Kamis 19 Agustus 2021, 18:37 WIB

Rumah Sakit Akui Kesulitan Menyesuaikan Harga Baru Tes PCR

Atalya Puspa | Humaniora
Rumah Sakit Akui Kesulitan Menyesuaikan Harga Baru Tes PCR

Antara
Petugas kesehatan saat memanggil warga untuk menjalani tes PCR di bandara.

 

KALANGAN rumah sakit menyatakan kalang kabut untuk bisa menyesuaikan biaya tes PCR yang baru ditetapkan Kementerian Kesehatan. Hal tersebut diungkapkan dokter spesialis patologi klinik Aryati.

"Kawan-kawan saya direktur rumah sakit pada panik. Ini menjadi kepanikan nasional saat mereka harus menyesuaikan harga, tapi tidak ada waktu," ujar Aryati dalam konferensi pers virtual, Kamis (19/8).

Menurutnya, penentuan biaya tes PCR merupakan hal yang kompleks. Sebab, banyak komponen yang harus diperhitungkan. Seperti, biaya bahan baku, sumber daya manusia, biaya listrik, kebersihan, pemeliharaan, pengulangan testing, hingga pengelolaan limbah.

"Agak khawatir nantinya berpengaruh pada kualitas, kalau ada harga yang dipotong," pungkasnya.

Baca juga: Presiden Instruksikan Harga Tes PCR Maksimal Rp550 Ribu

Lebih lanjut, Aryati menegaskan bahwa pihaknya mendukung upaya pemerintah dalam penanganan covid-19. Namun, dengan penentuan harga yang sangat mendadak, banyak rumah sakit yang kewalahan. 

Apalagi, pihaknya harus menghabiskan terlebih dahulu stok alat yang ada. Selanjutnya, perlu dilakukan penghitungan yang detil mengenai penyesuaian pengeluaran. Hal tersebut dilakukan agar kualitas testing bagi masyarakat dan keamanan bagi petugas kesehatan.

"Kalau mau naikin harga, silakan. Tapi untuk awal ini, bisa untuk rumah sakit pemerintah dulu. Untuk (rumah sakit) swasta, berikan waktu. Kira-kira 2-3 minggu ke depan. Karena kita minta tenggang waktu menghabiskan stok reagen dan lain-lain," jelasnya.

Ketua Ikatan Laboratorium Kesehatan Indonesia (ILKI) Purwanto mengungkapkan kesulitan juga dirasakan laboratorium. Pihaknya menilai aturan mengenai harga alat komponen PCR hulu- hilir belum disesuaikan. Masih banyak alat yang harus diimpor, sehingga membuat biaya pelayanan tergolong tinggi.

Baca juga: Pemprov Klaim Tarif Tes PCR di Jakarta Sudah Turun

"Membuat harga memang harus dipikirkan komponen di dalamnya. Gak boleh lembaga dan rumah sakit swasta disamakan dengan fasilitas pemerintah. Ini nyaris tidak mungkin. Misalnya rumah sakit negeri dapat subsidi. Kalau swasta kan semua komponen masuk," urai Purwanto

Sekretaris Jenderal Perkumpulan Perusahaan Alat Kesehatan dan Laboratorium di Indonesia Randy H. Teguh menyebut 50-60% biaya PCR dialokasikan untuk pembelian alat kesehatan. Seperti, masker, APD, shoe cover, reagen hingga mesin PCR. Namun, kebanyakan alat tersebut masih belum diproduksi di dalam negeri.

"Misalnya untuk produsen reagen, dari 48 yang ada saat ini, hanya 3 yang merupakan produsen dalam negeri. Juga untuk mesin PCR, dari 28 podusen hanya 2 yang produksi dalam negeri," pungkas Randy.(OL-11)

Baca Juga

Ist

Tak Hanya Pendidikan, Kiprah YAPI Turut Sehatkan Anak Bangsa

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 27 Mei 2022, 13:15 WIB
Yayasan Asrama Pelajar Islam mengajak masyarakat untuk mendonorkan darahnya; mengingat betapa berartinya setetes darah bagi kehidupan...
Wikipedia

1895:Rontgen Temukan Sinar X

👤History | BBC | Dok MI 🕔Jumat 27 Mei 2022, 13:15 WIB
WILHELM Conrad Rontgen ialah seorang fisikawan Jerman. Ia menerima Hadiah Nobel Fisika pada 1901 untuk penemuan sinar...
Dok GPDRR

15 Orang yang Positif saat GDPRR di Bali Tengah Jalani Isolasi

👤Indriyani Astuti 🕔Jumat 27 Mei 2022, 12:32 WIB
Adapun delegasi, maupun peserta yang mengikuti acara secara luring memasuki lokasi acara telah dinyatakan negatif dari virus...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya