Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Australia Butuh Banyak Guru Bahasa Indonesia, Pemerintah Siapkan SDM

Andhika Prasetyo
25/12/2025 07:26
Australia Butuh Banyak Guru Bahasa Indonesia, Pemerintah Siapkan SDM
Ilustrasi(Anadolu)

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengungkapkan bahwa Australia saat ini membutuhkan banyak guru Bahasa Indonesia. Informasi tersebut ia peroleh ketika mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kenegaraan ke Australia beberapa waktu lalu. Menurut Brian, peluang ini terbuka lebar, namun ada persyaratan khusus yang harus dipenuhi oleh calon tenaga pengajar.

Brian menjelaskan bahwa siapa pun yang ingin mengajar Bahasa Indonesia di Australia wajib memiliki sertifikasi guru yang diakui di negara tersebut. Selain itu, kemampuan berbahasa Inggris yang kuat menjadi syarat mutlak agar mampu beradaptasi dengan sistem pendidikan setempat.

"Beberapa waktu lalu kami mendampingi rombongannya Bapak Presiden ke Australia, mereka butuhkan banyak guru Bahasa Indonesia, hanya saja memang mereka harus punya sertifikasi guru di Australia, juga tentunya kemampuan bahasa Inggris yang juga bagus," ujar Brian di Kantor Kemendikti Saintek, Jakarta Pusat, Selasa

Bersama Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Mukhtarudin, Brian menyampaikan bahwa pemerintah berkomitmen menyiapkan calon pekerja migran melalui penguatan pendidikan vokasi. Program ini akan memetakan negara tujuan sekaligus keahlian yang dibutuhkan, sehingga lulusan dapat disiapkan secara lebih terarah pada tahun terakhir perkuliahan — baik di tahun ketiga maupun keempat, sesuai karakter program studi.

"Sumber daya manusia yang disiapkan akan dibekali pelatihan khusus agar kompetitif di pasar kerja global. Salah satu fokus utama adalah penguasaan bahasa, karena selama ini faktor bahasa sering menjadi hambatan utama bagi pekerja Indonesia di luar negeri," tuturnya.

Melalui program tersebut, materi bahasa akan disesuaikan dengan negara tujuan. Misalnya, mereka yang akan bekerja di Taiwan akan mendapatkan penguatan bahasa Inggris dan Mandarin. Calon pekerja untuk Jepang akan dilatih bahasa Jepang, sementara bagi yang akan berkarier di Rusia — termasuk untuk bidang seperti juru las (welder) — akan diberikan pembelajaran bahasa Rusia.

Seluruh langkah ini menjadi dasar bagi Kemendikti Saintek dalam menandatangani nota kesepahaman (MoU) kerja sama. Dengan MoU tersebut, arah program menjadi semakin jelas. Pemerintah juga telah membentuk satuan tugas khusus yang melibatkan perguruan tinggi vokasi di seluruh Indonesia untuk memastikan persiapan berjalan terkoordinasi.

Menurut Brian, kolaborasi lintas lembaga ini diharapkan mampu melahirkan tenaga kerja terampil, berdaya saing global, dan siap mengambil peluang kerja — termasuk peluang besar sebagai guru Bahasa Indonesia di Australia. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya