Headline
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Kumpulan Berita DPR RI
PENDARAHAN dari hidung/mimisan atau dalam bahasa medis disebut epistaksis, banyak dijumpai sehari-hari baik pada anak maupun usia lanjut. Kebanyakan ringan serta sering dapat berhenti sendiri tanpa memerlukan bantuan medis. Tetapi untuk epistaksis yang berat, walaupun jarang, merupakan masalah kedaruratan yang dapat berakibat fatal bila tidak segera ditangani.
Apa saja penyebab epistaksis? Seringkali epistaksis timbul spontan tanpa dapat diketahui penyebabnya, kadang-kadang jelas disebabkan karena adanya trauma (benturan). Epistaksis dapat disebabkan oleh kelainan pada hidung atau kelainan sistemik. Contoh kelainan pada hidung adalah adanya trauma (benturan) pada hidung, kelainan anatomi, infeksi pada hidung, benda asing, tumor, dan pengaruh udara lingkungan. Sementara, contoh kelainan sistemik adalah penyakit jantung, kelainan darah, infeksi sistemik, perubahan tekanan atmosfer, kelainan hormonal, dan kelainan sejak lahir.
Epistaksis dibagi dua, yaitu epistaksis anterior dan posterior. Untuk anak-anak yang paling sering terjadi adalah epistaksis anterior. Pada anak-anak, penyebab yang mungkin terjadi adalah karena mengorek hidung dengan keras, benturan ringan, bersin terlalu keras, jatuh, atau kecelakaan lalu lintas. Bisa juga disebabkan karena ada benda asing tajam yang masuk pada hidung.
Apabila terjadi epistaksis pada anak, ayah ibu jangan panik. Dudukkan anak, atau jika kondisinya lemah dapat diposisikan setengah duduk atau berbaring dengan kepala ditinggikan. Posisi kepala jangan menengadah karena jangan sampai darah mengalir ke saluran napas bawah. Biasanya, epistaksis anterior akan berhenti dengan sendirinya.
Dapat dicoba dihentikan dengan menekan hidung dari luar selama 10-15 menit, biasanya berhasil berhenti dengan cara ini. Apabila belum berhenti, bisa pergi ke fasilitas Kesehatan terdekat untuk dipasangkan tampon dari kasa. Tampon ini dipertahankan selama 2x24 jam, dan kemudian harus dikeluarkan supaya tidak terjadi infeksi pada hidung.
Setelah perdarahan berhenti, ayah ibu harus mencari tahu apa penyebab epistaksis pada anak. Lalu, ingatkan anak untuk tidak membuang ingus melalui hidung terlalu keras, dan jangan memasukkan benda keras ke dalam hidung, termasuk jari. (O-2)
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Kabar baik! MK putuskan penyakit kronis kini bisa masuk kategori disabilitas. Simak syarat asesmen medis dan prinsip pilihan sukarela dalam Putusan MK No. 130/2025.
Minyak sawit sering dianggap berbahaya. Simak fakta ilmiah tentang komposisi lemak, risiko kanker, obesitas, dan kesehatan jantung yang jarang diketahui publik.
Tidur cukup bukan sekadar istirahat. Ini 7 manfaat tidur berkualitas bagi kesehatan tubuh dan mental.
Dirjen Kesehatan Lanjutan Kemenkes Azhar Jaya menyebut Indonesia kekurangan 92 ribu dokter dan meluncurkan program pendidikan spesialis hospital based.
KEBIASAAN kurang bergerak atau duduk terlalu lama saat bekerja alasan mengapa bahu, leher, atau punggung terasa sakit. 7 gerakan peregangan meredakan punggung bawah.
Peran brand dalam sektor kesehatan terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gaya hidup sehat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved