Jumat 04 November 2022, 20:56 WIB

Agar Terhindar dari Pruritus pada saat Lansia

Mediaindonesia.com | Humaniora
Agar Terhindar dari Pruritus pada saat Lansia

MI/Ramdani.
Ilustrasi.

 

PEMELIHARAAN kulit harus dilakukan orang-orang sejak dini. Salah satu manfaat pemeliharaan kulit yaitu mencegah kulit gatal hingga berujung pruritus pada saat lansia.

"Jadi enggak bisa setelah tua kita rawat. Dari awal harus memilih sabun yang bagus, meskipun kulit masih lembap. Kemudian, memakai pelembap yang benar. Dipertahankan secara kontinu, tidak on and off," ujar dokter dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Perdoski) dr Yustin Sumito, SpKK.

Pruritus yang kerap dialami lansia dalam bahasa awal dikenal sebagai gatal yang didefinisikan sebagai sensasi tidak menyenangkan pada kulit sehingga menimbulkan keinginan untuk menggaruk. Secara umum, kondisi ini sebenarnya dapat dikatakan sebagai gejala dari berbagai penyakit kulit tertentu, dan tidak semua menular, tergantung dari penyakit yang mendasari. Pruritus yang menular disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau jamur.

Gejala utama pruritus selain sensasi gatal di kulit, juga dapat disertai gejala lain seperti kemerahan, tanda gores, benjolan, bintik atau lecet, kulit kering dan pecah-pecah dan bercak kasar atau bersisi. Gejala tambahan kondisi ini dapat meliputi perubahan warna kulit yang lebih terang atau lebih gelap dari kulit di sekitarnya, ruam terbentuk pada kulit yang bengkak (peradangan), benjolan besar di area kulit yang terkena dan lepuh atau benjolan berisi cairan pada kulit.

Salah satu faktor risiko pruritus yakni usia lansia atau 65 tahun ke atas. Pada kasus lansia, ada tiga proses utama terkait penuaan yang berhubungan dengan terjadinya pruritus. Pertama, hilangnya fungsi barrier atau pelindung atau pembatas kulit yang menyebabkan turunnya fungsi perbaikan pada kulit. 

Kedua yaitu immunosenescence atau penurunan kerja sistem imun atau sistem perlindungan tubuh serta ketiga yakni neuropati atau abnormalitas sistem saraf yang menyebabkan pruritus cenderung lebih sering mengalami kekambuhan. Selain karena usia, faktor risiko pruritus termasuk riwayat alergi, memiliki kondisi penyakit lain seperti eksim, psoriasis, dan diabetes; sedang hamil; ataupun mereka yang sedang menjalani dialisis. 

Menurut dia, diagnosis dan tatalaksana yang tepat sangat dibutuhkan. Deteksi dini pruritus dilakukan melalui anamnesis atau menanyakan riwayat pasien, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang secara menyeluruh.

Derajat keparahan gatal ada pada skala satu hingga 10. Bila derajat keparahan di atas enam, gatal dirasakan hingga pasien terbangun dari tidur, sudah terjadi gangguan kualitas hidup secara bermakna, sehingga tata laksana agresif dibutuhkan. Tata laksana pertama yang dilakukan yakni dengan menjaga kelembapan kulit dengan memilih sabun dan pelembap yang benar, kemudian memperhatikan durasi mandi maksimal 10 menit. 

Yustin mengingatkan, pengobatan pruritus yang benar dan tuntas tidak sesederhana memakai krim pelembap. Oleh sebab itu jika masih belum sembuh dan berlanjut dalam waktu yang terlalu lama, pengobatan dari dokter disarankan. (Ant/OL-14)

Baca Juga

dok.ist

Ganjar : Pemanfaatan Medsos Penting Bagi Pemimpin Masa Kini

👤Haryanto 🕔Senin 05 Desember 2022, 20:56 WIB
PEMANFAATAN medsos sangat penting untuk menjangkau lebih banyak masyarakat. Menurut Ganjar, medsos merupakan ruang komunikasi yang efektif...
Ist

Menteri BUMN Beri Motivasi Generasi Muda pada BEM UI Trilogy

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 05 Desember 2022, 20:34 WIB
Acara seminar, diskusi, dan pameran booth BUMN ini berlangsung selama dua hari pada 28–29 November 2022 dengan dihadiri langsung oleh...
ANTARA

Tradisi Natal di Indonesia

👤Meilani Teniwut 🕔Senin 05 Desember 2022, 19:31 WIB
Tradisi yang dirayakan di salah satu daerah di Jakarta ini, memang menjadi tradisi yang selalu dilakukan setiap tahunnya oleh warga Kampung...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya