Sabtu 19 Juni 2021, 11:40 WIB

Peneliti UGM: Pembiayaan Penyakit Jantung Beban Tertinggi JKN-KIS

Atalya Puspa | Humaniora
Peneliti UGM: Pembiayaan Penyakit Jantung Beban Tertinggi JKN-KIS

Antara
Ilustrasi

 

BEBAN biaya katastropik penyakit jantung menjadi biaya tertinggi dalam beban layanan JKN-KIS pada periode 2016 - 2019.
Pembiayaantertinggi berada di Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Sumatra Utara.

Sedangkan untuk provinsi di bagian timur Indonesia cenderung lebih rendah. Biaya pelayanan jantung tinggi ini ada pada kelompok PBPU – Pekerja Penerima Upah (PPU) – Bukan Pekerja (BP).

“Penyakit jantung kanker menduduki biaya katastropik pertama dan kedua, yakni 18,5 % pembiayaan kesehatan untuk katastropik pada tahun 2019," ungkap peneliti Kebijakan Pembiayaan Kesehatan dan JKN PKMK dan FK KMK Universitas Gadjah mada (UGM) M Faozi Kurniawan dalam rilisnya, Sabtu (19/6).

Hal itu diketahui dari data sampel Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) tahun 2015–2018. "Saat ini kepemilikan layanan katerisasi jantung terbatas antardaerah sehingga terjadi kesenjangan," imbuhnya.

Untuk penyakit kanker, data sampel BPJS tahun 2015 – 2018, menunjukkan pembiayaan pelayanan kanker tertinggi pada Provinsi Jawa Tengah, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Sumatera Selatan, serta provinsi di bagian timur sama cenderung lebih rendah. Biaya pelayanan kanker tinggi pada kelompok PBPU – PPU – BP.

Klaim terbanyak
Sementara itu, peneliti Pusat Kebijakan dan Manajemen Asuransi Kesehatan (KPMAK), Vini Aristianti menjelaskan kasus Sectio Caesarea (SC). Vini menjelaskan, rate nasional persalinan SC untuk peserta JKN adalah 28,98%. Hal ini meningkat 4,26 kali lipat dibandingkan dengan 2010 dimana 75% dari penggunanya adalah peserta JKN Non-PBI, yaitu peserta PPU dan peserta PBPU.

Vini memaparkan, saat ini cesar ringan merupakan kode Case-Based Groups (CBGs) terbanyak kedua untuk klaim rawat inap dengan jumlah kasus sebanyak 221.968 kasus dengan total biaya terbesar dibanding klaim CBGs rawat inap lainnya, yakni sebesar Rp 1,035 triliun.

"Proporsi terbesar yang melakukan klaim persalinan SC di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) adalah PBI Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diikuti oleh PPU," jelas Vini.

Data yang dihimpun Vini menunjukkan klaim persalinan tertinggi di FKTP, terjadi di di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Adapun proporsi SC di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) pada 2017 sebesar 37% dibandingkan persalinan normal di FKRTL. Proporsi ini menurun pada tahun 2018 menjadi sebesar 24%.

“Proporsi PPU tertinggi untuk klaim persalinan baik normal dan SC terjadi di FKRTL. Klaim persalinan normal di FKRTL paling banyak oleh kelompok PPU, diikuti PBPU, dan meningkat jumlahnya dari 2017 ke 2018,” ungkapnya.

Cost sharing
Dengan keadaan seperti itu, Faozi mengajukan potensi Cost Sharing untuk mengurangi ketimpangan antar peserta dan wilayah sehingga memberikan kesempatan masyarakat untuk mendanai sendiri kesehatannya.

Adapun hal yang perlu dilakukan selanjutnya adalah memperbaiki Pasal 22 dalam UU SJSN dan melengkapi PMK 51/2018, peraturan teknis/ pedoman cost sharing untuk penyakit katastropik bagi peserta JKN kelompok Mandiri, yaitu PBPU.

Terkait apakah SC dapat dikenakan Cost Sharing, Vini menunjukkan data penelitian dari BPJS Kesehatan pada 2016 mengenai kemauan dan kemampuan peserta Non-PBI membayar urun biaya pada pelayanan SC.

Dari penelitian tersebut diketahui bahwa jumlah urun biaya yang bersedia dibayarkan oleh rata -rata responden adalah sekitar 3,35% dari total belanja rumah tangga tahunan. Besar urun biaya yang direkomendasikan berada pada rentang 22%-29%.

“Peserta dengan kelas/pendapatan yang berbeda memiliki kemauan dan kemampuan bayar yang berbeda sehingga pengenaan urun biaya sebaiknya memperhatikan hal tersebut. Prevalensi operasi sesar ini pun memiliki hubungan negatif dengan kemauan bayar namun memiliki hubungan positif dengan kemampuan bayar. Pengenaan urun biaya juga dapat lebih tinggi di daerah dengan prevalensi SC yang tinggi,” pungkasnya. (H-2)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Fikri Yusuf

Industri Pariwisata Mulai Menunjukkan Kebangkitan dari Pandemi

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 16 Oktober 2021, 20:12 WIB
Program promosi Traveloka EPIC Sale kelima yang digelar pada 5-11 Oktober 2021 mencatat peningkatan pemesanan lebih dari 1,5 kali lipat...
dok.medcom

Vaksinasi Dosis Pertama Lampaui 50% Sasaran

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Sabtu 16 Oktober 2021, 18:31 WIB
Capaian ini tentunya tidak lepas dari antusiasme dan peran aktif masyarakat di seluruh Indonesia mengikuti program vaksinasi...
IPB University

IPB Berikan Life Achievement Award kepada Pakar Kuda drh Wirasmono Soekotjo

👤Zubaedah Hanum 🕔Sabtu 16 Oktober 2021, 17:40 WIB
IPB University menganugerahkan Life Achievement Award kepada mendiang drh Wirasmono Soekotjo saat peresmian FKH IPB Equestrian Park, 9...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Risma Marah dan Gaya Kepemimpinan Lokal

ika melihat cara Risma marah di Gorontalo, hal itu tidak terlalu pas dengan norma, etika, dan kebiasaan di masyarakat.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya