Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
TIDUR dalam waktu yang cukup, sangat dibutuhkan setiap orang. Saat tidur, otak dapat mengisi kembali energinya yang dikeluarkan saat seseorang beraktivitas.
Otak adalah organ tersibuk di tubuh manusia, bertanggung jawab untuk efek kognitif dalam tubuh. Karena berkaitan dengan kemampuan otak, dapat disimpulkan bahwa kurang tidur dapat menurunkan kemampuan kognitif otak.
Kurang tidur bisa menyebabkan berbagai hal seperti mengurangi kemampuan merespon rangsangan tertentu secara tepat waktu. Hal ini sangat berbahaya untuk beberapa kasus terutama dalam pekerjaan yang membutuhkan respons cepat seperti seorang tentara yang membutuhkan respon yang cepat saat di medan perang. Selain itu, pengambilan keputusan yang tepat juga terganggu apabila tubuh kurang tidur.
Kepala Departement Bioteknologi International Institute for Life Sciences (i3L), Putu Virgina Partha Devanthi, S.Si., M.Si., Ph.D. mengatakan dalam hal pengambilan keputusan yang cepat dan darurat, kurang tidur menyebabkan penurunan yang signifikan dalam kemampuan membuat keputusan yang rasional di bawah tekanan tinggi dalam waktu terbatas. Sebuah tes yang dilakukan pada pasien yang kurang tidur dengan pasien yang tidak kurang tidur menunjukkan bahwa meskipun tidak ada hubungan langsung dengan penalaran kritis, hal itu mengganggu kecepatan pengambilan keputusan.
"Ini benar-benar sesuatu yang tidak kita inginkan, karena banyak dari kita perlu membuat keputusan sepersekian detik dalam kehidupan kita sehari-hari. Kurang tidur juga mengurangi kemampuan untuk mempertahankan memori temporal dan kemampuan perhatian yang waspada. Artinya, kita akan memiliki ingatan jangka pendek dan melupakan hal-hal baru yang baru saja kita lihat atau dengar,” ungkap Virgina.
Lebih jauh, disebutkan, kurang tidur dalam jangka panjang dapat menyebabkan banyak komplikasi kesehatan. Tetapi sebagian besar efek jangka panjang adalah efek non-kognitif, seperti obesitas, dan kematian dini. Dalam hal kognitif, itu dapat menyebabkan penurunan efisiensi secara keseluruhan, kurangnya penilaian yang solid dan peningkatan kesalahan.
"Sebagian besar dari efek ini juga permanen, karena tubuh kita tegang karena kurang tidur. Ini juga akan menyebabkan penurunan kemampuan otak untuk mengingat sesuatu, dan kita menjadi jauh lebih pelupa pada usia yang jauh lebih muda," jelasnya.
Di sisi lain, mahasiswa Bioteknologi i3L Michael mengatakan banyak alasan mengapa orang kurang tidur, bisa dari pekerjaan atau aktivitas yang mereka lakukan. Data statistic dari Sleep Cycle menunjukkan rata-rata waktu tidur yang dibutuhkan orang dewasa adalah 8 jam per hari. Akan tetapi kebanyakan orang tidur kurang dari 8 jam.
"Ketika orang kekurangan tidur, tubuh mereka akan berusaha mendapatkan kembali waktu istirahat yang dibutuhkan, ini mengakibatkan terjadinya microsleep yang tidak disengaja dalam aktivitas kita sehari-hari”, tutur Michael.
Setelah microsleep, jelasnya, kita dapat kehilangan sebagian dari kemampuan akusisi kognitif kita yang berarti tubuh memplejari hal-hal jauh lebih lambat dari seharusnya. "Kurang tidur dapat melemahkan kemampuan sistem saraf untuk mengingat hal-hal yang baru dipelajari, ini berarti seseorang akan jauh lebih mudah lupa dan menurunkan efisiensi kita dalam mempelajari hal-hal baru," ujarnya.
Lebih jauh, Virgina mengatakan kurang tidur memiliki banyak efek negatif baik jangka pendek maupun jangka panjang, terhadap kemampuan kognitif manuria. Efek jangka pendek adalah menghambat kemampuan untuk menerima informasi, membuat keputusan, kesadaran kita, dan rentang perhatian kita.
"Dalam jangka panjang, selain efek kesehatan non-kognitif, mereka juga memengaruhi kemampuan kita untuk mempertahankan ingatan, penilaian, dan kemampuan melakukan sesuatu dengan benar. Karena itu, kita harus memastikan tidak menderita kurang tidur," jelasnya. (RO/OL-15)
Pola gangguan kesehatan ini bahkan konsisten muncul pada hari ketiga Ramadan selama dua tahun terakhir.
Kepala BSKDN Kemendagri Yusharto Huntoyungo menegaskan capaian dan penghargaan inovasi daerah tidak boleh menjadi titik akhir dalam berinovasi.
Ancaman super flu, infeksi saluran pernapasan akibat virus influenza dengan gejala yang lebih berat dibanding flu biasa, kian menjadi perhatian.
Buku berjudul Mika & Maka: Berani ke Dokter karya kolaborasi Karen Nijsen dan Maria Ardelia menghadirkan kisah yang disampaikan secara hangat dan mudah dipahami agar anak takut ke dokter
Siapa sangka, golongan darah ternyata ikut berkaitan dengan risiko serangan jantung. Ini bukan mitos kesehatan.
Dengan teknologi bedah robotik, standar perawatan bedah tidak lagi dibatasi oleh jarak geografis, melainkan ditentukan oleh kualitas keahlian dan presisi teknologi.
Penelitian ini menawarkan rekomendasi yang dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi tantangan keamanan regional.
Para ilmuan menemukan bahwa bagian otak yang awalnya dianggap hanya memproses penglihatan ternyata dapat memicu gema sensasi sentuhan.
Resiliensi petani merupakan syarat penting jika pengelolaan usaha kelapa di provinsi tersebut ingin berkelanjutan.
Hasil penelitian menemukan persoalan kental manis bukan hanya perihal ekonomi, tetapi juga regulasi yang terlalu longgar.
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI menilai Kitab Fikih Zakat karya Dr. Nawawi Yahya Abdul Razak Majene sangat relevan bagi pengelolaan zakat di era modern.
Efikasi masyarakat dan norma kelompok terbukti lebih berpengaruh terhadap partisipasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dibandingkan pendekatan berbasis rasa takut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved