Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis mata anak Ni Retno Setyoningrum mengatakan sangat penting untuk memeriksakan kesehatan mata usia dini guna memastikan perkembangan visual yang normal.
Menurut Retno, penglihatan yang tidak optimal pada anak dapat mempengaruhi prestasi akademik, khususnya pada anak-anak yang berada di usia sekolah.
"Bayi-bayi, anak-anak itu harus diperiksa matanya. Kadang-kadang orangtua itu baru tahu dari gurunya, malah ada yang sampai duduk di meja gurunya karena enggak kelihatan," ujar Retno, dikutip Selasa (25/10).
Baca juga: Memberi Rangsangan pada Bayi Bisa Cegah Mata Juling
Lebih lanjut, Retno mengatakan beberapa anak dilahirkan dengan masalah mata yang dapat menyebabkan perkembangan visual yang normal tidak tercapai.
Beberapa masalah mata yang sering dialami oleh anak adalah kelainan refraksi, pupil putih, mata belekan, kelopak mata turun, bola mata menonjol, dan mata juling atau strabismus.
Satu-satunya cara untuk mengetahui dengan pasti dari masalah mata yang diderita anak adalah menjalani pemeriksaan mata komprehensif rutin yang dilakukan oleh dokter mata.
"Kalau mata anak-anak ada putih-nya atau bersinar berarti ada kelainan pada mata tersebut. Kadang-kadang kakek nenek bilang kalau bersinar dibilangnya pintar, padahal ada kemungkinan adanya katarak," kata Retno.
Retno menjelaskan pemeriksaan dini pada perkembangan bola mata anak dilakukan sejak usia tiga bulan pertama kehidupan untuk mengetahui adanya gangguan yang membuat bayangan di retina buram.
Kemudian, pada usia 6 bulan, orangtua perlu memeriksakan perkembangan penglihatan dan pergerakan bola mata. Ini berguna untuk mendeteksi mata juling, fiksasi penglihatan dan lainnya.
Memasuki usia 2 tahun, pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan bola mata harus dilakukan. Ini berfungsi untuk mendeteksi kelainan refraksi, alergi mata, dan pergerakan bola mata.
Meskipun anak dapat membaca atau berhitung, kelainan refraksi dapat diperiksa dengan cara melebarkan pupil mata anak dan pemeriksaan retinoskopi.
Pada usia 4 tahun, pemeriksaan mata berfungsi untuk mengetahui kelainan refraksi, pergerakan bola mata dan mata malas atau Ambliopia. Apabila terdapat kelainan refraksi yang melebihi standar normal maka akan diberikan kacamata.
Namun, apabila terdapat ambliopia, anak akan dijadwalkan pemeriksaan mata serial 3 bulan.
Saat memasuki usia SD, anak perlu diperiksa untuk mendeteksi kelainan refraksi, malas mata dan juling. Selanjutnya, jika mata anak normal maka pemeriksaan berkala sekali setahun wajib dilakukan. (Ant/OL-1)
Kondisi kaki dapat memberikan petunjuk penting terkait kesehatan saraf, peredaran darah, hingga penyakit sistemik.
Ancaman super flu, infeksi saluran pernapasan akibat virus influenza dengan gejala yang lebih berat dibanding flu biasa, kian menjadi perhatian.
Pekerja lapangan menghadapi risiko penyakit yang cukup serius, mulai dari leptospirosis, infeksi kulit, diare, hingga infeksi saluran pernapasan.
Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan satu anak dengan gizi buruk, satu anak stunting, dan enam anak dengan gizi kurang.
SERANGAN penyakit kutu air (balancat) dan diare mulai menyerang korban banjir di Provinsi Kalimantan Selatan.
Kolesterol yang tinggi sering disebut sebagai silent killer dan dapat menjadi penyebab dari berbagai penyakit serius.
Laser dalam SiLK berenergi ultra rendah sehingga mengurangi potensi inflamasi, jaringan korneapun lebih aman dan menjaga kekuatan strruktur kornea.
Pasien yang datang karena mata kering jumlahnya sangat banyak, sebagian besar pasien mata kering datang ketika kondisinya sudah cukup parah.
Langkah pertama yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengatasi mata kering adalah menggunakan handuk atau lap yang bersih untuk mengompres mata dengan air yang hangat di rumah.
LAYANAN pemeriksaan mata serta pengalaman berbelanja kacamata sekarang dapat langsung di kantor, rumah, dan lokasi pilihan lain.
Seiring meningkatnya aktivitas digital di tempat kerja, banyak profesional usia produktif kini menghabiskan rata-rata lebih dari 8-10 jam per hari menatap layar.
Cermata hadir sebagai solusi ilmiah untuk menjawab tantangan akses skrining mata konvensional yang masih terbatas, terutama di lingkungan sekolah dasar dan anak dengan disabilitas.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved