Selasa 06 Juli 2021, 09:55 WIB

Guru Besar IPB: Tingkatkan Konsumsi Vitamin C untuk Kekebalan di Masa Pandemi

Atalya Puspa | Humaniora
Guru Besar IPB: Tingkatkan Konsumsi Vitamin C untuk Kekebalan di Masa Pandemi

ANTARA/ Aloysius Jarot Nugroho
KAMPUNG GERMAS BOYOLALI: Seorang warga merawat tanaman sayur organik di Kampung Germas, Sapiyan, Boyolali, Jawa Tengah.

 

SEBAGAI upaya menangkal infeksi virus atau bakteri, seseorang harus mempunyai sistem kekebalan tubuh yang prima. Hal itu, antara lain dipengaruhi asupan vitamin C yang memadai.
Di saat covid-19 merebak menjadi pandemi, anjuran meningkatkan makan sayur dan buah sebagai sumber vitamin C untuk kekebalan tubuh sangat penting.

Hal ini disampaikan Guru Besar IPB University Prof Ali Khomsan. Ia menyubut hal itu direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia/WHO yang menganjurkan konsumsi sayur dan buah 400 gram setiap hari, yang terdiri dari 250 gram buah dan 150 gram sayuran. Akan tetapi, ujar Pakar Gizi IPB University ini, konsumsi rata-rata penduduk Indonesia hanya mencapai sekitar 100 gram.

Seharusnya hal ini tidak terjadi. Pasalnya, ujar Ali, Indonesia sebagai negara tropis dikaruniai beragam tumbuhan, termasuk sayuran, buah-buahan, dan pangan nabati lainnya. "Indonesia dikenal sebagai pusat biodiversitas buah. Ada 24 spesies mangga dari 35 spesies mangga dunia, 37 spesies pisang dari 76 spesies pisang dunia. Demikian juga dengan tanaman manggis, durian, salak, dan lain-lain. Terdapat lebih 104 jenis tumbuhan buah berpotensi tinggi dan belum dimanfaatkan secara optimal," kata Ali dalam keterangan resmi, Selasa (6/7).

Ia melanjutkan, dari sekitar 369 ribu spesies tumbuhan di dunia, sekitar 10 ribu sebenarnya dapat dimakan. Dari 10 ribu spesies ini, baru 10 spesies yang menyediakan kalori dan protein tinggi kepada 60 persen penduduk dunia. Tumbuhan bernilai ekonomi tinggi yang menyediakan vitamin dan mineral tinggi baru sekitar 50 spesies.

Untuk dapat mengelola sumber daya hayati bagi kesejahteraan masyarakat dan mencapai pembangunan berkelanjutan di Indonesia, diperlukan kapasitas dan kreativitas para ahli dan pemerhati dalam mengembangkan dan menerapkan iptek biologi.

Lebih lanjut, ahli penanggulangan stunting IPB University ini menyebutkan bahwa pola makan gizi seimbang yang dianjurkan Kementerian Kesehatan dapat menjadi acuan untuk meraih hidup sehat dengan kekebalan tubuh yang tinggi. Konsumsi pangan hewani yang banyak mengandung seng bermanfaat untuk kekebalan tubuh.

Demikian pula konsumsi sayuran dan buah setiap hari hendaknya diimplementasikan dalam kehidupan keluarga sehari-hari.Prinsip gizi seimbang ialah makan beraneka ragam pangan yang mengandung karbohidrat (pangan pokok), protein (lauk-pauk), vitamin/mineral (sayur dan buah), dan olahraga untuk menjaga kebugaran.

“Manfaat lain dari konsumsi sayur dan buah ialah kandungan seratnya yang tinggi. Serat sering disebut the forgotten nutrient (zat gizi yang dilupakan) karena pada awalnya kita tidak mengetahui fungsi serat yang umumnya tidak dapat dicerna sistem pencernaan manusia. Baru ketika diketahui bahwa serat berguna untuk melancarkan pembuangan, menurunkan kolesterol, mengurangi risiko penyakit jantung dan mencegah kanker kolon, serat semakin disadari sebagai sesuatu yang sangat dibutuhkan manusia,” imbuhnya.

Hasil penelitian Puslitbang Gizi Bogor yang menyebutkan konsumsi serat rata-rata orang Indonesia ialah 10,5 gram per hari. Padahal anjuran gizi menyarankan asupan serat 20-30 gram per hari. “Jadi, benar kalau dikatakan bahwa orang Indonesia kurang serat. Padahal, sayuran dan buah-buahan sumber serat tumbuh subur di Indonesia. Harganya pun tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan pangan lain seperti pangan hewani. Jadi, tampaknya masyarakat perlu mendapatkan informasi lebih banyak tentang manfaat sayur dan buah sehingga konsumsi seratnya bisa ditingkatkan,” tuturnya.

Kesadaran gizi dalam hal konsumsi sayuran, mutlak diperlukan. Masyarakat Indonesia rasanya tidak mempunyai kendala ekonomi untuk mengonsumsi sayuran lebih banyak. Hanya pola budaya dan kebiasaan makan yang harus diperbaiki sehingga sayuran akan menjadi menu sehari-hari bagi seluruh anggota keluarga.

Kesadaran gizi perlu ditunjang dengan pemahaman tentang masalah sanitasi sehingga cara pengolahan sayuran di tingkat rumah tangga bisa lebih aman dan memenuhi syarat kesehatan. Membiasakan mengonsumsi sayuran mentah sebagai lalap sebenarnya masih berisiko untuk mengalami gangguan kesehatan akibat mikroba (jasad renik). Mencuci pada air mengalir kemudian mengukus atau merebus sayuran ialah cara aman untuk mengonsumsi sayuran secara sehat.

Pada dasarnya, semua pihak baik petani maupun konsumen harus waspada bahwa sayuran bisa menjadi salah satu pemicu gangguan kesehatan. Kecuali sayuran tersebut ditanam, dipanen, dan diolah dengan baik sehingga memenuhi syarat-syarat keamanan pangan.

Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), harus menjadi panduan masyarakat untuk meraih kesehatan yang optimal. Germas menekankan pada lima aspek, yaitu peningkatan aktivitas fisik, edukasi dan perilaku hidup sehat, konsumsi pangan sehat dan bergizi, pencegahan dan deteksi dini berbagai penyakit, dan peningkatan kualitas lingkungan hidup.

Anjuran Germas ini sejalan dengan tantangan kesehatan akibat pandemi covid-19 yang kini sedang kita hadapi. "Kesehatan manusia tidak selamanya berada dalam kondisi optimal karena fluktuasi lingkungan. Saat ini, ketika negara dalam kondisi ancaman kesehatan yang serius akibat covid-19, upaya menjaga kekebalan tubuh menjadi sangat penting,” pungkasnya.(H-1)

Baca Juga

Kemendikbud-Ristek

Kemendikbud-Ristek Lantik Rektor Undana

👤Faustinus Nua 🕔Senin 06 Desember 2021, 21:50 WIB
Kemendikbud-Ristek kembali melantik Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) dan sejumlah pejabat lainnya secara luring pada Senin...
DOK Kemendikbudristek

Kemendikbudristek Hadirkan Kembali Program Bangkit Pada 2022

👤Widhoroso 🕔Senin 06 Desember 2021, 21:48 WIB
(Kemenikbudristek) berkolaborasi dengan Google berkomitmen menghadirkan kembali Program Bangkit pada...
AFP

Varian Omicron Sampai di Arab Saudi, PPIU Tunggu Kejelasan Regulasi Umrah

👤Mohamad Farhan Zhuhri 🕔Senin 06 Desember 2021, 21:40 WIB
PENYELENGGARAAN umrah untuk Indonesia saat ini masih belum mencapai titik...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya