Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
IVERMECTIN digadang-gadang sebagai obat yang mampu mengalahkan virus SARS-Cov-2 penyebab covid-19. Berdasarkan penelitian awal, obat itu disebut bisa membunuh virus, tetapi baru diuji secara in vitro alias dilakukan di luar tubuh objek atau manusia.
Dewan Pakar Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Prof. Apt. Yahdiana Harahap mengatakan bahwa dari literatur, studi in vitro yang dilakukan membuktikan khasiat ivermectin mengalahkan covid-19. Obat tersebut bisa menghentikan replikasi virus SARS-Cov-2.
"Tapi hal ini tidak bisa langsung dikorelasikan atau ditranslasikan dengan kajian klinis. Diperlukan banyak sekali studi-studi lanjutan dari studi in vitro ini," ungkapnya dalam konferensi pers, Jumat (2/7) malam.
Dijelaskannya, dari beberapa literatur lain disebutkan IC yang dibutuhkan untuk membunuh virus. Untuk menghitungnya, ivermectin membutuhkan IC 50. Artinya konsentrasi pada dosis itu mengakibatkan 50% virus mati.
"Kajian in vitro juga diperoleh kadar 5 mikromolar. Jadi kadar mikromolar virus akan mati 50%. Nah ini berarti dengan dosis yang tinggi," terangnya.
Yahdiana membeberkan dosis pada obat cacing itu 200-400 mikrogram per kg berat badan. Kemudian dosis yang ada pada saat ini 12 mg. Pada dosis tersebut kemudian dinaikkan delapan kali, ternyata konsentrasi di dalam tubuh hanya 0,28 mikromolar.
"Jadi saya ingin mengatakan bila kita ingin mengorelasikan obat cacing ke antivirus itu concern-nya di dosis. Berapa dosis yang diberikan untuk mematikan virus yang 5 mikromolar berarti harus dinaikkan 250 kalinya. Itu secara hitung-hitungan," jelasnya.
Kajian lain juga menyebut ivermectin sangat buruk karena kemampuan absorbsi dalam darah sangat lemah. Obat itu pun terikat dengan protein lebih kurang 93%.
Artinya obat bebas bila digunakan untuk membunuh virus, kadarnya kecil dalam darah. Selain itu terikat dengan protein dalam jumlah besar sebagaimana obat tersebut didesain untuk obat cacing.
"Nah obat ini kan memang didesain untuk obat cacing sehingga dia masuk ke darah dalam jumlah yang tidak besar. Sedangkan obat kalau dia menuju ke reseptor dia harus tersedia dalam darah dan kemudian menuju reseptor," kata dia.
Sementara itu, lanjutnya, studi lain juga menyebut ivermectin dan plasebo pada pasien tidak ada perbedaan yang signifikan. Obat itu tidak memberi efek sebagai antivirus. (OL-14)
Data kesehatan terbaru menunjukkan 1 dari 4 orang dewasa di Indonesia hidup dengan kondisi obesitas atau kelebihan lemak perut.
Akses masyarakat terhadap obat-obatan esensial dinilai terancam setelah perubahan regulasi paten terbaru.
Lucia menjelaskan ketika terjadi bencana banyak orang yang terkena luka bisa karena seng, paku, dan sebagainya maka diberikan serum anti tetanus, untuk mencegah infeksi.
Obat dapat berasal dari bahan kimia, tumbuhan, maupun hewan, dan biasanya digunakan dengan dosis tertentu agar aman dan efektif.
Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI) mengadakan seminar “Peran Strategis GPFI dalam Menegaskan Prinsip 4K untuk Menunjang Kesehatan Nasional”
Obat yang mengandung steroid bisa membahayakan kesehatan tulang apabila dikonsumsi secara terus menerus.
Melihat ancaman besar terhadap keberlanjutan layanan kesehatan dasar, dr. Harmeni mendirikan Symptomedic, platform telemedisin dan layanan pengantaran obat.
ANCAMAN kesehatan global kembali muncul dari Tiongkok. Setelah virus corona yang menyebabkan pandemi covid-19, kali ini virus baru influenza D (IDV) ditemukan.
Sengketa gaji Cristiano Ronaldo dengan Juventus terkait penundaan pembayaran saat pandemi covid-19 masih berlanjut. Putusan arbitrase dijadwalkan 12 Januari 2026.
Teknologi vaksin mRNA, yang pernah menyelamatkan dunia dari pandemi covid-19, kini menghadapi ancaman.
Menteri Kesahatan AS Robert F. Kennedy Jr. membuat gebrakan besar dengan mencabut kontrak dan membatalkan pendanaan proyek vaksin berbasis teknologi mRNA, termasuk untuk covid-19.
Studi Nature Communications ungkap pandemi Covid-19 mempercepat penuaan otak rata-rata 5,5 bulan, meski tanpa infeksi. Siapa yang paling terdampak?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved