Headline
Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.
Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.
Kumpulan Berita DPR RI
FAHRIZAL Nasution, lelaki berusia 27 tahun yang merupakan bungsu dari tiga bersaudara asal Aceh, telah berhasil meraih beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) batch V yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Ia kini tengah menempuh pendidikan S3 Doktor Ilmu Teknik, Bidang Teknik Kimia di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).
Mahasiswa yang bermimpi menjadi seorang peneliti andal yang dapat berkontribusi bagi masyarakat itu mengutarakan, perjuangannya untuk bisa meraih beasiswa PMDSU tidaklah sebentar. Ia bahkan sudah memantau program akselerasi pendidikan S2-S3 tersebut jauh sebelum lulus pendidikan sarjana (S1) jurusan Teknik Kimia di Universitas Syiah Kuala.
Sayang, ketika lulus S1 pada 2018, Pemerintah belum membuka kembali program beasiswa PMDSU yang disasarnya itu. Tak lantas berhenti berharap, pada 2019, Ia pun memperoleh informasi tentang dibukanya program beasiswa PMDSU batch V, dan langsung memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya yang saat itu sebagai pegawai swasta di Jakarta.
“Saat itu juga saya memutuskan untuk resign dan memfokuskan diri untuk memperoleh beasiswa ini dan berharap penuh dapat menjadi bagian dari program PMDSU. Selanjutnya, setelah mengikuti persyaratan dan beberapa rangkaian tes, pada pengumuman yang dilampirkan saya terpilih menjadi salah satu awardee pada program PMDSU dengan promotor Prof. Husni Husin,” papar putra dari pasangan Muslim Nasution dan Lisma Herawati Harahap itu.
Seraya mengenang, Fahrizal mengungkapkan alasan memilih Prof. Dr Husni Husin sebagai promotor lantaran melihat keaktifannya dalam penelitian. Hal itu diharapkan akan semakin memotivasi dirinya yang juga dibimbing oleh promotor lainnya yaitu Prof. Dr. Mahidin dari Universitas Syiah Kuala serta Prof. Dr. Faisal Abnisa dari King Abdulaziz University, Saudi Arabia.
“Setelah mengidentifikasi dengan minat dan bidang yang menarik perhatian saya, akhirnya saya memantapkan diri untuk memilih bidang Teknik Kimia yang berfokus pada Teknik Reaksi dan Katalis untuk aplikasinya di Konversi Energi dari limbah plastik. Sebagaimana diketahui, pengembangan energi dari limbah menjadi topik hangat yang terus menarik perhatian banyak peneliti dan menjadikan bidang ini menantang untuk dilakukan,” kata Fahrizal.
Sepanjang memasuki semester ketujuh PMDSU, lulusan terbaik di Unsyiah periode 2021 (Magister Teknik Kimia) dan paper sebagai first-author telah publish pada jurnal internasional bereputasi, Energy Conversion and Management (Q1) dengan Impact Factor 11.52 itu merasa belum menemui tantangan yang berarti dalam mengikuti perkuliahan secara akademik.
Hingga di akhir 2019 saat era pandemi Covid-19, berbagai kegiatan penting di laboratorium seperti penelitian, pengujian, dan hal teknis lainnya menjadi sulit dilakukan karena protokol yang sangat ketat.
Baca juga : 18 Karya Pemenang Kompetisi IdenTIK Akan Bersaing Di Tingkat ASEAN
Namun jika ditinjau lebih dalam, ungkap Fahrizal, tantangan terbesar baru dirasakan saat menempuh pendidikan S3 adalah ketika harus melakukan observasi (novelty) dari penelitian yang dituangkan ke manuskrip, terutama jika ingin dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi dengan Impact Factor (IF) yang tinggi.
Selain itu, tantangan lainnya yakni harus dapat terus fokus dan memprioritaskan pendidikan mulai dari semester pertama sampai ketiga di program PMDSU sesuai syarat dan ketentuan agar dapat berlanjut ke pendidikan S3. Hal itu karena sebagai awardee PMDSU, Fahrizal memahami bahwa Ia telah berkomitmen untuk menyelesaikan pendidikan di program PMDSU S2 sampai S3.
“Selama mengikuti program PMDSU, sangat banyak dukungan yang saya dapatkan secara khusus dari keluarga, promotor, dan rekan sejawat, mulai dari support moral, mental, semangat, sumber ilmu pengetahuan, sharing pengalaman, dan diskusi yang membangun. Prof. Husni Husin bahkan selalu mengajak saya untuk berkontribusi pada setiap kegiatan penelitian dan publikasi. Saya sering diikutsertakan (dibawa) ke luar negeri (Malaysia) untuk bertemu dan belajar langsung dengan Profesor ternama yang memiliki impact besar pada publikasi sehingga saya dapat memperoleh banyak ilmu yang bermanfaat secara langsung dengan beliau, dan dapat diaplikasikan dengan baik pada penelitian dan publikasi,” ungkap Fahrizal.
Sebagai penerima awardee PMDSU, Fahrizal mengaku telah mendapatkan banyak pelajaran hidup. Ia meyakini bahwa untuk mendapatkan sesuatu hal yang diinginkan maka diperlukan usaha yang cerdas dan optimal. Penolakan yang didapat sesekali bukanlah akhir melainkan awal untuk memperbaiki kekurangan diri yang juga harus disertai kesabaran hingga membuahkan hasil yang positif.
Hingga saat ini, menurutnya, beberapa karakter yang paling melekat adalah kemampuan multitasking, ketelitian, kemampuan observasi dalam melihat sesuatu hal (novelty), kemampuan penulisan, kesabaran, optimis, dan pantang menyerah.
“Untuk dapat menghasilkan publikasi yang berkualitas secara kualitatif maupun kuantitatif, selain manajemen waktu, karakter-karakter itu juga sangat diperlukan. Sedangkan, hal yang terus saya tanamkan dalam diri yaitu berani memulai maka harus bertanggung jawab untuk menyelesaikannya. Apalagi tidak semua orang akan mendapatkan kesempatan yang sama,” tegasnya.
Di masa depan, Fahrizal berharap dapat memberikan kontribusi di berbagai hal khususnya pada bidang yang ditekuni yaitu Teknik Kimia. Lebih dari itu, penelitian yang sedang ia lakukan yakni konversi limbah plastik menjadi bahan bakar (upgrading kualitas dengan penggunaan katalis proses) dapat diaplikasikan langsung dan dirasakan oleh masyarakat luas terutama dalam mengatasi mahalnya bahan bakar minyak.
Ia merasakan selama menjalani pendidikan dan penelitian telah banyak bantuan yang didapat. Program PMDSU menjadikan mahasiswa dan promotor semakin aktif dalam berkonsultasi dua arah untuk mendapatkan luaran yang maksimal. Ia pun berharap ke depan akan ada gebrakan baru seperti program split-site PMDSU dengan universitas yang ada di luar negeri.
“Melalui program PMDSU, kami tidak saja mendapatkan pengalaman akademik, tetapi juga non-akademik dalam membentuk semangat meneliti dan mendapatkan relasi baru yang positif. Saya berharap program fast-track ini menjadikan kami dapat terus secara langsung mengembangkan pengalaman penelitian pada S1 ke S2 dan S3 tanpa jeda waktu yang besar sehingga ilmu yang didapatkan berkembang secara baik,” tandas Fahrizal. (RO/OL-7)
Saksi proyek pengadaan Chromebook Kemendikbudristek akui raup untung Rp10,2 miliar dan kembalikan Rp5,1 miliar ke Kejagung dalam sidang Tipikor Jakarta.
Nadiem menyampaikan bahwa dirinya tetap siap mengikuti persidangan, meski masih menjalani perawatan medis berdasarkan rekomendasi dokter.
Menjawab pertanyaan silang dari Nadiem Anwar Makarim di persidangan, mantan Dirjen PAUD Dikdasmen Hamid Muhammad menegaskan pandangannya tentang integritas mantan atasannya tersebut.
Kejaksaan Agung (Kejagung) membeberkan review singkat atas persidangan dugaan rasuah pada pengadaan sistem Chromebook di Kemendikbudristek.
Sidang kasus dugaan korupsi di Kemendikbudristek Kembali bergulir, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (6/1).
Laman resmi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) yakni https://pip.kemendikbudristek.com/ merupakan portal informasi resmi.
Ditambah lagi cuaca ekstrem seperti angin kencang dan hujan deras masih sering menghantui kawasan provinsi di ujung barat Indonesia itu.
Perubahan jalur jelajah akibat bencana hidrometeorologis seperti banjir dan tanah longsor juga diduga kuat mengubah pola pergerakan serta habitat alami gajah.
Diduga akibat tersengat kawat yang dialiri arus listrik bertegangan tinggi. Saat ditemukan, belalai gajah masih dalam kondisi terlilit kawat listrik.
Tahun 2024 Study Abroad Aide menempatkan USK tersebut di tangga 22 persen kampus terbaik dunia kategori universitas tujuan mahasiswa internasional.
BRIN menjelaskan lubang besar di Aceh Tengah bukan fenomena sinkhole, melainkan longsoran geologi akibat batuan tufa rapuh, hujan lebat, dan faktor gempa bumi.
Seorang petani di Bener Meriah, Aceh, meninggal dunia setelah diserang kawanan gajah liar saat mencoba mengusir satwa tersebut dari kebunnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved