Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH telah menurunkan tarif tes PCR menjadi Rp275 ribu untuk pulau Jawa dan Rp300 ribu untuk luar Jawa. Menanggapi hal itu, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengungkapkan, penurunan harga saja tidak cukup. Meskipun respon pemerintah terbilang baik, namun pemerintah juga perlu membeberkan secara transparan mengenai rincian tarif tes PCR tersebut kepada masyarakat.
"Pemerintah belum transparan terkait harga tes PCR tersebut. Berapa sesungguhnya struktur biaya PCR, dan berapa persen margin profit yang diperoleh oleh pihak provider? Ini masih tanda tanya besar," kata Tulus saat dihubungi, Kamis (28/10).
Selanjutnya, setelah penurunan harga, pemerintah juga dinilainya harus melakukan pengawasan terhadap penerapan tarif di lapangan. Sebab, lanjut Tulus, saat ini banyak sekali provider yang menetapkan harga PCR diatas harga HET yang ditetapkan pemerintah, dengan alasan PCR Ekspress dengan tarif bervariasi, mulai dari Rp650 rb, Rp750 rb, Rp900 rb, hingga Rp1,5 juta.
"Selain itu, pemerintah juga harus menurunkan masa uji lab, yang semula 1×24 jam bisa diturunkan menjadi maksimal 1x12 jam guna menghindari pihak provider/lab, mengulur waktu hasil uji lab tersebut," ungkap Tulus.
Kemudian, ia melanjutkan, terkait wacana bahwa semua moda transportasi yang akan dikenakan wajib PCR, hal tersebut dilakukan jika harga PCR bisa diturunkan lagi secara lebih signifikan, misalnya menjadi Rp100 ribu.
Baca juga: Buruh Minta UMP Naik 20%, Wagub DKI: Akan Dikaji
"Sebab jika tarifnya masih Rp 300 ribu, mana mungkin penumpang bus suruh membayar PCR yg tarifnya lebih tinggi daripada tarif busnya itu sendiri?" tanya Tulus.
Di samping penurunan harga PCR bagi transportasi umum, YLKI juga mempertanyakan soal pengawasan pada pengguna kendaraan peribadi. Pasalnya, menurut Tulus selama ini tak ada pengendalian kendaraan pribadi, baik roda empat dan atau roda dua.
"Jika tak ada pengendalian yang konsisten dan setara, ini hal yang diskriminatif," tegas Tulus.
Untuk itu, ia mengungkapkan, YLKI menyarankan tidak semua moda transportasi harus dikenakan PCR atau antigen, karena akan menyulitkan dalam pengawasannya.
"Kembalikan tes PCR untuk keperluan dan ranah medis, karena toh sekarang sudah banyak warga yang divaksinasi," pungkas Tulus. (OL-4)
Melihat ancaman besar terhadap keberlanjutan layanan kesehatan dasar, dr. Harmeni mendirikan Symptomedic, platform telemedisin dan layanan pengantaran obat.
ANCAMAN kesehatan global kembali muncul dari Tiongkok. Setelah virus corona yang menyebabkan pandemi covid-19, kali ini virus baru influenza D (IDV) ditemukan.
Sengketa gaji Cristiano Ronaldo dengan Juventus terkait penundaan pembayaran saat pandemi covid-19 masih berlanjut. Putusan arbitrase dijadwalkan 12 Januari 2026.
Teknologi vaksin mRNA, yang pernah menyelamatkan dunia dari pandemi covid-19, kini menghadapi ancaman.
Menteri Kesahatan AS Robert F. Kennedy Jr. membuat gebrakan besar dengan mencabut kontrak dan membatalkan pendanaan proyek vaksin berbasis teknologi mRNA, termasuk untuk covid-19.
Studi Nature Communications ungkap pandemi Covid-19 mempercepat penuaan otak rata-rata 5,5 bulan, meski tanpa infeksi. Siapa yang paling terdampak?
PEMERINTAH Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, masih menunggu instruksi Pemerintah Pusat untuk melakukan penanganan Covid-19.
KETUA Satgas covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Erlina Burhan, menyarankan masyarakat untuk tetap melaksanakan vaksinasi ke-4 atau booster ke-2.
Achmad menyebut bahwa pemberian uang jasa pelayanan medis Covid-19 tidak berpedoman pada aturan yang berlaku
Presiden Joko Widodo akan membubarkan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 setelah pemerintah resmi mencabut status kedaruratan pandemi di Indonesia.
Kasus covid-19 di Indonesia bertambah 565 pada Minggu, 9 April 2023. Total kasus konfirmasi positif di Indonesia mencapai 6.751.168 orang.
Coba ingat-ingat lagi wajah orang terdekat kita yang telah tiada. Begitu pula deretan angka yang hingga kini masih terpampang di laman situs covid19.go.id. Mereka bukan statistik belaka.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved