Jumat 26 November 2021, 10:30 WIB

Ini yang Harus Diperhatikan Saat Transisi dari WFH Kembali ke WFO

Basuki Eka Purnama | Humaniora
Ini yang Harus Diperhatikan Saat Transisi dari WFH Kembali ke WFO

MI/RAMDANI
Afika, salah satu pegawai perusahaan swasta menyelesaikan pekerjaan di rumah, Jakarta.

 

TRANSISI bekerja dari rumah (work from home/WFH) menuju bekerja di kantor (work from office/WFO) setelah selama hampir dua tahun pandemi covid-19 menciptakan kendala tersendiri bagi sebagian orang.

WFH menciptakan kebiasaan baru yang mempengaruhi aktivitas sehari-hari kaum pekerja, misalnya waktu bangun tidur, pola makan, jam kerja, hingga waktu interaksi bersama keluarga.

Sebaliknya, WFO memberikan tantangan baru karena pekerja harus kembali pada rutinintas yang melibatkan banyak energi, yakni bangun lebih awal, menembus kemacetan lalu lintas, mengatur ulang pengeluaran untuk transportasi, dan makan di luar rumah, hingga waktu makan dan istirahat yang berubah.

Baca juga: Kesehatan Jiwa dan Mental Benteng Melawan Pandemi

Jika WFH membuat Anda bisa bekerja dari balik layar, WFO menuntut lebih banyak energi untuk bergerak sehingga kondisi kesiapan fisik sangat diperlukan. 

Bagi Anda yang mulai menjalani WFO, simak tips singkat berikut agar lebih mudah menjalani transisi dari WFH, dilansir dari berbagai sumber:

Olahraga untuk  mengembalikan kebugaran tubuh

Kebanyakan rebahan ditambah minimnya aktivitas fisik saat bekerja dari rumah (WFO) akan menghambat metabolisme tubuh yang berimbas pada menurunnya kebugaran.

Kondisi akan semakin buruk apabila Anda tidak mengatur pola makan sesuai jadwal, sehingga bobot tubuh menjadi tidak ideal, kehilangan massa otot karena kurang gerak, bahkan berpotensi membuat jantung dan paru-paru melemah.

Hal tersebut tentunya akan menyulitkan Anda untuk bergerak lincah saat beraktivitas normal dan membuat lebih mudah merasa letih sehingga mengganggu produktivitas pekerjaan.

Guna mencegah hal itu, Anda perlu kembali berolahraga dengan tingkatan yang disesuaikan secara bertahap.

Melansir American College of Sports Medicine (ACMS), manusia dianjurkan berolahraga minimum 30 menit setiap harinya untuk menjaga kebugaran tubuh.

Jangan cemas, 30 menit olahraga itu bisa Anda siasati dengan aktivitas ringan semisal jalan cepat, jogging, atau kombinasi antara keduanya. 

Jika bekerja di gedung perkantoran, Anda bisa memanfaatkan tangga manual untuk melatih kembali fisik secara bertahap.

Perhatikan kesehatan kulit

Terlalu lama berada di rumah juga membuat Anda lupa untuk menjaga kesehatan dan kebersihan kulit. Tentunya butuh waktu untuk menyegarkan kembali wajah Anda saat mulai WFO.

Kevin Andrian, dokter lulusan Fakultas Kedokteran Unika Atmajaya Jakarta, menyebut pandemi menciptakan masalah kulit bernama skindemi, yang tercipta akibat pemakaian masker yang terlalu lama sehingga menyebabkan kulit menjadi kusam, kemerahan, gatal, dan mudah berjerawat.

Skindemi akan semakin buruk apabila sering membuka-tutup masker saat beraktivitas karena area wajah di sekitar masker menjadi rawan terpapar kuman dan tentunya juga menaikkan risiko terkena covid-19.

Selain itu, penggunaan masker dalam waktu lama juga membuat pori-pori mudah tersumbat dan berpotensi menjadi tempat bakteri dan kuman berkembang biak.

Untuk itu, pastikan Anda menggunakan masker yang bersih dan jangan lupa membawa beberapa helai masker cadangan saat berativitas di luar ruangan. Pastikan juga kebersihan tangan Anda saat menyentuh masker dan wajah.

Utamakan Prokes

Protokol kesehatan adalah hal utama saat Anda kembali bekerja di luar rumah. Jangan lupa untuk tetap menjaga jarak dengan rekan kerja atau saat memakai angkutan umum

Perhatikan juga kebersihan fasilitas kantor yang digunakan bersama-sama, kapasitas gedung, serta optimalkan aplikasi tracing semisal PeduliLindungi.

Berhenti merokok

Ingatlah bahwa pandemi belum berakhir dan Anda tetap diwajibkan menaati prokes dengan memakai masker dan membersihkan tangan saat beraktivitas di luar rumah.

Para perokok tentunya akan kesulitan menemukan tempat untuk merokok di luar ruangan karena harus melepaskan masker. Selain itu, rokok juga bisa menjadi media perpindahan bakteri hingga virus dari tangan perokok ke mulut.

Untuk itu, daripada memaksakan diri untuk merokok dengan risiko yang besar, termasuk berbagai penyakit yang disebabkan asap pembakaran rokok. Ada baiknya Anda memikirkan untuk berhenti total.

Rokok juga menjadi biang keladi terciptanya bau mulut, dan sejumlah penyakit oral lainnya imbas residu hasil dari pembakaran. Sementara produk-produk tembakau alternatif yang tidak melalui proses pembakaran tidak menghasilkan residu. (Ant/OL-1)

Baca Juga

Medcom.id

Pemerhati Musik dan Jurnalis Senior Bens Leo Wafat di Usia 69 Tahun

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 29 November 2021, 10:24 WIB
Wartawan senior dan pemerhati musik Indonesia, Bens Leo meninggal dunia hari ini dalam usia 69 tahun di rumah sakit Fatmawati, Jakarta...
dok.tangkpan layar

Memaknai Ulang Asnaf Zakat, WHRD sebagai Asnaf fi Sabilillah

👤Muhamad Fauzi 🕔Senin 29 November 2021, 10:07 WIB
ZAKAT bagi Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan...
Dok.MI/Youtube

Virus Omicron Merebak, Satgas Keluarkan SE No.23 Tentang Protokol Perjalanan Internasional

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 29 November 2021, 09:48 WIB
Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito menyebutkan perlunya penyesuaian mekanisme...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya