Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER anak Citra Amelinda, yang tergabung dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan pola asuh responsif menjadi pola asuh yang paling ideal untuk tumbuh kembang anak-anak bisa optimal.
Dokter spesialis anak itu menjelaskan pola asuh responsif merupakan kombinasi antara dua pengasuhan yang sebelumnya sudah dikenal yaitu authoritarian dan neglect parenting.
"Pola asuh responsif ini bisa dibilang yang terbaik untuk saat ini. Posisinya ada di tengah di antara pengasuhan model otoriter dan permisif," kata Citra dalam sebuah acara virtual, dikutip Kamis (28/7).
Baca juga: Anak adalah Pemerhati, Orangtua Jadilah Contoh yang Baik
Adapun untuk pola asuh authoritarian atau otoriter merupakan pola asuh yang menjadikan orangtua sebagai fokus utamanya.
Biasanya anak-anak dididik mengikuti semua aturan dan juga keinginan orangtua berdasarkan pengalaman turun temurun yang sudah diberikan.
Anak-anak yang tumbuh dengan pola asuh ini cenderung takut berkomunikasi dengan hangat kepada orangtuanya dan terkadang kurang dapat memaksimalkan potensi dirinya.
Selanjutnya untuk pola asuh permisif atau dikenal juga dengan istilah neglect parenting biasanya bertumpu hanya pada keinginan anak.
Orangtua cenderung mengikuti semua permintaan anak dan pada akhirnya ada aspek-aspek penting seperti kedisiplinan dan keteraturan yang tidak bisa dimiliki anak karena orangtua tidak memperhatikan kebutuhan utama anak.
Akhirnya anak cenderung dimanjakan dan tidak bisa mengembangkan talenta dan potensi untuk bisa belajar menjadi pribadi yang mandiri.
"Jadi memang pola asuh yang terbaik itu yang model responsif, berada di tengah tidak terlalu otoriter tapi juga tidak terlalu memanjakan anak," kata Citra.
Pola asuh responsif dapat membentuk karakter anak untuk tetap seimbang dari segi kedisiplinan, keteraturan, hingga aspek kreativitas.
Baik orangtua maupun anak terlibat menjalankan pola asuh ini karena anak dapat mengutarakan pendapat mereka dan orangtua dapat membantu menghadirkan keputusan-keputusan.
Dengan demikian anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang kuat tidak hanya secara fisik tapi juga mental ketika masuk ke lingkungan yang sesungguhnya di luar keluarga. (Ant/OL-1)
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved