Headline
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Kumpulan Berita DPR RI
MENGELOLA emosi orangtua dan anak menjadi penting dilakukan, utamanya ketika orangtua mendampingi anak saat belajar di masa pandemi covid-19. Selain mampu menanamkan nilai-nilai kehidupan, dengan melatih emosinya, anak akan bertumbuhkembang, mandiri, dan menemukan potensi dirinya.
Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak Atas kesehatan dan Pendidikan, Kementerian PPPA, Entos Zainal mengatakan, kondisi pandemi covid-19, mengalami perubahan kondisi dan berbagai persoalan baru. Dia mengimbau untuk melakukan berbagai aktivitas di rumah.
"Kita pun tidak pernah membayangkan bahwa anak-anak akan belajar dari rumah dengan tata cara yang baru. Pada akhirnya, anak-anak merasa bosan, serta rindu bersenda gurau dan bermain dengan teman-temannya. Di samping itu, orangtua juga memiliki persoalan, diantaranya ketika mereka harus bekerja dari rumah dan mengelola emosinya,” ujarnya dalam keterangan Pers Kementerian PPPA, Sabtu, (3/7).
Oleh karenanya, Kemen PPPA melalui Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) hadir untuk memberikan layanan pembelajaran dan pendampingan bagi keluarga. Selain itu, Kemen PPPA bersama Kantor Staf Presiden (KSP), Kementerian Kesehatan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), dan PT Telkom telah meluncurkan Layanan Psikologi Sehat Jiwa (SEJIWA) untuk menjamin pemenuhan hak kesehatan mental masyarakat di masa pandemi covid-19. Melalui layanan ini masyarakat bisa mendapatkan edukasi, konsultasi, dan pendampingan psikologi.
“Kami khawatir betul selama pandemi anak-anak kita kurang mendapat penanaman nilai-nilai kehidupan, seperti empati, toleransi, dan kebersamaan. Ketika kami berdialog dengan Forum Anak, ternyata anak-anak memiliki caranya sendiri untuk berkomunikasi dan memecahkan masalah. Mereka juga tak jarang merasa kesepian di rumah,” tambah Entos.
Psikolog, Ifa H. Misbach mengatakan salah satu faktor yang menyebabkan berbagai permasalahan tersebut adalah transformasi pendidikan kita belum mampu mendukung bagaimana menciptakan kreativitas belajar, sehingga guru tidak hanya sekadar memindahkan tugas yang diberikan secara manual menjadi bentuk digital.
Proses belajar mengajar secara tatap muka sangatlah berbeda dengan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Oleh karenanya, Ifa menambahkan pada situasi seperti ini kita membutuhkan lebih banyak empati agar tidak saling menyalahkan. Orangtua dan guru saling bekerja sama dan berperan sebagai pelatih emosi anak.
“Diperlukan peran dan interaksi antara anak, guru, dan orangtua untuk menentukan model pengalaman belajar. Dunia pendidikan kita saat ini tidak sama lagi dengan sebelumnya. Mari anggap permasalahan ini menjadi sebuah tantangan bersama,” terang Ifa.
Dalam kesempatan tersebut, Ifa juga juga mengungkapkan bermain bersama anak merupakan hal penting untuk memperkuat ikatan emosi antara orangtua dan anak, dan melatih mereka dalam mengelola emosinya. Teman terbaik anak saat bermain adalah orangtua.
“Selain menjadi hak, bermain adalah “makanan otak” untuk anak, bermain adalah pekerjaan utama anak. Jika kita ingin memiliki anak yang antusias dalam mempelajari banyak hal, dan membangun hubungan yang baik dengan teman-teman sebayanya, maka orang dewasa harus ikut bermain bersama membantu anak untuk meningkatkan level dopamine pada otak mereka. Kita dapat memanfaatkan imajinasi kita untuk membuat permainan. Hal ini juga bisa dilakukan dengan memanfaatkan benda-benda yang ada di rumah untuk bermain,” jelas Ifa.
Selain bermain bersama anak, dalam berkomunikasi dengan anak orangtua juga diimbau menghindari kalimat verbal yang bersifat menghakimi, mendikte, menyindir, merendahkan harga diri, membandingkan, mengancam, dan menyalahkan.
“Ayo, para orangtua ubahlah kalimat-kalimat tersebut menjadi pernyataan positif yang disertai dengan dukungan dan apresiasi. Tanya dan dengarkan pendapat, kondisi, dan saran dari mereka,” pungkas Ifa.(H-1)
Anak-anak adalah peniru ulung yang belajar dari apa yang mereka lihat sehari-hari.
Perlindungan ruang digital memerlukan langkah komprehensif yang mencakup edukasi publik dan penguatan kapasitas pengguna dalam memahami risiko siber.
Selain AI, gim daring populer seperti Roblox dan Minecraft juga dinilai menghadirkan risiko karena anak-anak sering kali sulit membedakan antara dunia gim dan realitas.
Aktivitas fisik dan sosial tidak hanya efektif mengalihkan perhatian dari layar, tetapi juga mendorong perkembangan interaksi anak dengan lingkungan sekitar.
Mengalihkan kebiasaan anak dari ketergantungan gawai ke aktivitas yang lebih produktif memerlukan pendekatan yang bersifat mengarahkan dan menginspirasi, bukan sekadar pelarangan.
Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024, sekitar 20,1% anak Indonesia berpotensi tumbuh tanpa pengasuhan ayah.
Saat ini terdapat perbedaan rekomendasi antara pemerintah pusat dan pemerintah provinsi terkait pola kerja fleksibel.
KETUA PP Muhammadiyah sekaligus pengamat pendidikan dan sosial, Anwar Abbas, mengatakan bahwa proses belajar-mengajar memang sebaiknya dilaksanakan secara tatap muka.
SEKRETARIS Jenderal Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Dudung Abdul Qodir mengapresiasi keputusan pemerintah untuk tetap menerapkan pembelajaran tatap muka.
KEPUTUSAN pemerintah membatalkan rencana pembelajaran jarak jauh (PJJ) pada April 2026 dinilai sebagai langkah tepat di tengah kekhawatiran penurunan kualitas pendidikan.
KETUA Bidang Advokasi Guru P2G, Iman Zanatul Haeri mengatakan bahwa keputusan pemerintah tetap memberlakukan sekolah tatap muka sudah tepat. Namun, kegiatannya harus berkualitas.
PENGAMAT dan praktisi pendidikan Indra Charismiadji menilai wacana pembelajaran jarak jauh atau PJJ maupun work from home atau WFH tak berkaitan dengan kualitas pendidikan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved