Kamis 11 Agustus 2022, 18:21 WIB

Kemendikbud Ristek Gelar Ruwatan Bumi dan Orchestra dalam Rangkaian G20

Syeha Alhaddar | Humaniora
Kemendikbud Ristek Gelar Ruwatan Bumi dan Orchestra dalam Rangkaian G20

ANTARA/ANIS EFIZUDIN
Sejumlah karyawan Balai Konservasi Borobudur (BKB) mengikuti aksi Reresik Candi Borobudur (membersihkan Candi Borobudur) di Magelang, Jateng

 

KEMENTERIAN Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) akan menggelar Ruwatan Bumi dalam rangkaian acara G20 di bidang kebudayaan pada tanggal 13 September mendatang di Candi Borobudur, Magelang. Acara ini ditujukan untuk mengenalkan Ruwatan Bumi sebagai kebudayan Indonesia.

“Meruwat itu sebetulnya semacam ritual doa yang mengharapkan agar melalui kegiatan yang dilakukan, bumi dapat sehat kembali," terang Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Ristek, Hilmar Farid, dalam talkshow Kebudayaan untuk Bumi Lestari yang disiarkan melalui laman youtube FMB9ID_IKP, Kamis (11/8).

Hilmar menjelaskan saat ini sudah ada ritual ruwatan yang dilakukan diseluruh nusantara dan ruwatan di Candi Borobudur akan menjadi puncaknya.

Selain ruwatan bumi, Kemendikbud Ristek turut menggelar orchestra yang mengajak ratusan seniman profesional dari berbagai negara. Orchestra ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa seluruh kebudayaan dapat menjadi harmonis walaupun memiliki perbedaan.

"Kita mau kirim pesan kalau kita tau bahwa ada perbedaan selama G20 tetapi didalam musik, harmoni itu kunci," ujarnya. Hilmar menambahkan bunyi yang dihasilkan oleh orkestra ini dapat membungkus citra G20.

Baca juga: Jangan Tunggu Kebudayaan Indonesia Diklaim Negara Lain

Dalam kesempatan yang sama Hilmar juga menyinggung pentingnya menghubungkan teknologi dan kebudayaan untuk pemulihan lingkungan. Hilmar menambahkan bahwa prespektif menjaga lingkungan sudah ada sejak turun menurun. Tradisi Indonesia adalah membuat solusi jangka panjang yang sustainable. Salah satunya adalah pengelolaan hutan bakau.

"Hutan bakau jika dikelola dengan pengetahuan tradisional masyarakat hasilnya pertahun bisa ribuan dolar," ungkapnya. Telah diketahui bahwa hasil hutan bakau sangat besar kontribusinya untuk perekonomian.

Hilmar menjelaskan bahwa harus ada riset manajemen sains dan teknologi mengenai pengetahuan tradisional yang sudah dipelajari selama ratusan tahun oleh masyarakat. Hal ini merupakan sumber untuk mencari solusi pelestarian lingkungan jangka panjang. (A-2)

Baca Juga

Dok. BPIP

Wakil Kepala BPIP Sampaikan Urgensi Pendidikan Pancasila di Hadapan Ribuan Guru Agama

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 01 Oktober 2022, 18:26 WIB
"Tantangan global dan ancaman hilangnya identitas bangsa menjadikan Pendidikan Pancasila penting untuk diajarkan di semua jenjang dan...
Antara/Fanny Octavianu.

Media Indonesia Gandeng UNJ dalam Festival Bahasa dan Sastra

👤Indrastuti 🕔Sabtu 01 Oktober 2022, 18:00 WIB
Media Indonesia menggandeng Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dalam Festival Bahasa dan Sastra yang digelar pada 31 Oktober...
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Nadiem: Jadikan Nilai Pancasila sebagai Petunjuk dan Tujuan Hidup

👤Faustinus Nua 🕔Sabtu 01 Oktober 2022, 17:46 WIB
Nadiem Anwar Makarim dalam pidatonya mengajak seluruh bangsa Indonesia untuk menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai petunjuk dan tujuan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya