Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
ORANGTUA kerap khawatir dengan pengaruh negatif gim video pada anak, mulai dari kesehatan mental, masalah sosial, hingga kurangnya gerak tubuh.
Namun, sebuah penelitian besar di Amerika Serikat (AS), yang diterbitkan di JAMA Network Open, Senin (24/10), menemukan bahwa ada juga manfaat kognitif dari bermain gim video.
Penulis utama penelitian itu Bader Chaarani, asisten profesor psikiatri di Universitas Vermont mengaku melakukan penelitian itu karena dirinya adalah seorang gamer dengan keahlian di bidang neuroimagery.
Baca juga: Namanya Muncul di Gim eFootball 2023, Irfan Jaya Antusias
Penelitian-penelitian sebelumnya memilih fokus pada efek negatif bermain gim video mengaitkan aktivitas tersebut dengan depresi dan peningkatan agresi.
Dalam penelitian mereka, Chaarani dan rekan-rekannya menganalisa data dari penelian besar dan yang masih berjalan Perkembangan Kognitif Otak Anak (ABCD), yang dibiayai oleh Institut Kesehatan Nasional.
Mereka memeriksa jawaban survei, tes kognitif, dan pencitraan otak dari sekitar 2 ribu anak berusia sembilan dan sepuluh tahun, yang dipisahkan menjadi dua kelompok, mereka yang tidak pernah bermain gim video dan mereka yang bermain antara 3 jam atau lebih per hari.
Batas itu dipilih karena melewati petunjuk scree time yang ditetapkan Akademi Kedokteran Anak Amerika yaitu anak hanya diizinkan bermain gim antara satu atau dua jam per hari.
Masing-masing grup diberi dua tugas. Pertama, dengan melihat arah anak panah, ke kiri atau ke kanan, dengan anak diminta menekan dengan cepat kanan atau kiri sesuai dengan arah anak panah itu.
Mereka juga diminta tidak menekan apa pun jika melihat kata setop di layar untuk mengukur seberapa kuat mereka bisa mengendalikan diri.
Di tugas kedua, anak-anak ditunjukkan wajah orang dan kemudian ditanya apakah wajah berikutnya sama dengan yang sebelumnya atau tidak, untuk menguji daya ingat mereka.
Kemudian, setelah menggunakan metode statistik untuk mengendalikan variabel yang bisa memengaruhi hasil seperti pendapatan orangtua, IQ, dan gejalan kesehatan mental, peneliti menemukan para gamer tampil lebih konsisten di kedua tugas tersebut.
Saat anak-anak itu menjalankan tugas, otak mereka dipindai menggunakan fMRI. Otak para gamers menunjukkan lebih banyak aktivitas di bagian yang terkait dengan perhatian dan daya ingat.
"Hasil penelitian ini meningkatkan dugaan bahwa gim video bisa memberikan latihan kognitif yang bermanfaat bagi anak," ungkap peneliti dalam laporan mereka. (AFP/OL-1)
Inovasi paling mencolok dalam Space Gods adalah diperkenalkannya Realm of the Gods, sebuah mekanisme pasar surgawi yang menggantikan sistem carousel tradisional.
Daftar gim ini mencerminkan tren terbaru berdasarkan jumlah pemain aktif, lonjakan popularitas, serta interaksi komunitas dalam waktu singkat.
Mantan penyerang Liverpool dan Timnas Inggris, Daniel Sturridge, resmi diperkenalkan sebagai item Hero spesial dalam gim EA SPORTS FC Mobile.
CookieRun: OvenSmash menawarkan pengalaman bertarung yang intens namun ringkas dengan durasi maksimal tiga menit per pertandingan.
Dalam gim The Spirit Weaver, pemain berperan sebagai Alora, seorang pembaca Tarot yang bertugas membimbing jiwa-jiwa terhilang di alam mistis.
GENAP dua tahun sejak perilisannya pada 22 Maret 2024, desas-desus mengenai kehadiran konten tambahan (Downloadable Content) untuk Dragon’s Dogma 2 kembali memanas.
Anak-anak adalah peniru ulung yang belajar dari apa yang mereka lihat sehari-hari.
Perlindungan ruang digital memerlukan langkah komprehensif yang mencakup edukasi publik dan penguatan kapasitas pengguna dalam memahami risiko siber.
Selain AI, gim daring populer seperti Roblox dan Minecraft juga dinilai menghadirkan risiko karena anak-anak sering kali sulit membedakan antara dunia gim dan realitas.
Aktivitas fisik dan sosial tidak hanya efektif mengalihkan perhatian dari layar, tetapi juga mendorong perkembangan interaksi anak dengan lingkungan sekitar.
Mengalihkan kebiasaan anak dari ketergantungan gawai ke aktivitas yang lebih produktif memerlukan pendekatan yang bersifat mengarahkan dan menginspirasi, bukan sekadar pelarangan.
Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024, sekitar 20,1% anak Indonesia berpotensi tumbuh tanpa pengasuhan ayah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved