Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
PROGRES vaksinasi covid-19 bagi remaja dan lanjut usia (lansia) terus dipercepat. Sebanyak 18.598.447 remaja telah menerima vaksin dosis lengkap per Rabu, 26 Januari 2022.
“Jumlah itu setara 69,64 persen dari target 26.705.490 remaja,” tulis keterangan di laman vaksin.kemkes.go.id yang dikutip pada Kamis, (27/1).
Baca juga: BMKG: Hari Ini sebagian Kota Besar Indonesia Cerah Berawan
Sebanyak 24.022.924 remaja telah menerima vaksin dosis pertama. Jumlah itu sama dengan 89,96 persen dari target vaksinasi remaja.
Sementara itu, pemerintah menargetkan 21.553.118 lansia menerima vaksin covid-19. Sebanyak 47,22 persen di antaranya tuntas divaksinasi.
“Jumlahnya sebanyak 10.177.604 orang,” tulis data tersebut.
Lansia penerima dosis vaksin pertama mencapai lebih dari 71 persen. Jumlahnya sebanyak 15.493.525 orang.
“Atau setara dengan 71,89 persen,” bunyi keterangan itu. (H-3)
Riset terbaru menunjukkan vaksin Covid-19 berbasis mRNA seperti Pfizer dan Moderna dapat memicu sistem imun melawan sel kanker.
DUA tenaga kesehatan menerima vaksin Covid-19 di hari yang sama, pola respons antibodi setiap orang ternyata berbeda-beda menentukan berapa lama perlindungan vaksin bertahan
Pengurus IDI, Iqbal Mochtar menilai bahwa kekhawatiran masyarakat terhadap vaksin berbasis Messenger Ribonucleic Acid (mRNA) untuk covid-19 merupakan hal yang wajar.
Menteri Kesahatan AS Robert F. Kennedy Jr. membuat gebrakan besar dengan mencabut kontrak dan membatalkan pendanaan proyek vaksin berbasis teknologi mRNA, termasuk untuk covid-19.
Sejalan dengan penjelasan Kementerian Kesehatan yang menyebutkan vaksinasi booster covid-19 tetap direkomendasikan.
Pemakaian masker, khususnya di tengah kerumunan mungkin dapat dijadikan kebiasaan yang diajarkan kepada anak-anak.
Untuk menyiasati dampak negatif FOMO, kunci utamanya justru terletak pada fondasi yang dipupuk sejak dini di lingkungan keluarga.
Meta menekankan bahwa perlindungan terhadap anak tidak harus dilakukan dengan cara yang mengekang atau memantau seluruh isi percakapan secara berlebihan.
Fenomena keinginan bunuh diri pada remaja tidak dipicu oleh penyebab tunggal, melainkan akumulasi dari berbagai faktor yang kompleks.
Upaya pencegahan bunuh diri pada remaja dinilai perlu dimulai dari penguatan “jaring pengaman” di lingkungan terdekat, terutama sekolah dan keluarga.
Agar aturan gawai dapat berjalan efektif, orangtua perlu menerapkan pola asuh yang masuk akal dan kolaboratif.
Orangtua perlu membedakan penggunaan gawai untuk kebutuhan produktif dan hiburan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved