Selasa 08 Juni 2021, 20:05 WIB

Sistem Informasi Geografis Pacu Milenial Siap Hadapi Industri 4.0

mediaindonesia.com | Humaniora
Sistem Informasi Geografis Pacu Milenial Siap Hadapi Industri 4.0

Ist
Teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mempraktekkan ilmu di berbagai kegiatan industri.

 

PERUSAHAAN Esri Indonesia mengumumkan peluncuran Program Merdeka Belajar: SIG (Sistem Informasi Geografis) Untuk Semua yang bertujuan memberikan paparan kepada para mahasiswa berbagai disiplin ilmu sebelum mereka memasuki dunia kerja.

Program ini diprakarsai oleh Esri Indonesia guna memperkenalkan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) dan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mempraktekkan ilmu yang mereka pelajari di berbagai kegiatan industri.

Esri Indonesia adalah perwakilan resmi Esri, perusahaan pengembang Sistem Informasi Geografi (SIG) yang berpusat di Redlands, California.

Pencanangan program ini bertujuan untuk menjawab kebutuhan pasar akan tenaga terampil di bidang geospasial, di mana diperkirakan pangsa pasar SIG akan mencapai $21.15 miliar pada tahun 2027.

Permintaan pasar juga diharapkan akan terus meningkat di kawasan Asia Pasifik seiring meningkatnya penggunaan teknologi  tersebut di bidang pertanian, transportasi dan industri konstruksi.

 Menurut Dr. Achmad Istamar, CEO Esri Indonesia, investasi yang dilakukan secara konsisten bagi generasi muda bangsa merupakan bagian dari visi besar perusahaan untuk menyiapkan generasi masa depan yang profesional di bidang geospasial.

 Bahkan, Esri Indonesia telah bermitra dengan lebih dari 50 universitas yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan telah memberikan hampir 10.000 lisensi perangkat lunak gratis sejak tahun 2014.

Beberapa universitas yang telah menjadi mitra adalah Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Indo Global Mandiri (UIGM), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Mulawarman (UNMUL).

 “Pada umumnya, pemanfaatan teknologi SIG di Indonesia banyak digunakan untuk mendukung kegiatan pertanahan dan tata ruang namun kini telah banyak dijadikan sebagai indikator utama di berbagai organisasi komersial serta berbagai industri seperti Architecture, Engineering, and Construction (AEC), perbankan, ritel dan perkebunan,” jelas Dr. Istamar pada keterangan, Selasa (8/6).

 Sementara banyak khalayak yang sudah mengenal teknologi sistem navigasi satelit dan aplikasi pemetaan namun kemampuan berpikir secara spasial dan menganalisa juga diperlukan untuk membuka potensi data dan menciptakan solusi yang berarti dalam menjawab tantangan-tantangan di dunia nyata.

 “Transformasi digital dan penerapan industri 4.0 akan membawa perubahan paradigma seperti cara bekerja, proses manufaktur serta keterampilan sumber daya manusia yang dibutuhkan,” jelasnya. 

“Oleh sebab itu Esri secara konsisten akan mengambil berbagai langkah penting di dalam mempersiapkan tenaga kerja terampil yang akan menjadi penggerak roda pertumbuhan ekonomi,” tambah Dr. Istamar.

 Salah satunya prakarsa tersebut adalah kerjasama antara Esri Indonesia dan Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) mengadakan kompetisi bertemakan Modernisasi Sistem Peta Kadaster.

Kompetisi ini diadakan untuk memperluas pengetahuan bisnis, kemampuan teknologi informasi dan kreatifitas peserta dengan menggunakan teknologi SIG.

 “Di era industri 4.0 ini, sumber daya manusia yang profesional dan bisa diandalkan jelas sangat dibutuhkan,” kata Dr. Ir. Senthot Sudirman, M.S., Kepala Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional.

Menurut Senthot, untuk itu sangatlah penting untuk memastikan para mahasiswa kami dilengkapi dengan keterampilan teknis dan profesionalisme yang tepat untuk ikut serta dalam mengembangkan ekonomi digital. 

“Melalui kerja sama dengan Esri Indonesia kami berharap dapat terus memberikan keterampilan yang dibutuhkan oleh para mahasiswa kami untuk mengubah dunia di sekitar mereka. Kami berharap, banyak mahasiswa yang akan menerbitkan karya-karyanya melalui program ini,” paparnya.

“Jenjang universitas adalah jenjang pendidikan yang sangat dekat dengan dunia pekerjaan. Program Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM) merupakan kebijakan baru dari  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar di luar prodi utama dan mendapatkan pengalaman di luar kampus,” jelas ujar Prof. drh. Aris Junaidi, Ph.D., Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia.

“ Program MBKM bertujuan untuk mempercepat inovasi di bidang pendidikan tinggi. Kami sangat mendukung Esri Indonesia mengambil porsi penting di dalam implementasi program MBKM ini untuk pengembangan dan memastikan kurikulum sejalan dengan kebutuhan industri, dan memastikan mahasiswa siap untuk bekerja,” ujar Prof. Aris Junaidi. (RO/OL-09)

 

 

Baca Juga

Dok.MI/BPPT

Cegah Karhutla di Riau, Segera Lakukan Hujan Buatan

👤Atalya Puspa 🕔Kamis 24 Juni 2021, 13:59 WIB
Teknologi modifikasi cuaca dilakukan mengingat wilayah Riau memiliki banyak lahan gambut yang mudah terbakar atau kebakaran hutan dan...
ANTARA FOTO/Vitalis YT

Soroti Bahaya BPA, BPOM Diminta Atur Pelabelan Galon Guna Ulang

👤Mediaindonesia 🕔Kamis 24 Juni 2021, 13:49 WIB
Arist Merdeka Sirait sangat mendukung BPOM untuk segera melakukan pelabelan pada galon guna ulang yang berkode daur ulang nomor...
Dok/FKM.UI

Epidemiolog: Butuh PSBB untuk Tekan Kasus Covid-19

👤Atalya Puspa 🕔Kamis 24 Juni 2021, 13:20 WIB
Epidemiolog UI dr.Iwan Ariawan,MSPH, mengungkapkan, untuk menurunkan kasus Covid-19 di Indonesia, sebenarnya dibutuhkan PSBB seperti...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Diplomasi Jalur Rempah di Kancah Dunia

Perjalanan sejarah Indonesia terasa hambar tanpa aroma rempah. Warisan sosial, ekonomi, serta budaya dan ilmu pengetahuan itu kini dikemas dan disodorkan kepada dunia untuk diabadikan.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya