Headline
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PENYAKIT degeneratif adalah sebuah kondisi kesehatan organ atau jaringan yang keadaannya terus menurun seiring waktu. Kondisi ini diakibatkan oleh perubahan sel-sel tubuh yang akhirnya memengaruhi fungsi organ secara menyeluruh.
Salah satu penyakit degeneratif yang paling umum adalah proses penuaan. Seiring bertambahnya usia, fungsi jaringan dan organ tubuh akan semakin mengalami penurunan. Itulah salah satu alasan orang lanjut usia memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami berbagai jenis penyakit degeneratif dibanding dengan orang yang lebih muda.
Jenis-jenis Penyakit Degeneratif
Baca juga: Teknologi Kesehatan Terintegrasi Jadi Solusi Indikasi Awal Penyakit Degeneratif
1.Penyakit kardiovakuler
Penyakit kardiovakuler adalah penyakit yang menyerang jantung dan pembuluh darah di sekitarnya. Bertambahnya usia dapat menempatkan seseorang pada risiko penyempitan pembuluh darah dan otot jantung yang melemah atau menebal.
Gejala penyakit kardiovakuler pada lansia
Baca juga: Konsep Karnus Mengatasi Berbagai Penyakit Degeneratif
-Lansia dengan penyakit jantung sangat umum mengalami gejala nyeri dada, sesak napas, pusing, denyut jantung tidak beraturan, pembengkakan pada bagian tubuh, dan pingsan.
-Bagi lansia yang mengidap hipertensi biasanya tidak menunjukkan gejala. Kemungkinan sakit kepala, sesak napas, dan mimisan bisa saja terjadi jika hipertensi sudah bertambah parah.
-Stroke yang menyerang lansia menimbulkan gejala sakit kepala dan kelumpuhan atau mati rasa pada wajah, lengan, dan tungkai sehingga membuat mereka kesulitan berbicara dan berjalan.
2.Sistem endokrin yang bermasalah
Sistem endokrin Anda mencakup delapan kelenjar utama di seluruh tubuh Anda, seperti kelenjar tiroid, kelenjar pituitari, kelenjar adrenal, dan pankreas. Sistem ini mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, metabolisme, fungsi seksual, dan suasana hati.
Gejala masalah endokrin pada lansia:
-Diabetes melitus yang menyerang lansia menyebabkan gejala terus-menerus haus, sering buang air kecil, kelelahan, pandangan kabur, dan mudah infeksi tapi sulit untuk sembuh dari luka.
-Malnutrisi pada lansia menimbulkan gejala badan kurus atau kegemukan, nafsu makan buruk, sering mengalami sembelit, dan tubuh kelelahan sepanjang hari.
3.Neoplasma
Neoplasma adalah sebutan lain untuk tumor, yakni massa atau benjolan yang tumbuh akibat sel-sel membelah dan tumbuh secara berlebihan di dalam tubuh. Neoplasma (tumor) bisa bersifat jinak atau ganas. Tumpor jinak berarti bukan kanker, sedangkan kanker ganas dapat menjadi kanker karena perkembangan sel tidak bisa dikendalikan, menyebar, dan merusak jaringan sehat di sekitarnya.
Gejala neoplasma (tumor) pada lansia:
Gejala tumor jinak pada lansia sama dengan usia lain, seperti menimbulkan benjolan padat yang bisa terlihat oleh mata atau tidak jika terjadi di dalam tubuh. Pada kasus tumor ganas, ukurannya akan semakin membesar, bahkan bisa mengubah bentuk atau ukuran jaringan/organ di dekatnya. Selain itu, akan ada gejala lain yang menyertai seperti kelelahan, pembengkakan, perdarahan, perubahan kulit, dan gejala lainnya.
4.Osteoporosis
Osteoporosis adalah penyakit degeneratif yang menandakan pengeroposan tulang karena tulang semakin lemah dan rapuh. Kondisi ini umumnya membuat lansia bertubuh bungkuk atau rentan mengalami patah tulang pada tulang pinggul, pergelangan tangan, atau tulang belakang.
Gejala osteoporosis pada lansia:
Gejala osteoporosis yang menyerang lansia umumnya berupa nyeri punggung, postur tubuh membungkuk, tinggi badan berkurang, dan rentan mengalami patah tulang.
5.Obesitas
Obesitas adalah kondisi yang menandakan berat badan berlebihan. Meski dapat menyerang segala usia, lansia yang paling rentan mengalaminya. Seiring bertambahnya usia, perubahan hormonal dan gaya hidup yang kurang aktif meningkatkan risiko obesitas. Selain itu, jumlah otot di tubuh Anda cenderung menurun seiring bertambahnya usia karena penurunan metabolisme. Kondisi ini membuat lansia kesulitan menjaga berat badan ideal.
Gejala obesitas pada lansia:
Gejala khas dari obesitas adalah berat badan yang berlebihan. Cara mengetahui indeks massa tubuh adalah menghitung berat badan dalam kilogram dibagi dengan tinggi badan dalam meter (kg/m2). Jika hasilnya 30 – 39,9 maka Anda mengalami obesitas, sedangkan > 40 menandakan obesitas sudah ekstrem. (Z-10)
Penderita diabetes umumnya menunjukkan empat gejala utama yang saling berkaitan, atau yang sering disebut sebagai gejala klasik 4P.
Stimulasi 40Hz setiap hari mampu menjaga fungsi kognitif pasien, bahkan menurunkan biomarker utama penyakit Alzheimer.
Memasuki tahun 2026, data menunjukkan pergeseran tren medis yang mengkhawatirkan: lonjakan signifikan kasus diabetes tipe 2 pada kelompok usia 20 hingga 30 tahun (Gen Z).
Perkembangan janin yang tidak sempurna hingga memicu PJB dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko dari sisi kesehatan orang tua maupun lingkungan.
Stroke yang dipicu oleh fibrilasi atrium cenderung lebih berat dibandingkan stroke pada umumnya.
Keempat penyakit tersebut adalah Avian Influenza (flu burung), Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV), Super Flu, dan infeksi virus Nipah.
Studi terbaru Yale School of Medicine mengungkap bahaya tersembunyi COMISA. Kombinasi sulit tidur dan henti napas saat tidur memicu kerusakan jantung permanen.
Minyak sawit sering dianggap berbahaya. Simak fakta ilmiah tentang komposisi lemak, risiko kanker, obesitas, dan kesehatan jantung yang jarang diketahui publik.
Penyakit Tidak Menular (PTM) kini mengintai usia produktif. Kenali gejala, data terbaru 2026, dan panduan deteksi dini untuk menjaga produktivitas masa depan.
Teknologi AI di 2026 mampu memprediksi risiko serangan jantung bertahun-tahun lebih awal melalui analisis EKG dan CT Scan. Simak ulasan lengkapnya.
Penelitian terbaru mengungkap kehilangan kromosom Y pada pria lanjut usia berkaitan dengan risiko penyakit jantung, kanker, hingga Alzheimer.
Penyakit jantung tak selalu ditandai nyeri dada hebat. Kenali 7 gejala tersembunyi seperti mual, mudah lelah, hingga batuk berkepanjangan agar bisa deteksi dini dan cegah risiko fatal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved