Headline
Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.
Kumpulan Berita DPR RI
TIDUR dalam waktu yang cukup, sangat dibutuhkan setiap orang. Saat tidur, otak dapat mengisi kembali energinya yang dikeluarkan saat seseorang beraktivitas.
Otak adalah organ tersibuk di tubuh manusia, bertanggung jawab untuk efek kognitif dalam tubuh. Karena berkaitan dengan kemampuan otak, dapat disimpulkan bahwa kurang tidur dapat menurunkan kemampuan kognitif otak.
Kurang tidur bisa menyebabkan berbagai hal seperti mengurangi kemampuan merespon rangsangan tertentu secara tepat waktu. Hal ini sangat berbahaya untuk beberapa kasus terutama dalam pekerjaan yang membutuhkan respons cepat seperti seorang tentara yang membutuhkan respon yang cepat saat di medan perang. Selain itu, pengambilan keputusan yang tepat juga terganggu apabila tubuh kurang tidur.
Kepala Departement Bioteknologi International Institute for Life Sciences (i3L), Putu Virgina Partha Devanthi, S.Si., M.Si., Ph.D. mengatakan dalam hal pengambilan keputusan yang cepat dan darurat, kurang tidur menyebabkan penurunan yang signifikan dalam kemampuan membuat keputusan yang rasional di bawah tekanan tinggi dalam waktu terbatas. Sebuah tes yang dilakukan pada pasien yang kurang tidur dengan pasien yang tidak kurang tidur menunjukkan bahwa meskipun tidak ada hubungan langsung dengan penalaran kritis, hal itu mengganggu kecepatan pengambilan keputusan.
"Ini benar-benar sesuatu yang tidak kita inginkan, karena banyak dari kita perlu membuat keputusan sepersekian detik dalam kehidupan kita sehari-hari. Kurang tidur juga mengurangi kemampuan untuk mempertahankan memori temporal dan kemampuan perhatian yang waspada. Artinya, kita akan memiliki ingatan jangka pendek dan melupakan hal-hal baru yang baru saja kita lihat atau dengar,” ungkap Virgina.
Lebih jauh, disebutkan, kurang tidur dalam jangka panjang dapat menyebabkan banyak komplikasi kesehatan. Tetapi sebagian besar efek jangka panjang adalah efek non-kognitif, seperti obesitas, dan kematian dini. Dalam hal kognitif, itu dapat menyebabkan penurunan efisiensi secara keseluruhan, kurangnya penilaian yang solid dan peningkatan kesalahan.
"Sebagian besar dari efek ini juga permanen, karena tubuh kita tegang karena kurang tidur. Ini juga akan menyebabkan penurunan kemampuan otak untuk mengingat sesuatu, dan kita menjadi jauh lebih pelupa pada usia yang jauh lebih muda," jelasnya.
Di sisi lain, mahasiswa Bioteknologi i3L Michael mengatakan banyak alasan mengapa orang kurang tidur, bisa dari pekerjaan atau aktivitas yang mereka lakukan. Data statistic dari Sleep Cycle menunjukkan rata-rata waktu tidur yang dibutuhkan orang dewasa adalah 8 jam per hari. Akan tetapi kebanyakan orang tidur kurang dari 8 jam.
"Ketika orang kekurangan tidur, tubuh mereka akan berusaha mendapatkan kembali waktu istirahat yang dibutuhkan, ini mengakibatkan terjadinya microsleep yang tidak disengaja dalam aktivitas kita sehari-hari”, tutur Michael.
Setelah microsleep, jelasnya, kita dapat kehilangan sebagian dari kemampuan akusisi kognitif kita yang berarti tubuh memplejari hal-hal jauh lebih lambat dari seharusnya. "Kurang tidur dapat melemahkan kemampuan sistem saraf untuk mengingat hal-hal yang baru dipelajari, ini berarti seseorang akan jauh lebih mudah lupa dan menurunkan efisiensi kita dalam mempelajari hal-hal baru," ujarnya.
Lebih jauh, Virgina mengatakan kurang tidur memiliki banyak efek negatif baik jangka pendek maupun jangka panjang, terhadap kemampuan kognitif manuria. Efek jangka pendek adalah menghambat kemampuan untuk menerima informasi, membuat keputusan, kesadaran kita, dan rentang perhatian kita.
"Dalam jangka panjang, selain efek kesehatan non-kognitif, mereka juga memengaruhi kemampuan kita untuk mempertahankan ingatan, penilaian, dan kemampuan melakukan sesuatu dengan benar. Karena itu, kita harus memastikan tidak menderita kurang tidur," jelasnya. (RO/OL-15)
KITA semua mengikuti dengan waspada perkembangan eskalasi konflik dan perang di kawasan Timur Tengah.
Kondisi kesehatan Nadiem Makarim menurun akibat reinfeksi bekas operasi. Eks Mendikbudristek ini terancam operasi lagi di tengah sidang korupsi Chromebook.
Penyumbatan jantung atau Penyakit Jantung Koroner (PJK) terjadi akibat penumpukan plak (lemak, kolesterol, dan kalsium) pada arteri koroner.
Meskipun populer dan estetik, bubble tea menyimpan risiko kesehatan serius seperti paparan timbal, gangguan pencernaan, hingga masalah kesehatan mental. Simak faktanya!
Kabar baik! MK putuskan penyakit kronis kini bisa masuk kategori disabilitas. Simak syarat asesmen medis dan prinsip pilihan sukarela dalam Putusan MK No. 130/2025.
Minyak sawit sering dianggap berbahaya. Simak fakta ilmiah tentang komposisi lemak, risiko kanker, obesitas, dan kesehatan jantung yang jarang diketahui publik.
SEBUAH penemuan luar biasa datang dari tim peneliti Rusia yang berhasil menghidupkan kembali tanaman berbunga asal Siberia, Silene stenophylla, dari biji yang telah terkubur 32 ribu tahun.
Ruang lingkup kerja sama antara lain mencakup pelaksanaan penelitian bersama dalam bidang lingkungan hidup dan transisi energi serta program pemagangan bagi mahasiswa Teknik Lingkungan ITY.
Reaksi emosional selama ini kerap dianggap persoalan selera pribadi, dipengaruhi oleh DNA masing-masing individu merespons karya seni.
Para ilmuwan dari Johns Hopkins University, Amerika Serikat, berhasil mendemonstrasikan bahwa kera besar memiliki kapasitas kognitif untuk "bermain pura-pura" (play pretend).
STUDI dari Spanyol melakukan sebuah penelitian untuk mencoba membantu diagnosis penyakit Alzheimer pada usia 50 tahun. Percobaan itu dilakukan dengan melakukan tes darah.
AHLI biologi dari Hebei University, Tiongkok, Ming Li bersama rekan-rekannya melakukan penelitian dan menemukan bahwa rambut bisa mendeteksi Parkinson
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved