Jumat 17 Desember 2021, 17:34 WIB

Mitra Program Blue Abadi Fund Berbagi Pengalaman Konservasi di Papua Barat

Mediaindonesia.com | Humaniora
Mitra Program Blue Abadi Fund Berbagi Pengalaman Konservasi di Papua Barat

Dok Yayasan Kehati
Peserta lokakarya “Sharing Pembelajaran Implementasi Program BAF”

 

PERWAKILAN dari sembilan organisasi nonpemerintah yang berbasis di Papua Barat berbagi pengalaman dalam melaksanakan upaya-upaya konservasi dan pelestarian lingkungan di pesisir dan laut provinsi tersebut. Kesembilan organisasi tersebut adalah mitra-mitra penerima hibah Program Blue Abadi Fund (BAF). Kegiatab tersebut digelar di Manokwari, Selasa (14/12).

Lokakarya bertajuk “Sharing Pembelajaran Implementasi Program Blue Abadi Fund” ini diselenggarakan oleh Yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI), selaku administrator program, bersama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Barat.
 
"Tujuan utama dari lokakarya ini adalah sebagai forum bagi pembelajaran dari implementasi Program BAF sejak tahun 2017. BAF merupakan sebuah model pendanaan berkelanjutan yang bertujuan menyediakan arus pendanaan jangka panjang yang aman dan stabil guna mendukung kelestarian ekosistem dan spesies di Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) melalui kegiatan perlindungan dan pengelolaan sumber daya alam hayati secara berkelanjutan," ujar Gellwynn Daniel Hamzah Jusuf mewakili Program BAF

Adapun Deputi Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Bappenas Arifin Rudiyanto menjelaskan, pengelolaan laut dan pesisir, berdasarkan Rencana Pengelolaan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024, terdapat program-program prioritas nasional. Program itu antara lain memperkuat ketahanan ekonomi dan pertumbuhan yang berkualitas dan berkeadilan, hingga program peningkatan kualitas pengelolaan kemaritiman, perikanan, dan kelautan.

Sementara, Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Andi Rusandi yang menghadiri kegiatan secara daring, menyambut baik kegiatan ini, lalu meneruskan.

“Lokakarya ini dapat mendorong dan memperkuat pengelolaan keanekaragaman hayati di Indonesia pada umumnya, dan Provinsi Papua Barat pada khususnya, kemudian juga menyebarkan pembelajaran praktik terbaik dari pelaksanaan kegiatan," ujar Andi.

Sedangkan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Papua Barat, Jacobis Ayomi, M.Si., menegaskan, pihaknya berkomitmen atas pengelolaan modal alam secara lestari dan berkelanjutan. 

Untuk mewujudkan komitmen tersebut, menurut Jacobis, dibutuhkan kemitraan yang strategis dengan berbagai pemangku kepentingan baik di tingkat lokal, nasional, dan global. "Terima kasihn atas dukungan dari berbagai pihak yang mendukung program konservasi di wilayah BLKB Papua Barat, terkhusus USAID-Indonesia dan lembaga donor lainnya yang tergabung dalam Program BAF," ujarnya.

Sebagai informasi, lokakarya ini, selain merupakan berbagi pembelajaran dari implementasi program BAF yang telah berjalan semenjak 2017, sekaligus juga sebagai bentuk apresiasi kepada USAID-Indonesia. USAID-Indonesia merupakan salah satu pihak yang telah mendukung program pendanaan berkelanjutan dan upaya-upaya konservasi pesisir dan laut di wilayah BLKB di Papua Barat. Termasuk melalui Program BAF.

“Blue Abadi Fund adalah contoh nyata dari kerjasama yang baik antara pemerintah, LSM, akademisi, dan lembaga pembangunan lainnya seperti USAID dan Walton Family Foundation, untuk  melaksanakan program-program konservasi di Bentang Laut Kepala Burung (BLKB)," jelas perwakilan dari USAID-Indonesia Alexis Polovina.

Alexis menilai sangat penting memastikan kelestarian kawasan BLKB melalui tata kelola dan pengelolaan sumber daya alam yang baik. Pemerintah Amerika Serikat melalui USAID senang dapat mendukung Indonesia dalam  melindungi keanekaragaman hayati laut di kawasan ini untuk kesejahteraan generasi sekarang dan berikutnya.

Selain sambutan dari para tokoh tersebut di atas, lokakarya hari ini dibuka dengan penampilan dari salah satu mitra BAF, yaitu Kelompok Ekowisata Wadowun Beberin.  Dalam kesempatan kali ini, kelompok asal Kampung Aisandami, Kabupaten Teluk Wondama, ini membawakan satu babak dalam tarian penyambutan tamu yang berjudul “Penolakan.” 

Ketua rombongan dari Wadowun Beberin, Malania Hegemur, menyatakan, tarian tersebut menceritakan suatu masa di Teluk Wondama sebelum datangnya “terang,”. Terang yang dimaksud merujuk kepada masa sebelum diperkenalkannya kitab suci Injil; ketika masyarakat di sana berperang satu sama lain.

“Terima kasih kepada Program BAF yang telah mendampingi kami dari nol. Semoga bantuan dari Program BAF dapat terus menunjang perkembangan kelompok kami ke depannya agar kami bisa lebih baik lagi dan bertambah maju. Kami bercita-cita supaya Kampung Aisandami di Teluk Wondama bisa menjadi (destinasi wisata) seperti Bali, Raja Ampat," tandas Malania.


Rampung sesi pembukaan, lokakarya dilanjutkan dengan sesi presentasi yang diawali oleh Meity Ursula Mongdong dari Conservation International (CI) Indonesia dalam kapasitasnya sebagai anggota Komite Penasihat Konservasi dan Sains dari Program BAF, lalu Rony Megawanto, Direktur Program dari Yayasan KEHATI, dan Haerul Arifin, S.Hut., M.Si., dari Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Papua Barat. Presentasi lalu dilanjutkan dengan paparan mengenai pengalaman kerja konservasi di Papua Barat dari mitra-mitra Program BAF.

Secara keseluruhan, lokakarya ini diikuti oleh 73 partisipan yang menghadiri secara langsung, dan 46 partisipan secara daring. Kegiatan ini juga menghadirkan mitra-mitra Program BAF sebagai narasumber, yaitu Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Daerah (BLUD UPTD) Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Kepulauan Raja Ampat, Yayasan Penyu Papua (YPP), Yayasan Nazaret Papua Barat (YNPB), Yayasan Misool Baseftin (YMB), Konsorsium Mitra Bahari (KMB) Papua Barat, dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Raja Ampat. (OL-8)

Baca Juga

MI/ HO

Koalisi Masyarakat Serahkan Petisi Darurat Perubahan Iklim ke KSP

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 12 Agustus 2022, 13:22 WIB
Novita berharap pemerintah tidak kecolongan lagi seperti saat penanganan pandemi...
Freepik

Guru Besar IPB Perkirakan Tahun 2029, 1 dari 2 Orang Dewasa Alami Obesitas

👤Atalya Puspa 🕔Jumat 12 Agustus 2022, 12:18 WIB
Penyebab obesitas terdiri dari dua faktor utama, yaitu faktor biologi dan flingkungan. Faktor biologi terdiri dari genetik, mikrobiota...
Dok. SWISS-belhotel Pondok Indah

Yuk, Nikmati Paket Liburan Keluarga Di Swiss-belhotel Pondok Indah

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 12 Agustus 2022, 11:56 WIB
Paket berlaku hari Jumat hingga Minggu dengan harga Rp2.888.888 net sudah termasuk 2 malam menginap di kamar Family Two Bedroom atau...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya