tiga program yang bisa diimplementasikan untuk mencegah remaja merokok yaitu berbasis keluarga, sekolah, dan juga berbasis internet.
Baca juga: Indonesia Masih Setengah Hati Kendalikan Rokok
Dokter di RS Hermina Jatinegara itu mengatakan prinsip yang disarankan untuk pencegahan berbasis sekolah adalah dengan social influence theory, yaitu mengajarkan tentang kemampuan remaja untuk menolak ajakan merokok, dan social competence yaitu meningkatkan kompetensi sosial, keterampilan, keahlian, kemampuan remaja secara umum sehingga bisa jauh dari keinginan merokok.
Program pencegahan merokok di sekolah bisa dilakukan dengan larangan merokok di area sekolah serta tidak mempromosikan rokok dalam kegiatan sekolah.
Memasang poster bahaya merokok dan bekerja sama dengan dinas kesehatan untuk sosialisasi bahaya merokok juga perlu dilakukan sehingga sekolah bisa mendapat predikat Kawasan Tanpa Rokok.
Baca juga: Waspada! Menghirup Asap Rokok Memicu Kanker Paru-Paru
Guru juga bisa sangat membantu dalam menghentikan adiksi merokok pada remaja dengan memberi kesempatan pada remaja, ataupun memunculkan potensi minat bakat dan perkumpulan remaja di sekolah, sehingga remaja bisa fokus pada aktivitas mereka dan lebih mudah untuk berhenti.
Selain berbasis sekolah, pencegahan remaja yang kecanduan merokok juga bisa dilakukan dengan basis keluarga. Hal yang harus didahulukan adalah orangtua memberi contoh untuk menghentikan kebiasaan merokok.
"Orangtua melarang, jangan membiarkan anak merokok. Karena ketika orangtua membiarkan anak merokok, remaja mengatakan hal itu hal yang biasa. Dan arahkan ke remaja untuk mencari bantuan terkait menghentikan merokok," tambah Angga.
Sementara pencegahan berbasis internet bisa dilakukan dengan larangan dari pemerintah terkait konten merokok di media sosial atau iklan.
Dokter yang menamatkan pendidikan di Universitas Indonesia itu mengatakan ada empat tahapan adiksi merokok pada remaja yaitu tahap preparation, saat remaja melihat merokok sebagai kegiatan yang menyenangkan dan pereda stres.
Biasanya remaja melihat kegiatan tersebut dari orang terdekatnya seperti ayah atau saudara maupun paparan media sosial dan iklan.
Tahap kedua adalah initiation yaitu ketika remaja mulai mencoba merokok karena rasa ingin tahu dan ingin tampil keren seperti teman-teman sebayanya yang merokok.
Pada tahap ini, remaja biasanya merokok pada waktu tertentu dan tidak rutin misalnya setelah makan atau jika sedang berkumpul bersama teman.
Setelah sudah merasa rokok menjadi sarana penghilang stres, remaja akan masuk ke tahap ketiga yaitu becoming a smoker, saat mereka sudah merokok minimal 4 batang sehari.
Dan, tahap terakhir adalah sudah menjadi perokok aktif yang bisa menghabiskan satu bungkus rokok atau lebih yang disebut tahap maintenance of smoking.
"Biasanya semakin hari jumlah rokok yang dikonsumsi semakin bertambah. Jadi dari 4 batang sampai akhirnya 1 bungkus, lalu mungkin menjadi lebih. Tahap yang terakhir adalah maintenance of smoking, atau sudah menjadi perokok yang setia, perokok yang aktif, yang sudah kecanduan," imbuh Angga.
Namun di samping itu, Angga mengatakan nyatanya keinginan remaja untuk berhenti merokok juga cukup tinggi. Dari data Adolescent Health Profile tahun 2021, sebesar 68% remaja perempuan usia 13-15 tahun ingin mencoba berhenti merokok dan 81% remaja laki-laki ingin melakukan hal yang sama.
"Namun, mereka biasanya jarang meminta bantuan orang lain untuk berhenti merokok. Padahal bantuan itu sangat diperlukan. Sehingga remaja mengatakan bahwa rasanya sulit untuk berhenti merokok," kata Angga.
Hal yang bisa dilakukan untuk mendukung remaja berhenti merokok adalah dengan menghindari lingkungan yang dekat dengan merokok, dan mengarahkan remaja tersebut untuk melakukan kegiatan positif.
Remaja juga perlu menghindari pengaruh untuk merokok dengan menghindari teman-teman yang merokok, meyakini bahwa merokok bukan sarana pergaulan, dan jangan malu untuk menolak merokok.
"Prestasi kita ditingkatkan, contohnya di bidang olahraga, di bidang minat, hobi, ngaji, dan yang lain-lain," ungkap dia.
Terapi dengan tenaga kesehatan juga bisa dilakukan untuk mengatasi kecanduan merokok pada remaja dengan melakukan terapi psikososial seperti konseling motivasi dan terapi farmakologis dengan obat-obatan atau terapi pengganti nikotin. (Ant/Z-1)
Psikolog Michelle Brigitta membagikan tips mengatasi post holiday blues pada anak, mulai dari validasi emosi hingga mengatur ulang rutinitas harian.
Medcom Goes to School akan hadir setidaknya 3-4 kali sepanjang 2026 dengan menyasar sekolah-sekolah di Jabodetabek.
Kesempatan halalbihalal setelah menjalankan ibadah di bulan Ramadan juga menjadi ajang untuk saling memaafkan dan kembali ke fitrah
Dia juga menambahkan bahwa pemerintah daerah harus mampu mengoptimalkan penggunaan kendaraan umum agar dapat dimanfaatkan oleh para siswa.
JIKA bencana ialah guru, ia mengajar dengan cara paling kejam, melalui tangis dan nyawa yang melayang.
Pemerintah memastikan sekolah tetap berlangsung tatap muka di tengah krisis global, dengan fokus pada capaian akademik dan penguatan pendidikan karakter siswa.
Psikolog ingatkan bahaya algoritma media sosial yang picu ketergantungan dan perilaku konsumtif pada remaja. Simak cara mengatasinya di sini.
Dalam psikologi perkembangan, remaja sedang berada pada fase meningkatnya kebutuhan otonomi.
Salah satu fenomena yang paling sering muncul dari penggunaan media sosial adalah kecenderungan remaja untuk melakukan perbandingan sosial secara ekstrem.
Psikolog klinis ungkap alasan remaja dan Generasi Alpha sangat terikat dengan media sosial. Ternyata terkait pencarian identitas dan hormon dopamin.
MENGHADAPI dinamika era digital di tahun 2026, kecemasan orang tua terhadap dampak negatif internet sering kali berujung pada kebijakan larangan total media sosial bagi remaja.
Korban diduga hanyut saat hendak menyeberangi sungai untuk pulang ke rumah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved