Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
TEKNOLOGI Modifikasi Cuaca (TMC) untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan akan kembali dilaksanakan pada 14 Agustus 2021 mendatang.
"TMC akan mulai pada 14 Agustus. Karena pesawat baru siap di tanggal itu," kata Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Jon Arifian kepada Media Indonesia, Kamis (12/8).
Adapun, Jon Mengungkapkan rencananya TMC akan dilakukan mulai dari Riau, selanjutnya ke wilayah Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat.
Sebagai informasi, sebelumnya TMC untuk pencegahan karhutla terakhir dilaksanakan pada 3 Juli 2021 lalu di Riau. Adapun, operasi TMC tersebut berhasil menambah 2% curah hujan di wilayah tersebut.
Sebelumnya, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengungkapkan Indeks ENSO Juli 2021 menunjukkan kondisi netral dan diprakirakan kondisi ini berlangsung hingga awal tahun 2022.
Sebanyak 72% daerah zona musim telah memasuki musim kemarau, hari tanpa hujan berada pada kategori ekstrem panjang terpantau di beberapa daerah seperti NTB dan NTT.
“Bulan Agustus - Oktober 2021 curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia masuk kategori rendah, sedangkan November - Januari 2021 kategori menengah hingga tinggi. Potensi karhutla berada di Sumatera bagian tengah dan sebagian NTB (Nusa Tenggara Barat) dan NTT, (Nusa Tenggara Timur),” jelas Dwikorita.
Berdasarkan pemantauan BMKG pada 28 Juli 2021, BMKG telah mencatat adanya 3 titik panas dengan level high convidence di Riau dan Sumatera Selatan dan 16 titik di Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara. Adapun, dalam 10 hari terakhir, jumlah hotspot di Riau berjumlah sebanyak 39 titik dan Kalimantan Barat sebanyak 72 titik.
Untuk itu, mengingat sejumlah wilayah yang telah memasuki musim kemarau dan munculnya titik panas, maka BMKG mengimbau sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan untuk mewaspadai kemuculan karhutla.
Wilayah tersebut ialah Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, dan Lampung. Selanjutnya Kalimantan tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Terpisah, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Laksmi Dhewanthi mengungkapkan mengingat titik hotspot saat ini terbanyak terjadi di Provinsi Riau dan Kalimantan Barat, pihaknya akan meningkatkan pemantauan yang lebih ketat dan upaya penanganan yang lebih giat lagi.
“Kegiatan pemadaman darat dalam beberapa minggu terakhir menunjukan Riau dan Kalimantan Barat masih melakukan upaya pemadaman dan terus bersiaga agar tidak ada api yang membesar,” ungkap Laksmi.
Laksmi menambahkan kebakaran yang terjadi di Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumsel, Kalteng, Kalbar, Kaltim dan Kaltara juga sudah berhasil dipadamkan, ke depan perlu terus meningkatkan kesiap-siagaan untuk mengantisipasi kejadian karhutla.
“Kita terus mengantisipasi agar luas karhutla pada tahun 2021 ini tidak lebih tinggi dari angka pada tahun 2020 untuk itu kami terus meningkatkan upaya dengan melibatkan berbagai pihak,” jelas Laksmi.
Laksmi menambahkan beberapa upaya yang masih terus dilaksanakan adalah Patroli Mandiri Manggala Agni dan Patroli Terpadu yang terus dilaksanakan di berbagai provinsi rawan karhutla.
Sedangkan upaya TMC perlu terus dilaksanakan di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan.TMC telah berhasil meningkatkan jumlah curah hujan dibandingkan dengan jumlah alaminya.
“Di Riau, Kalimantan Barat, Jambi dan Sumatera Selatan juga terus dilaksanakan waterbombing untuk membantu pemadaman darat, jelas Laksmi.
Ia menjabarkan, berkat upaya pencegahan yang dilakukan, terdapat penurunan jumlah hotspot pada 2021 dibanding tahun lalu. Untuk tahun ini sejak Januari hingga Juli 2021 terdapat 684 jumlah titik panas atau menurun sebanyak 32,4% dibanding tahun lalu. (Ata/OL-09))
Pemerintah kini mengedepankan perubahan paradigma pengendalian karhutla dengan fokus utama pada pencegahan sebagai langkah antisipatif.
Studi terbaru Cedars-Sinai mengungkap lonjakan drastis serangan jantung dan gangguan paru pasca-kebakaran hutan LA Januari 2025.
PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) Riau akan mengakhiri masa status siaga darurat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) pada 30 November 2025.
Efikasi masyarakat dan norma kelompok terbukti lebih berpengaruh terhadap partisipasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dibandingkan pendekatan berbasis rasa takut.
BMKG melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) 2025 untuk mengantisipasi cuaca ekstrem dan mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai daerah.
CUACA sangat terik di Lembata, Nusa Tenggara Timur, akhir-akhir ini memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin masif.
Prakirawan Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Lestari Purba di Medan, Selasa, mengatakan, secara umum cuaca di Sumatera Utara
Tinggi gelombang antara 1,25-2,5 meter (sedang) berpeluang terjadi di perairan Laut Sulawesi, perairan utara Sulawesi Utara, dan perairan Kabupaten Minahasa Utara.
BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menerangkan adanya awan Cumulonimbus saat pesawat ATR 42-500 jatuh di Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1) lalu.
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi awan Cumulonimbus (Cb) di Maros, Sulawesi Selatan, bertepatan dengan peristiwa jatuhnya pesawat ATR 42-500, Sabtu (17/1).
Adanya Bibit Siklon Tropis 97S di Samudra Hindia selatan Indonesia dengan kecepatan angin maksimum sekitar sistem mencapai 15 knot (28 km/jam) dan tekanan udara 1001 hPa.
Suhu udara rata-rata 11 hingga 32 derajat Celcius dengan kelembaban udara 56-99 persen dan angin bertiup dari Selatan hingga Barat dengan kecepatan 3 hingga 7 km per jam.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved