Sabtu 10 Juli 2021, 09:20 WIB

Epidemiolog UGM: Penyebab Banyak Nakes yang Wafat harus Diungkap

Ardi T Hardi | Humaniora
Epidemiolog UGM: Penyebab Banyak Nakes yang Wafat harus Diungkap

MI/Ramdani
Tenaga kesehatan (nakes) sudah divaksin tapi mengapa angka kematian karena Covid-19 tinggi, ini perlu diteliti.

 

EPIDEMOLOG UGM, Bayu Satria Wiratama, S.Ked., MPH., mengatakan, pemberian vaksin dosis ketiga sebenarnya belum mendesak. Menurut dia, penelitian lebih lanjut terkait yang menjadi penyebab kematian bagi nakes perlu dilakukan.

Menurut dia, penyebab pasti banyak tenaga kesehatan (nakes) yang meninggal dunia lebih penting untuk diungkap. Pasalnya, berdasarkan asumsi, para Nakes sudah banyak yang mendapatkan vaksinasi, tapi kenapa masih terkena dan angka kematiannya masih tinggi?

"Apakah memang efektivitas vaksin yang rendah atau ada penyebab lain?" kata Bayu, Sabtu (10/7), dalam siaran pers dari UGM.

Ia mengungkapkan, bukti yang ada belum kuat bahwa dosis ketiga apakah ini diperlukan terutama untuk varian Delta. Selain itu, bukti yang ada juga masih sangat sedikit terkait varian Delta menyebabkan Covid-19 lebih parah daripada varian sebelumnya masih sangat sedikit. Oleh sebab itu, varian delta belum bisa disimpulkan lebih ganas.

Bukti yang lebih kuat, menurut dia, adalah varian delta lebih menular. Hal ini yang menyebabkan kenapa lebih banyak kasus yang berat ketika varian Delta muncul. Varian Delta menyebabkan lebih banyak orang sakit dan hal ini akan berbanding lurus dengan meningkatnya orang yang bergejala sedang-berat.

Terkait banyaknya angka kematian pasien positif Covid-19, hal tersebut tidak lepas dari tingginya kasus positif Covid-19. Lonjakan kasus positif Covid-19 menyebabkan kebutuhan akan tempat perawatan pasien juga meningkat. Padahal kapasitas rumah sakit tidak bisa bertambah dengan cepat.

Akibatnya, banyak pasien yang tidak mendapatkan perawatan di rumah sakit rujukan. "Kondisi ini menyebabkan angka kematian meningkat," terang dia.

Dari data Kemenkes, sekitar 90 persen kasus kematian Covid-19 lebih banyak terjadi pada orang yang belum divaksinasi. Bayu menilai, angka tersebut terlalu optimis karena angka sebenarnya masih di bawah itu.

"Namun, bagi saya, masih cukup bagus untuk mengurangi fatalitas pada Covid-19," kata dia.

Bayu sependapat dengan yang dilakukan pemerintah, yaitu dengan menggenjot program vaksinasi. Pasalnya, masih banyak warga yang enggan melakukan vaksin.

Di sisi lain, vaksinasi harus terus digalakkan karena masih melonjaknya kasus Covid-19 dan kamar khusus Covid-19 di rumah sakit yang penuh. "Saya setuju dengan langkah mempercepat vaksinasi yang seharusnya juga didukung dengan edukasi dan langkah pemberantasan info hoaks agar orang semakin
yakin untuk vaksin," jelas dia.

Menutur Bayu, info hoaks tentang vaksin ternyata lebih masif sehingga hal itu menghambat proses peningkatan angka vaksinasi.

Menurut Bayu, virus SARS-CoV-2 tetap terus bermutasi sehingga perlu vaksin yang lebih baru lagi. Bahkan, semua vaksin yang ada saat ini dapat diperbarui sesuai dengan hasil penelitian yang ada.

"Apabila dinilai varian yang baru benar-benar dapat mengurangi signifikan kemampuan vaksin terhadap virus SARS-CoV-2 maka akan dibuat semacam booster untuk vaksin tersebut," kata dia. Namun, booster itu bisa diberikan jika memang ada alokasi khusus dan tidak mengganggu vaksinasi secara umum. (OL-13)

Baca Juga: Angka Kematian Kasus Covid-19 di Klaten Tembus 1.000 Orang

 

Baca Juga

ANTARA

BMKG: Waspadai Dampak Bibit Siklon Tropis 92W di Laut Filipina

👤Widhoroso 🕔Rabu 25 Mei 2022, 23:51 WIB
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan peringatan dini untuk mewaspadai dampak tidak langsung dari bibit siklon...
Dok. Long Rich Bioscience Indonesia

Resveratol Bantu Menjaga dan Maksimalkan Imun Tubuh

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 25 Mei 2022, 23:13 WIB
Resveratrol ditemukan dalam sejumlah makanan dan minuman, termasuk anggur, kacang tanah, kakao, anggur...
Antara

30,9 Juta Masyarakat Rentan dan Umum Rampung Divaksin Booster

👤Theofilus Ifan Sucipto 🕔Rabu 25 Mei 2022, 23:09 WIB
Sebanyak 1.617.507 tenaga kesehatan (nakes) rampung menerima vaksin booster per hari...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya