Sabtu 12 November 2022, 14:25 WIB

Puisi Ayah untuk Hari Ayah Nasional 12 November

Meilani Teniwut | Humaniora
Puisi Ayah untuk Hari Ayah Nasional 12 November

Antara/Str-FAhma Poetri.
Vokalis kelompok Musik Padi Fadli mengajak sang anak saat menyanyikan lagu.

 

SEBAGAI anak berbakti, ungkapan terima kasih kepada ayah dapat disampaikan lewat Puisi. Ayah ialah orang kedua yang selalu sayang dan rela berkorban apapun kepada kita setelah ibu. Ayah ialah manusia kuat yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kita.

Demi menafkahi kita sebagai anaknya, ayah rela bekerja banting tulang sepanjang hari demi keluarga kecilnya. Rela kerja keras menyekolahkan anaknya sebagai tanggung jawab pemimpin keluarga yang siap berkorban jiwa dan raga. Sungguh mulia sosok ayah tercinta.

Nah, salah satu cara memberikan ungkapan terima kasih yaitu memberikan puisi tentang ayah yang paling terbaik. Berikut puisi ayah dengan segala tema. 

Pahlawan Kesuksesanku karya Ardiyani Muninggar

Fajar telah menyapa pagiku
Kau jadikan hari mu, hari untuk pengorbanan
Pengorbanan mencari rezki, pengorbanan untuk mencari awal yang baru
Kau ajarkan aku arti perjuangan, kau ajarkan aku arti kesuksesan

Ayah mungkin tanpa mu aku tidak bisa seperti ini..
Mungkin tanpa mu aku tidak bisa berdiri di tengah-tengah impianku..
Impian untuk meraih keberhasilan
Impian untuk mencapai kemenangan…

Akulah si Telaga karya Sapardi Djoko Damono

Akulah si telaga: belayarkan di atasnya;
Berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;
Berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
Sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
Perahumu biar aku yang menjaganya

Mata Hitam karya WS Rendra

Dua mata hitam adalah mata hati yang biru
Dua mata hitam sangat kenal bahasa rindu
Rindu bukanlah milik perempuan melulu
Dan keduanya sama tahu, dan keduanya tanpa malu

Dua mata hitam terbenam di daging yang wangi
Kecantikan tanpa sutra, tanpa pelangi
Dua mata hitam adalah rumah yang temaram
Secangkir kopi sore hari dan kenangan yang terpendam

Setiap Ayah karya Alex R. Nainggolan

Di tubuh setiap ayah
Akan ada jalan pulang
Rumah yang bagai selimut

Dari kepala yang kusut
Telah ku gali-gali
Tangis yang kecut
Dan terduduk di sudut

Segala sesal yang sampai sekarang
Hanya tertunduk
Maka aku ingat ayah
Setiap percakapan
Yang abai kutafsirkan

Lalu ayah mengerubung
di setiap hari
Bahkan bertahun setelah dirinya pergi

Di setiap mata ayah
Selalu ada kegembiraan
Meski hanya sebentar
Bertemu
Atau percakapan yang biasa saja
Dengan anaknya

Di Kuburan Ayah karya Slamet Sukirnanto

Berteduh pohon kamboja berkembang
Tinggalmu yang kekal
Tak kenal lagi senyummu
Memikat hatiku

Ketika masih kanak
Bukan segunduk tanah
Kupuja. Kerna diharamkan agama
Adalah hidupmu
Mengenang di kalbu!

Kepada Bapak karya Gunoto Saparie

Ada peci putihmu tergantung di kapstok
Bertahun-tahun di sana sejak kau pergi
Namun jarum-jarum jam dinding berhenti
Dan kalender di tembok pun mendadak rontok

Ada potretmu mengabur di dekat pintu
Ada senyum tipis membayang harapan
Betapa berat rindu, bapak, tersendat di kalbu

Selalu kuingat kata-katamu tentang kehidupan
Tentang negara, agama, dan pengabdian
Kata-kata yang patah-patah, tertahan-tahan

Kami tak tahu, ternyata untuk yang penghabisan:
Ada sandalmu teronggok di ujung ranjang
Ada buku-bukumu, kitab-kitab menguning
Berjajar di rak, terserak di meja lantai
Ada yang tertinggal di hati Allah, kasihmu abadi

Ayah karya Syamsu Indra Usman

Ayah
Berilah aku sekendi air dingin
Bila datang kemarau panjang
Dalam aku menggapai cita-cita
Yang kau ikat pada tonggak
Kekerasanmu

Ayah
Berilah aku jalan untuk memilih
Jalan kebebasan untuk mendaki
Tangga yang selama ini kau belenggu
Kau tau dalam diriku mengalir darah seni
Yang haus keindahan memilih jalanku sendiri

Untukmu Ayahku karya Dina Sekar Ayu

Di keheningan malam
Datang secercah harapan
Untuk menyambut jiwamu datang
Sebercik harapan agar kau kembali pulang

Hanya sepenggal kata bijak yang bisa kutanamkan
Duduk sedeku, tangan meminta, mulut bergoyang, jatuh air mata
Tapi apalah daya
Semua harapan hilang sirna

Karena kau telah tiada
Ayahku tercinta

Ayah Terhebat karya Dinda Nursifa

Beruntungnya aku memiliki ayah sepertimu
Semua yang engkau lakukan memberikan contoh yang baik
Selalu sabar dan penyayang pada keluarganya
Berdiri paling depan untuk kebenaran

Engkau adalah ayah terhebat…
Rasanya tak pernah kau tunjukan wajah sedih
Senyum dan tawamu selalu terlihat dari bibirmu
Engkau selalu menebar kebaikan pada semua orang

Semangatmu pun tak pernah padam
Aku sayang sekali, wajah ayahku.

Pelita Hidup karya anonim

Izinkan aku tersandar di bahumu meski aku sudah tak kecil lagi
Berayun di lengan tanganmu yang kokoh
Merasakan damai hidup yang tak terganggu

Memiliki semua hal hanya dengan berada di pelukanmu
Merasakan terang dunia meski malam telah tiba
Teduh kedamaian kau sajikan

Menguatkan tangan tak bertulang untuk bangkit
Ku mohon aku selalu kecil agar kau tak menua
Desah nafasmu kembali tak terdengar berat

Detak jantung penuh semangat bagai langkah amukan kuda
Aku mohon kau tetap ada
Bersama denganku seperti hari lalu
Memeluk erat menghujani dengan kecupan penawar sakit.
(OL-14)

Baca Juga

Antara

KPI Dukung Pelaksanaan ASO Tahap II

👤Ant 🕔Rabu 30 November 2022, 23:08 WIB
Adapun wilayah-wilayah yang akan melaksanakan ASO tahap II ini antara lain Kota Bandung, Yogyakarta, Solo, Semarang dan...
Antara

Stigma Negatif Masih Melekat pada ODHIV

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Rabu 30 November 2022, 22:51 WIB
Padahal, penularan HIV bisa terjadi dengan berbagai cara. Mulai dari penggunaan jarum suntik yang tidak aman, transfusi tidak aman, hingga...
Ist

Wamenag Soroti Minimnya Riset Tentang Zakat

👤Widhoroso 🕔Rabu 30 November 2022, 20:56 WIB
Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid Sa’adi, Rabu (30/11) secara virtual membuka The 6th Indonesian Conference of Zakat (ICONZ)...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya