Selasa 22 Juni 2021, 15:30 WIB

IDI: Vaksin di Indonesia Masih Efektif untuk Varian Delta B.1617.2

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
IDI: Vaksin di Indonesia Masih Efektif untuk Varian Delta B.1617.2

CDC
Ilustrasi virus korona

 

RATUSAN mutasi virus Delta B.1617.2 asal India telah ditemukan di beberapa daerah di Indonesia. Apakah efikasi vaksin yang digunakan di Indonesia masih ampuh untuk cegah virus yang sudah mutasi tersebut?

Dalam menanggapi perihal itu, Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr Adib Khumaidi mengatakan berdasarkan hasil Whole Genome Sequencing (WGS) terkonfirmasi bahwa di indonesia, juga ada varian varian Delta. Sehingga vaksinasi AstraZeneca masih efektif untuk menghadapi varian tersebut.

"Data yang kami dapatkan baru AstraZeneca dan masih efektif untuk varian Delta. Untuk Sinovac bukan saya katakan tidak efektif tapi kita belum ada referensi datanya," kata Adib dalam dialog virtual Selasa (21/6).

Dia menambahkan pada prinsipnya dari para pakar menyampaikan bahwa vaksinasi yang saat ini masih efektif untuk menghadapi varian Delta. Meskipun kemampuan penularan varian itu lebih cepat bahkan meningkatkan perawatan sampai 2,6 kali perawatan.

"Jadi kemampuan virus ini, saat ini dari referensi yang saya temukan lebih ke arah kemampuan penularannya lebih cepat, jadi varian Delta contohnya, kemampuan lebih cepat dan untuk tingkat keparahan meninggal belum ada datanya," sebutnya.

Dia tak memungkiri bahwa virus ini sebagai makhluk hidup akan beradaptasi dengan kondisi lingkungannya, kondisi hostnya seperti pada manusianya, sehingga akan lebih stabil hingga spike proteinnya kuat kuat.

"Lebih stabil, lebih kuat sehingga nggak gampang juga, yang dulu itu katakan bisa bertahan itu cuma 2 jam, sekarang lebih dari 4 jam," ujarnya.

Sebelumnya, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan virus-virus varian baru itu seperti hasil yang didapat dari penelitian ilmiah di berbagai negara tentunya virus yang berbahaya.

"Kejadian itu di suatu negara juga harus diteliti. Apakah betul sebuah varian tertentu yang di negara lain berbahaya itu juga berbahaya di negara lainnya lagi?," kata Prof Wiku.

Prof Wiku menegaskan bahwa yang utama harus dilakukan adalah menjalankan protokol kesehatan, menjaga jarak, cara mencuci tangan dan menggunakan masker. (H-2)

Baca Juga

Pexels

RedDoorz Bukukan Pertumbuhan Lima Kali Lipat pada 2022

👤Basuki Eka Purnama 🕔Jumat 03 Februari 2023, 10:15 WIB
Pertumbuhan RedDoorz yang sangat pesat ini mendapatkan penghargaan dari The Straits Time dan Statista sebagai salah satu Singapore's...
Dok PWKI

GKBRAy Paku Alam X Bahagia Batik Tulis Buatannya Sampai ke Tangan Paus Fransiskus

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 03 Februari 2023, 09:25 WIB
Perasaan bahagia itu dikemukakannya saat menerima kunjungan delegasi Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) di Puro Pakualaman,...
Medcom.id/Syahmaidar.

Anak Korban Penculikan Rawan Alami Trauma

👤Basuki Eka Purnama 🕔Jumat 03 Februari 2023, 08:45 WIB
Saat menjadi korban penculikan, anak tentu akan merasa takut, cemas tidak bisa kembali kepada orangtua, dan bingung dengan apa yang dapat...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya