Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
DAERAH Aliran Sungai (DAS) Citarum merupakan DAS terbesar di Jawa Barat. Penurunan kualitas air yang terus terjadi di Sungai Citarum merupakan dampak dari aktivitas antropogenik, baik itu berupa limbah domestik, pertanian, peternakan, maupun industri.
Hal tersebut membuat salah satu tim peneliti dari ITB yang diketuai oleh Sri Harjati Suhardi ikut serta dalam memulihkan Sungai Citarum dengan mengurangi limbah dari sumbernya. Aktivitas yang umum terjadi di daerah hulu sungai ialah pertanian, peternakan dan permukiman.
Kondisi lapangan menunjukkan bahwa sampah plastik mendominasi jenis pencemar di Sungai Citarum, tetapi terdapat sumber pencemar lain yang dapat menurunkan kualitas air. Sumber kedua yang menjadi fokus ialah limbah padat dari rumah tangga yang banyak dibuang ke sungai.
Oleh karena itu, Tim ITB melakukan program yang dapat mengajak masyarakat untuk berhenti membuang sampah ke Sungai Citarum, baik organik maupun nonorganik. Dalam pengimplementasian program tersebut, lokasi yang dipilih ialah Desa Cinangsi, Kecamatan Cikalong Kulon, Kabupaten Cianjur. Lokasi tersebut dipilih karena kondisi masyarakat yang masih cenderung abai dalam mengolah limbah yang mereka temui pada kehidupan sehari-hari, khususnya limbah organik dan plastik.
Sikap abai ini dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu kurangnya pengetahuan mengenai pentingnya dan cara mengolah limbah domestik. Ditambah lagi, sarana pengolahan limbah domestik juga masih kurang. Akibatnya, limbah domestik menjadi tidak terolah dan menjadi sumber pencemaran lingkungan.
Lingkup Program
Lingkup pelaksanaan program ini ialah limbah domestik (sampah organik dan nonorganik), pemanfaatan sampah non-organik menjadi ecobrick, pengolahan sampah organik menjadi kompos, mikroorganisme lokal (MOL) dan ecoenzym, serta pemanfaatan hasil pengolahan sampah organik untuk pertanian setempat. Kegiatan yang dilakukan meliputi:
A. Sosialisai awal dan pelatihan terkait pemisahan limbah domestik menjadi sampah organik dan nonorganik.
Pada kegiatan ini dilakukan sosiaslisasi awal tekait pemisahan limbah domestik menjadi kategori sampah organik dan nonorganik. Kegiatan dilakukan di salah satu ruangan kelas sekolah dasar yang ada di Dusun Tarikolot, Desa Cinangsi. Fasilitator kegiatan dilakukan oleh Mang Yadi, salah satu fasilitator yang ditinjuk oleh Tim SITH ITB.
B. Pelatihan pemanfaatan sampah non-organik menjadi ecobrick dan pengolahan sampah organik menjadi kompos, MOL, dan ecoenzym.
Pada kegiatan ini dilakukan pelatihan terkait pemanfaatan sampah nonorganik menjadi ecobrick dan pengolahan sampah organik menjadi kompos, MOL, dan ecoenzym oleh Mang Yadi dan Bu Tini Martini Tapran, salah satu fasilitator yang ditunjuk Tim Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB. Pelatihan dilakukan di halaman kompleks warga.
C. Pembuatan Bata Terawang untuk pengolahan sampah organik.
D. Pelatihan pemanfaatan hasil pengolahan sampah organik untuk pertanian setempat.
Pada kegiatan ini dilakukan dua pelatihan terkait pengolahan sampah organik menjadi kompos menggunakan bata terawang. Kegiatan pertama diikuti oleh perwakilan dari Desa Cinangsi dan kegiatan difasilitatori ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Cibunut yang telah berhasil mengolah sampah di desa setempat. Kegiatan kedua dilakukan transfer ilmu dari delegasi yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya di Cibunut untuk diaplikasikan di Desa Cinangsi.
E. Diskusi dan Monitoring Program
Pada kegiatan ini dilakukan diskusi dan monitoring program yang dilakukan oleh pihak ITB yang beranggotakan Ir Sri Harjati Suhardi PhD, Dr Dian Rosleine, dan Dr IntanTaufi k dengan mitra yang beranggotakan Ketua RW, RT, Ketua KSM, pegiat lingkungan sekitar, dan para warga Cinangsi.
Untuk dapat mengimplementasikan program secara berkelanjutan, perlu adanya dukungan dari berbagai pihak yang meliputi pemerintah setempat dan para stakeholder, serta warga sekitar. Pemerintah setempat dapat berperan dalam meningkatkan pengelolaan sampah di Desa Cinangsi dengan beberapa cara, yaitu:
1. Mengadakan penyuluhan dari lurah atau stakeholder kepada warga setempat dengan memberikan edukasi secara berkelanjutan terkait kebersihan lingkungan dan pengolahan sampah.
2. Memberikan pelatihan dan monitoring lanjutan dalam pengolahan sampah yang telah dilakukan.
3. Bantuan dalam infrasutruktur dan atau alat pengolahan sampah yang mendukung kegiatan warga dalam mengolah sampah domestik.
4. Membuat kebijakan yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat dalam mengolah sampah dan daurulang sehingga bernilai ekonomis. (M-1)
Keberhasilan program pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada kebijakan di tingkat kota, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif dari kelurahan hingga RW.
UMJ membantah keras isu ‘mahar aksi’ dalam demonstrasi BEM soal sampah Tangsel. Kampus menilai tudingan tersebut menyesatkan dan tidak berdasar.
Mulai pekan ini, setiap KK yang sebelumnya menerima dua galon air mineral per minggu, kini akan mendapatkan empat galon air secara rutin selama satu bulan ke depan.
Wali Kota Tangsel memastikan pihaknya telah mengamankan kesepakatan pembuangan sampah ke wilayah Cileungsi untuk mengurai penumpukan.
Dalam tuntutannya, BEM UMJ mendesak Wali Kota Tangsel bertanggung jawab atas terjadinya penumpukan sampah, khususnya di wilayah Ciputat dan sekitarnya.
Darurat sampah Tengerang dan Tangsel disebut pengamat sebagai bukti dari kegagalan tata kota dan pengelolaan sampah dalam jangka panjang.
Langkah ini sejalan dengan arahan sistem pengelolaan sampah nasional, yang menekankan pentingnya perubahan perilaku sejak dari tingkat rumah tangga.
Pendekatan utama yang diusung adalah membangun model pengelolaan sampah berbasis komunitas di tingkat RT sebagai percontohan.
Selama dua bulan, sejak 10 Januari 2025 hingga 11 Maret 2025, proyek difokuskan di Banjar Pasedana. Di wilayah ini, terdapat 163 KK yang menjadi sasaran langsung edukasi.
Untuk memperkuat sistem ini, Pemda, Kementerian PU dan Kemendagri melalui Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah (Ditjen Bina Bangda) turut berperan aktif dalam berkolaborasi.
Kondisi geografis Cianjur yang luas dan beragam, meliputi wilayah urban, pedesaan, dan pegunungan, menyulitkan proses pengangkutan dan pengolahan sampah secara merata.
SAENGGOK Land fill atau tempat pembuangan sampah yang berlokasi di Distrik Gangseo, Korea Selatan bisa menjadi salah satu contoh bagaimana tempat pembuangan sampah diubah menjadi aestetik
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved