Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
PERHELATAN G20 menjadi momentum bagi Indonesia mendorong negara maju berkomitmen untuk membantu negara berkembang dalam hal pengelolaan lingkungan dan perubahan iklim.
"Untuk Indonesia dukungan dan kemitraan dari G20 menjadi penting. Sebagaimana kita tahu sebagian dari negara-negara G20 adalah negara2 maju. Ada negara berkembang tapi sebagian besar adalah negara maju yang memang berada dalam posisi yang lebih memungkinkan untuk memobilisasi pendanaan, capacity building pengembangan teknologi, teknologi transfer kepada negara-negara termasuk Indonesia," kata Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) Kementerian LHK (KLHK) Laksmi Dewanthi di Hotel Shangri La, Jakarta Pusat, Selasa (22/6).
Ia menyatakan, hal itu akan tertuang dalam dokumen bertajuk Communique yang disepakati menteri-menteri lingkungan hidup G20. Dalam dokumen itu nantinya negara-negara G20 akan bersepakat membuat aksi bersama untuk pengelolaan lingkungan dan pengendalian iklim.
Dokumen tersebut telah menjadi pembahasan dalam pertemuan Environment Deputies Meeting and Climate Sustainability Working Group (EDM-CSWG) yang berlangsung di Jakarta pada 19-22 Juni 2022. Saat ini, cikal bakal dokumen tersebut telah ada dan akan disepakati pada pertemuan tingkat menteri G20 pada Agustus 2022.
Dokumen itu memuat sejumlah poin yang merupakan isu prioritas EDM-CSWG pada Presidensi G20 Indonesia kali ini. Poin-poin tersebut yakni mendukung pemulihan yang berkelanjutan, peningkatan aksi berbasis daratan dan lautan untuk mendukung perlindungan lingkungan hidup dan tujuan pengendalian perubahan iklim dan peningkatan mobilisasi sumber daya untuk mendukung perlindungan lingkungan hidup dan tujuan pengendalian perubahan iklim.
Laksmi belum bisa menjabarkan poin-poin apa saja yang ada dalam dokumen itu. Namun ia menyatakan salah satu yang penting ialah dorongan kepada negara-negara maju untuk memobilisasi pendanaan, capacity building, pembangunan teknologi dan transfer teknologi kepada negara berkembang termasuk Indonesia, untuk memenuhi target pengelolaan lingkungan dan pengendalian iklim.
"Berikutnya kita dorong agar communique dan hasil G20 ini bisa mendorong Indonesia untuk memastikan agar agenda adaptasi menjadi agenda yang sama pentingnya dengan mitigasi. Karena selama ini kita fokusnya hanya mitigasi untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. Padahal upaya untuk meningkatkan daya tahan atau resiliensi kita kepada perubahan iklim menjadi sangat penting," beber dia.
"Untuk Indonesia, sekarang kita ingin memperkenalkan sentra mangrove dan meminta dukungan kemitraan dari berbagai anggota G20 untuk mendukung rencana atau konkret project dari Indonesia," lanjutnya.
Baca juga: EDM-CSWG Kedua, Bahas Komitmen Kolektif G20 Di Bidang Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim
Ia berharap, gelaran G20 kali ini bukan hanya menghasilkan dokumen kesepakatan di atas kertas. Lebih dari itu, harus ada hasil konkret berupa project kerja sama antara Indonesia dan negara-negara anggota untuk mencapai target NDC 2030.
Pada kesempatan itu, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan(PPKL) KLHK Sigit Reliantoro mengungkapkan salah satu yang didorong pada agenda G20 di bidang lingkungan yakni pembuktian Indonesia akan keberhasilan rehabilitasi gambut dan mangrove kepada dunia.
"Itu mendapat sambutan baik dari negara-negara. Kita akan mendorong apa yang sudah dimiliki Indonesia. Kita memiliki regulasi, kita memiliki kemampuan teknis dan juga bukti-bukti kerja lapangan yang akan kita share ke negara-negara," ucap dia.
Seperti diketahui, pertemuan EDM-CSWG dihadiri sebanyak 20 negara anggota G20 dan lima negara sahabat. Adapun, sebanyak 196 delegasi hadir dalam pertemuan kedua ini yang berasal dari negara anggota G20, negara undangan, dan organisasi internasional.(OL-5)
Studi terbaru Smithsonian mengungkap ekosistem terumbu karang modern kehilangan kompleksitas ekologi dibandingkan 7.000 tahun lalu. Rantai makanan kini memendek drastis.
Peneliti menemukan penurunan kadar garam di Samudra Hindia bagian selatan. Fenomena ini mengancam sistem sirkulasi laut global dan iklim dunia.
Ilmuwan temukan jutaan bakteri dan jamur "pelindung" di dalam pohon ek yang tetap stabil meski dilanda kekeringan ekstrem.
Ilmuwan temukan deposit granit raksasa terkubur di bawah Gletser Pine Island, Antartika. Penemuan ini memecahkan misteri batuan purba sekaligus kunci prediksi kenaikan permukaan laut.
Presiden Donald Trump resmi membatalkan "endangerment finding" 2009, kebijakan kunci era Obama yang membatasi gas rumah kaca. Simak dampak ekonomi dan pro-kontra medisnya di sini.
Kementerian Kehutanan resmi meluncurkan Platform Mangrove Data Nusantara (Mandara) sebagai sistem integrasi data mangrove nasional.
Dalam satu tahun terakhir, Delonix Hotel Karawang menjalankan program keberlanjutan terstruktur yang mengacu pada kerangka kerja berbasis sains dari EarthCheck.
Di tengah tekanan deforestasi, perubahan iklim, dan tuntutan pasar terhadap komoditas berkelanjutan pemerintah dan pelaku usaha kehutanan mulai menggeser paradigma pengelolaan hutan.
Kemajuan ilmu pengetahuan modern telah membawa banyak progres dalam pengelolaan kehutanan dan lingkungan.
Pemerintah mencabut izin 28 perusahaan kehutanan dan non-kehutanan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat terkait pelanggaran hukum dan kerusakan lingkungan.
Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan, menegaskan bahwa manusia memiliki kewajiban moral tanpa batas untuk menjaga kelestarian alam
Muslimat NU dan Kementerian Lingkungan Hidup RI menandatangani MoU untuk memperkuat gerakan pelestarian lingkungan berbasis masyarakat melalui program Mustika Darling.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved