Selasa 20 September 2022, 07:40 WIB

Membudidayakan Talas Khas Sumedang

Dr Wawan Gunawan Kelompok Keilmuan Manajemen dan Sumber Daya Hayati | Humaniora
Membudidayakan Talas Khas Sumedang

Dok. ITB
Tanaman talas Pratama 1 (kiri) dan talas Pratama 2 (kanan).

 

MegabiodiversIty adalah julukan yang patut disematkan untuk Indonesia karena memiliki tanah subur dengan kekayaan sumber daya alam yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Negeri ini memiliki beragam pangan lokal seperti jagung, kacang-kacangan, dan tanaman jenis umbi-umbian seperti talas.

Talas (Colocasia esculenta) merupakan tanaman yang dapat dijadikan sebagai alternatif selain beras yang cukup banyak digemari masyarakat di berbagai belahan negara, termasuk Indonesia. Tanaman talas umumnya merupakan penghasil karbohidrat yang berpotensi sebagai substitusi beras. Umbi talas dapat mengandung 1,9% protein. Nilai tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan ubi kayu serta ubi jalar yang masing-masing memiliki kadar protein sebesar 0,8% dan 1,8%. Walaupun begitu, talas memiliki kandungan karbohidrat sebesar 23,78%, atau lebih sedikit kalau dibandingkan dengan ubi kayu (37,87%) dan ubi jalar (27,97%).

Kandungan talas mempunyai peluang yang besar untuk dikembangkan karena berbagai manfaat serta dapat dibudidayakan dengan mudah. Selama ini, talas telah banyak dibudidayakan di daerah Papua dan Jawa (Malang, Bogor, dan Sumedang). Tanaman ini diolah sebagai bahan makanan dan bahan baku industri.

Talas menjadi salah satu komoditas pertanian hortikultura unggulan dan bahan pangan potensial di Kabupaten Sumedang, salah satunya di Kecamatan Ganeas. Secara geografis, lokasinya berada di sebelah timur pusat Kota Sumedang. Wilayah Kecamatan Ganeas terdiri atas delapan desa, yaitu Desa Cikondang, Dayeuh Luhur, Cikoneng, Sukawening, Ganeas, Sukaluyum, Cikoneng Kulon, dan Desa Tanjunghurip.

Desa Tanjunghurip merupakan sebuah desa yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Ganeas. Desa ini berstatus sebagai sebagai Desa Swakarsa Mula. Salah satu komoditas unggulan yang diproduksi desa ini ialah talas Pratama. Talas Pratama merupakan talas hasil dari persilangan talas semir yang berasal dari Sumedang dan talas sutra yang berasal dari Thailand. Awal dikembangkannya talas ini berasal dari Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Cibinong, Bogor.

Penelitian mengenai talas ini dilakukan selama 13 tahun sehingga pada 2016, talas ini resmi diberi nama talas varietas Pratama. Pratama merupakan singkatan dari ketiga peneliti yang telah menemukan dan mengembangkan talas ini, yakni Made Sri Prana, Tatang Kuswara, dan Maria Imelda. Talas yang dikembangkan oleh para ilmuwan Indonesia ini dikenal sebagai talas unggulan yang berasal dari Jawa Barat.

Talas yang dijuluki sebagai talas raksasa ini adalah salah satu komoditas yang sedang dikembangkan di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Alasan utama petani membudidayakan talas Pratama karena memiliki produktivitas yang menguntungkan sebab struktur tanah dan iklim di sana cocok dan mendukung untuk budi daya tanaman ini. Talas ini juga dapat tumbuh maksimal dan lebih tahan terhadap penyakit.

 

Dua varietas 

Terdapat dua varietas talas Pratama yang berasal dari Kabupaten Sumedang, yaitu Sumedang Simpati 1 (SS 1) dan Sumedang Simpati (SS 2). Dua jenis talas Pratama ini memiliki karakteristik yang berbeda. Talas Pratama SS 1 pohonnya berwarna kekuning-kuningan, umbinya berbentuk lonjong dan agak panjang berwarna putih mulus, serta memiliki anakan yang banyak. Adapun SS 2, anakannya berwarna hijau dan apabila sudah mulai membesar warna batangnya akan berwarna ungu. Umbi SS 2 berwarna putih dan berserat ungu. Pratama SS 2 ini memiliki anakan dengan jumlah yang sedikit ketimbang SS 1.

Talas Pratama SS 1 dan SS 2 ini sudah mendapat Tanda Daftar Varietas Tanaman sebagai varietas lokal terdaftar masing-masing dengan nomor 1690/PVL/2021 dan 1681/PVL/2021 yang diterbitkan oleh Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Akan tetapi, besarnya potensi alam dari talas Pratama ini belum diimbangi dengan pengembangan talas dan belum tersedianya sumber daya manusia yang memadai.

Selain itu, pengolahannya pun belum optimal. Berdasarkan hasil survei, produk turunan dari umbi talas Pratama masih sebatas dijual utuh saja. Umbi talas hanya dimanfaatkan untuk dikonsumsi dengan cara direbus. Masyarakat masih belum memiliki pengetahuan yang cukup terkait pengolahan talas tersebut.

Pengabdian masyarakat

Oleh karena itu, sejak Februari 2022 lalu, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung (SITH ITB) melakukan program kegiatan pengabdian masyarakat (PPM) untuk membantu petani dan masyarakat di Desa Tanjung Hurip, Kabupaten Sumedang, agar dapat meningkatkan nilai ekonomi dari budi daya tanaman tersebut, terutama talas Pratama. Dalam kegiatan ini, SITH berkerja sama dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumedang, pihak Kecamatan Ganeas, serta Kepala Desa, kelompok tani, dan masyarakat Desa Tanjung Hurip.

Sejauh ini, dalam kegiatan PPM telah dilakukan diskusi baik secara luring maupun daring dengan berbagai pihak yang terlibat dalam kerja sama ini. Diskusi yang dilakukan sehubungan dengan rantai pasok dan pemanfaatan talas Pratama untuk pengembangan berikutnya. Dengan adanya kegiatan PPM ini, petani dan masyarakat diharapkan dapat melakukan pengeplotan terkait pemasaran talas Pratama dan pengoptimalisasian potensi desa agrowisata di Desa Tanjung Hurip.

Pembudidayaan tanaman talas ini membutuhkan waktu tujuh hingga delapan bulan dengan pemeliharaan yang cukup mudah dilakukan, yaitu dengan memastikan adanya sumber pengairan yang memadai. Bagi para petani di Desa Tanjung Hurip, jenis talas ini biasanya ditanam sekitar Januari hingga Februari karena tingginya curah hujan sehingga baik untuk keberlangsungan hidup talas yang tergolong tanaman tadah hujan. Kegiatan panen dilakukan pada Juli hingga Agustus.

Disahkannya varietas talas Pratama pada 2016 menjadikan talas ini termasuk sebagai komoditas yang terbilang baru. Namun, keberadaan talas Pratama mampu mendongkrak keuntungan yang berlipat bagi para petani. Ukuran yang besar dengan rasa yang gurih dan empuk menjadikan harga umbi ini menembus harga jual di atas rata-rata talas pada umumnya.

Talas Pratama dengan grade A, yaitu memiliki berat di atas 1,5 kilogram serta kondisi buah bersih, berbentuk bagus, dan minim bintik atau bolongan, dapat dihargai Rp10.000–Rp15.000 per kilogramnya oleh petani, dan dapat dijual lagi oleh pengepul dan pedagang dengan harga mencapai Rp25.000-Rp30.000 per kilogramnya. Adapun talas dengan grade B dapat dijual dengan memperoleh keuntungan sebesar Rp5.000–Rp6.000 per kilogram, sedangkan grade C yang memiliki bintik dapat dikirim dan dijual dengan harga Rp2.500-Rp3.000 per kilogram.

Kebun talas Pratama di Desa Tanjung Hurip, Kabupaten Sumedang. Dok ITB

 

Masalah hama

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petani setempat, ada beberapa permasalahan yang ditemui. Masalah yang paling utama ialah terdapat organisme pengganggu tanaman (OPT) berupa gulma, hama, maupun penyakit yang memengaruhi produktivitas tanaman talas Pratama. Akan tetapi, mereka belum bisa menentukan penyakit talas yang mengganggu tanaman tersebut. Berdasarkan hasil penuturan petani, talas Pratama mengalami penyakit daun seperti terbakar sehingga menyebabkan rasa talas menjadi tidak enak. Apabila sudah seperti itu, talas yang dihasilkan memiliki tekstur lengket, dan berakhir dibuang atau dijadikan sebagai pakan domba.

Selain penyakit, hama juga sering kali ditemukan sebagai salah satu permasalahan yang menyerang produktivitas tanaman talas. Hama yang sering ditemukan pada sistem budi daya talas Pratama ialah monyet.

Meskipun harga komoditas ini terbilang cukup menguntungkan, tanaman ini dinilai masih memiliki nilai ekonomi yang rendah karena hanya dijual dalam bentuk umbi utuh dan belum ada pengembangan produk yang dapat meningkatkan harga jual. Seperti halnya talas yang lain, talas Pratama ini sebetulnya dapat dijadikan berbagai produk olahan lainnya, seperti tepung, keripik, bolu, cookies, brownies, susu, atau produk minuman rasa-rasa. Namun, di Desa Tanjunghurip, masyarakat yang membentuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) belum mendapatkan pengetahuan lebih mendalam mengenai cara-cara pengolahan yang dapat meningkatkan nilai ekonomi dari tanaman tersebut.

Oleh karena itu, adanya program PPM SITH ITB ini diharapkan dapat membantu petani dan masyarakat untuk dapat meningkatkan potensi talas Pratama secara meluas dan lebih terarah. Program kegiatan PPM SITH ITB ini dilakukan selama dua hari, dengan mengusung dua tema yang berbeda. Pada hari pertama mengusung tema mengenai pengembangan ekonomi Desa Tanjunghurip, Kecamatan Ganeas, Kabupaten Sumedang, melalui pembangunan area agrowisata. Kemudian pada hari kedua, kegiatan PPM mengangkat tema tentang pendampingan pengembangan rantai pasok dan produk turunan talas di Kabupaten Sumedang.

Dengan adanya kegiatan forum group discussion (FGD) dan pelatihan pengolahan diversifikasi talas menjadi berbagai varian produk pangan fungsional, dapat membuka peluang bagi komoditas talas Pratama untuk menjadi oleh-oleh khas daerah sehingga tujuan optimalisasi potensi desa agrowisata Tanjung Hurip dapat tercapai. Keberagaman pemanfaatan talas Pratama ini diperlukan agar dapat memaksimalkan sumber daya yang ada dan bisa menjadi produk olahan alternatif di pasaran.

Pemanfaatan talas Pratama pada pembuatan berbagai makanan dapat dijadikan upaya dalam mendorong percepatan keanekaragaman konsumsi bersumber bahan lokal. Upaya tersebut merupakan langkah yang tepat untuk mempromosikan potensi tanaman ini sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan nilai konsumsi talas di Tanah Air. (M-4)

 

TIM SITH ITB

Ketua PIC/Penulis

Dr Wawan Gunawan

Dosen Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung

Pendidikan:

Doktor di Bidang Ilmu Pertanian, Universitas Padjadjaran

Magister di Bidang Ekonomi Pertanian, Universitas Padjadjaran

Sarjana di Bidang Agronomi, Universitas Padjadjaran

 

Anggota Tim

- Dr Ing Ir Heru Wibowo Poerbo MURP

Dosen SAPPK ITB

KK Perancangan Arsitektur

 

- Ir Agustania MP

Dosen SITH ITB

KK Manajemen Sumber Daya Hayati

 

- Fitri Awaliyah MSi

(Asisten PPM 2022)

 

- Rd Dewi Anggraeni MAgr Sc, MSi

(Asisten PPM 2022)

 

- Farhan Ilham Wira Rohmat MSi

(Asisten PPM 2022)

 

- Ahmad Shifa Uka

(Asisten PPM 2022)

 

- Daning Nurhalisa Kairupan

(Asisten PPM 2022)

Baca Juga

MI/HARYANTO

Undip Kukuhkan 11 Guru Besar

👤Haryanto 🕔Rabu 28 September 2022, 23:30 WIB
Acara pengukuhan 11 Guru Besar ini dilaksanakan dalam empat tahap selama empat hari, mulai 27-30 September...
ANTARA

Sertifikasi Jadi Penyebab Rendahnya Jumlah Guru Untuk Anak Berkebutuhan Khusus

👤Faustinus Nua 🕔Rabu 28 September 2022, 22:44 WIB
Kebutuhan guru untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) masih jauh dari...
BPMI Setpres

Hari Ini, 23.508 Terima Vaksinasi Kedua

👤MGN 🕔Rabu 28 September 2022, 21:56 WIB
Total 171.140.621 orang telah menerima vaksin lengkap per Rabu...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya