Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
ORANGTUA ternyata perlu menantang anak dalam mengerjakan tugas atau tanggung jawab agar sisi eksploratif dan kemandirian sang buah hati bisa terasah dengan optimal.
Kerap kali, ketika anak memiliki tugas atau tanggung jawab yang perlu dikerjakannya, orang tua menjadi tidak sabar dan akhirnya secara tidak sadar terlibat mengerjakan tugas si kecil, yang berujung pada anak menjadi ketergantungan.
"Kita harus bisa mengajarkan kepada anak- anak kita bahwa sebenarnya mereka itu harus bisa melakukan sesuatu sendiri. Itu cara mengajarkan kemandirian pada anak kita," kata Psikolog lulusan Universitas Indonesia (UI) Ajeng Raviando dalam acara virtual, dikutip Sabtu (2/4).
Baca juga: Pola Hidup Sehat Anak Ditentukan oleh Orangtua
Ajeng mencontohkan misalnya ketika anak membuat pekerjaan rumah dan meminta orangtuanya membantu mengerjakan PR, maka orangtua bisa meminta anak mengerjakan terlebih dahulu beberapa soal yang menurutnya bisa dikerjakan sendiri.
Berikan kata- kata yang mendukung anak bahwa ia mampu mengerjakan tugasnya sendiri tanpa orangtua harus langsung turun tangan dari awal pengerjaan tugas sekolahnya.
Orangtua tetap bisa membantu anak ketika anak sudah mencoba namun tidak dapat menemukan solusinya.
"Kerap kali orangtua itu enggak sabar, akhirnya yang ngerjain PR anaknya ya mamanya dan bukan anaknya. Jadi coba mulai terapkan hal seperti ini agar anak punya kemandirian buat mengerjakan tugasnya sendiri," ujar Ajeng.
Adapun manfaat terasah-nya sisi eksploratif bagi anak di antaranya dapat mendukung anak mendapatkan pengetahuan dan pembelajaran terbaik dari rasa ingin tahunya, membantu anak mengenal hal- hal baru yang sebelumnya tidak diketahuinya hingga dapat mendorong anak untuk lebih kreatif dalam mencari solusi.
Tentunya dengan sikap- sikap tersebut anak bisa mandiri di lingkungan yang lebih luas dan memiliki bekal saat harus berhadapan dengan masalah tanpa perlu didampingi orangtua. (Ant/OL-1)
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved