Rabu 15 Desember 2021, 12:49 WIB

Diabetes Indonesia Peringkat 5 Dunia, Deteksi Dini dan Pengobatan Jadi Tantangan

Eni Kartinah | Humaniora
Diabetes Indonesia Peringkat 5 Dunia, Deteksi Dini dan Pengobatan Jadi Tantangan

Ist
Komuter melakukan cek gula darah gratis di Stasiun Tanah Abang, Jakarta.

 

Kuntadi masih ingat benar kejadian setahun lalu. Dalam perjalanan pulang dari kantor menggunakan mobil yang dipesannya lewat aplikasi ojek online, tiba-tiba dadanya terasa sangat nyeri. Seolah ada beban teramat berat yang menekan dadanya, sehingga bernapas pun sulit dilakukan. Beruntung, sang sopir sigap, mengubah arah menuju rumah sakit terdekat.

“Rupanya saya kena serangan jantung. Untung saya bisa dapat penanganan cepat,” ujar laki-laki berusia 57 tahun itu mengisahkan pengalamannya.

Setelah melewati masa-masa genting dan kondisinya stabil, ia mendapat penjelasan dari dokter tentang kondisinya. Di sinilah Kuntadi mendapat ‘kejutan’, dia dinyatakan mengidap diabetes melitus.

“Saya sempat tidak percaya penjelasan dokter, selama ini saya merasa sehat-sehat saja. Kata dokter, kemungkinan sudah lama saya diabetes, tapi baru ketahuan saat itu. Menurutnya, diabetes itu salah satu faktor yang bikin saya kena gangguan di jantung. Jadi saya diingatkan untuk rutin minum obat dan kontrol. Kalau tidak, diabetes saya bisa makin parah dan bisa kena serangan (jantung) lagi,” tuturnya.

Pengalaman Kuntadi menunjukkan diabetes acap kali muncul tanpa disadari. Kuntadi tak sendirian, banyak orang lain yang mendapat ‘kejutan’ serupa, baru ketahuan mengidap diabetes melitus ketika sudah terkena komplikasinya.

Pada peringatan Hari Diabetes Sedunia beberapa waktu lalu, Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menyebutkan diabetes di Indonesia seperti fenomena ‘gunung es’

“Pada survei yang kita lakukan di Jakarta, ternyata yang terdeteksi hanya sepertiga dari angka keseluruhan. Saat dilakukan survei pada orang ‘sehat’, 2/3 lebih mereka tidak tahu menderita diabetes. Ini fenomena gunung es,” katanya.

Hal senada disampaikan dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrinologi, metabolisme dan diabetes, dr. Wismandari Wisnu, Sp.PD-KEMD.

“Sebagian besar kasus diabetes di Indonesia tidak terdiagnosis. Pasien yang berobat dan terdiagnosis diabetes umumnya datang dengan setidaknya satu komplikasi,” ujar pakar diabetes dari FKUI/RSCM itu, pada webinar belum lama ini.

Padahal, lanjutnya, ketika sudah terjadi komplikasi, penanganan menjadi lebih sulit dan berbiaya mahal. Komplikasi yang disebabkan oleh diabetes antara lain penyakit jantung koroner, stroke, gagal ginjal, luka diabetik, kebutaan, dan kerusakan saraf.

Data Center for Health Economics and Policy Studies Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Persatuan Endokrinologi Indonesia pada 2016 menyebutkan, pemerintah menghabiskan 74 persen anggaran kesehatan untuk mengobati komplikasi diabetes (Hidayat, et al. Direct medical cost of Type 2 diabetes mellitus and its associated complications in Indonesia based on 2016 BPJS Data).

Di sinilah pentingnya meningkatkan pemahaman masyarakat akan diabetes agar mereka lebih waspada dan terdorong untuk melakukan deteksi dini.

Terkait deteksi dini, Direktur Indonesian Diabetes Institute Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD-KEMD mengatakan, masyarakat yang memiliki faktor risiko perlu melakukan pemeriksaan gula darah secara berkala untuk deteksi dini.

Faktor risiko tersebut antara lain memiliki orangtua atau saudara kandung yang mengidap diabetes, berusia memiliki gaya hidup minim gerak, obesitas, merokok, dan bagi perempuan, pernah melahirkan bayi dengan berat 4 kg ke atas.

“Kalau punya faktor risiko tersebut, periksa kadar gula darah secara berkala. Kalau gula darahnya masih di kisaran prediabetes (di atas normal tapi belum masuk kategori diabetes), itu masih bisa dicegah dengan perubahan gaya hidup agar jangan sampai menjadi diabetes,” kata Prof. Sidartawan.

Adapun untuk mereka yang telanjur didiagnosis diabetes, lanjutnya, tidak perlu khawatir. Meski sebagian besar kasus diabetes tidak bisa disembuhkan, tapi bisa dikontrol dengan menjalani pengobatan. Dengan demikian, komplikasi berbahaya bisa dicegah dan bisa menjalani hidup produktif.

Peran Insulin

Pengobatan diabetes bisa dilakukan dengan obat-obatan oral (diminum) dan penggunaan insulin. Untuk pemakaian obat, masyarakat relatif lebih bisa ‘menerima’.

Namun untuk pemakaian insulin, masih ada sebagian masyarakat yang punya pemahaman keliru. Mereka berpikir bahwa insulin merupakan alternatif terakhir yang baru perlu dipakai ketika kondisi penyakitnya sudah sangat parah dengan berbagai komplikasi. Padahal, penggunaan insulin sejatinya ditujukan untuk mencegah komplikasi.

“Pengobatan diabetes awalnya dimulai dengan ditemukannya insulin 100 tahun lalu. Selanjutnya, seiring dengan majunya ilmu pengetahuan, didapatkan obat-obatan baru untuk diabetes. Akan tetapi, sampai saat ini, peran insulin dalam pengelolaan diabetes masih menjadi yang utama,” ujar dr. Wismandari.

Insulin, lanjutnya, diberikan saat pengobatan antiglikemik oral tidak mencapai target atau tidak lagi memberikan respons yang adekuat untuk mengontrol gula darah, juga pada kondisi khusus seperti penyakit akut, tindakan bedah, atau kehamilan. “Pemberian insulin lebih awal untuk mencapai kontrol gula darah akan mencegah komplikasi diabetes,” tegasnya.

Selama satu abad terakhir, pengembangan insulin terus dilakukan oleh berbagai pihak, menghasilkan sejumlah insulin generasi baru. Insulin generasi baru ini membuat prosedur pengobatan diabetes menjadi lebih fleksibel dan mempermudah pengidap diabetes dalam mengontrol gula darah.

Kolaborasi Atasi Tantangan

International Diabetes Federation (IDF) Atlas edisi ke-10 menyebutkan, di Indonesia, jumlah penderita diabetes terus meningkat, dari 10,7 juta orang pada 2019 menjadi 19,5 juta orang pada 2021. Tahun ini, Indonesia menduduki peringkat kelima negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia, naik dari peringkat tujuh tahun lalu.

Selain menghadapi fenomena ‘gunung es’, yakni masih banyak orang dengan diabetes yang tidak terdiagnosis, Indonesia juga menghadapi tantangan dalam hal pengobatan.

Studi menunjukkan lebih dari 70 persen orang dewasa dengan diabetes tipe-2 di Indonesia tidak berhasil mencapai target HbA1c di bawah 7% (Soetedjo et al, Trop Med and Int Health, 2018). Padahal pemenuhan target HbA1c dalam pengobatan diabetes sangat penting untuk mencegah komplikasi.

Tentu saja, dalam mengatasi berbagai tantangan itu, pemerintah tidak bisa bekerja sendirian, diperlukan kolaborasi dengan berbagai pihak. Dalam hal ini, Denmark melalui kedutaan besarnya di Indonesia, serta perusahaan perawatan kesehatan Novo Nordisk, menjadi mitra penting Indonesia yang berperan dalam sejumlah program kerja sama.

Dalam memperingati Hari Diabetes Sedunia dan hari jadi insulin ke-100, Novo Nordisk, Kementerian Kesehatan RI, dan Kedutaan Besar Denmark berkolaborasi menggelar serangkaian kegiatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap diabetes. Antara lain, penyediaan booth di Stasiun Kereta Tanah Abang yang bisa dimanfaatkan oleh para komuter untuk melakukan tes gula darah.

Kegiatan serupa juga dilakukan di Pasar Tanah Abang. Ratusan karyawan Pasar Tanah Abang dapat menjalani pemeriksaan kesehatan untuk mengecek risiko diabetes. Ada pula Monas Blue Light yang merupakan bagian dari Blue Monument Challenge. Kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan dan pengobatan diabetes.

“Hari Diabetes Sedunia merupakan kegiatan tahunan yang menunjukkan bahwa masih ada organisasi global, regional, dan komunitas yang senantiasa mendukung upaya pengentasan penyakit ini. World Diabetes Day dapat menjadi kesempatan untuk berbagi informasi mengenai pencegahan diabetes dan meminta tambahan sumber daya dan perhatian yang lebih memadai. Kami meningkatkan kolaborasi dengan pemerintah Indonesia dalam meningkatkan kesadaran diabetes dan menyediakan akses pengobatan bagi penderita di Indonesia,” ujar Duta Besar Denmark untuk Indonesia, H.E. Lars Bo Larsen.

Novo Nordisk juga menyatakan komitmen mereka untuk bekerja sama dengan otoritas kesehatan dan mitra terkait di Indonesia dalam mencegah dan mengobati diabetes. “Bersama dengan Kementerian Kesehatan RI, kami akan meningkatkan dan memperkuat upaya kami untuk menyediakan pengobatan diabetes yang berkelanjutan di Indonesia dengan memberikan diagnosis dini dan pengendalian yang optimal,” ujar Vice President & General Manager Novo Nordisk Indonesia, Anand Shetty.

Untuk menjangkau sebanyak mungkin orang dengan diabetes di Indonesia, Novo Nordisk pun melakukan berbagai kampanye dan edukasi mengenai diabetes, bergabung dengan gerakan global Changing Diabetes in Children, menyediakan berbagai produk inovatif, dan mendukung pemerintah dalam berbagai pendekatan yang bersifat preventif.

“Salah satu kolaborasi kami mendatang adalah chatbot diabetes. Masyarakat bisa mendapatkan informasi mengenai diabetes melalui platform WhatsApp. Kami berharap chatbot ini dapat menjadi sumber informasi utama mengenai diabetes,” pungkas Anand Shetty. (Nik/OL-09)

 

 

 

Baca Juga

Antara

Petani Dukung Rencana Pemerintah Audit Seluruh Perusahaan Sawit

👤Insi Nantika Jelita 🕔Jumat 27 Mei 2022, 14:38 WIB
Menurut serikat petani, audit sangat diperlukan untuk membenahi industri sawit. Pemerintah pun diminta serius dan menjangkau seluruh...
Ist

Semarak Surabaya 729 Tahun, The Alana Surabaya Ajak Tamu Cicipi Kuliner

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 27 Mei 2022, 14:32 WIB
Selain untuk memeriahkan ulang tahun Kota Surabaya, program ini diadakan untuk memfasilitasi para tamu The Alana Surabaya yang datang...
DOK/HUMAS UPI

UPI Bandung Loloskan 20 Mahasiswa pada Program IISMA ke 11 Negara

👤Naviandri 🕔Jumat 27 Mei 2022, 14:20 WIB
Ke 20 mahasiswa UPI tersebut akan mengikuti perkuliahan di 19 universitas di 11 negara...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya