Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
Konsumsi AMDK Meningkat, Dosen FK Unpad Peringatkan KualitasPandemi Covid-19 membawa perubahan pola pemakaian air masyarakat. Menurut Founder Indonesia Water Institute (IWI) yang juga staf khusus menteri Pekerjaan Umum dan Pekerjaan Umum Bidang Sumber Daya air, Firdaus Ali saat memasuki pandemi Covid-19 terdapat peningkatan konsmsi Air minum dalam kemasan (AMDK).
"Berdasarkan survey dari IWI, 2020, 88% responden menggunakjan kemasasn galon, sisanya menggunakan campuran jenis kemasan seperti botol dan galon," kata Firdaaus dalam jurnalis class yang diselenggarakan PWI, Senin (19/4).
Baca juga: Rayakan Hari Bumi, Foreo Ingatkan Masyarakat akan Bahaya Sampah
Ia melanjutkan, dalam hal konsumsi air terdapat 69% responden menggunkan AMDK 51-200 liter perbulan atau 1-10 galon per bulan. Sementara 87% responden mengeluarkan biaya mencapai rata-rata Rp 300 ribu per bulan untuk AMDK.
Senada dengan itu, Dosen FK Unpad Sri Yusnita Irda Sari pun mengatakan 48% penduduk di wilayah kumuh perkotaan pun memilih air minum isi ulang. Hal ini menurutnya terjadi karena beberapa faktor.
"Faktor tersebut yakni status ekonomiu, ketersediaan jenis sumber air bersih yang dimiliki, pendidikan kepala keluarga dan persepsi terhadap risiko keamanan sumber air bersih." kata Sri.
Padahal, lanjutnya, sumber-sumber tersebut disebut belum tentu terjamin kebersihannya.Menurutnya, memang sulit untuk membedakan kualitas iatr memenuhi syarat atau tidak, namun umumnya masyarakat hanya bisa mengandalkan parameter fisik.
Hal ini mengkhawatirkan karena fenomena air minum isi ulang semakin meningkat. Di DKI Jakarta saja, jumlah Depot Air Minum (DAM) meningkat 800% (1997-2008) atau jumlahnya ,mencapai 10 ribu.
Baca juga: KKP Panggil Pertamina Bahas Kasus Tumpahan Minyak di Karawang
Namun menurutnya, kepatuhan DAM ini sangat rendah yakni 41,5% DAM memiliki sertifikat pelatihan, 26,6% memiliki ijin usaha, 17,9% memiliki sertifikat Laik Higiene Sanitasi, 10,5% patuh pada peraturan pemerintah laboratorium secara reguler, dan 12,2% memliki standard prosedur operasional dalam melanjutkan usahanya.
Dalam hal ini Sri mengatakan, masyarakat maupun pengusaha perlu memiliki kesadaran atas dampak buruk dari mutu air kurang higienis.
“Berkaitan dengan depot air minum, perlu kesadaran dari pihak pengusaha, kalau tidak berkualitas, dampak ke masyarakat bisa buruk. Pengawasan dari pemerintah, dan awareness dari masyarakat perlu ditingkatkan,” ujarnya.
Masyarakat juga dihimbau untuk dapat berani mempertanyakan jika ada kejanggalan pada air yang dikonsumi.
Sementara itu, pemilik usaha depot air juga harus ditinjau ulang terkait pembersihan galon dan airnya. karena teknologi yang digunakan sudah sangat lama, dan sampai sekarang metode pembersihan galon belum ada yang baru.
Untuk masyarakat yang ingin mengolah air bersih di rumah untuk dikonsumsi, salah satu cara efektif adalah direbus selama 3 menit sampai mendidih. “Ini metode paling simpel walaupun tidak menghilangkan zat kimia. Ada juga filtrasi, menggunakan alat filtrasi sederhana, ada keramik, ada berlapis-lapis untuk rumah tangga, tapi belum terlalu populer,” imbuhnya. (H-3)
Berdasarkan penelusuran Media Indonesia, Sabtu (17/1) di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh misalnya, ratusan ribu penyintas banjir masih krisis kebutuhan dasar.
Ketersediaan air bersih tidak hanya diperlukan untuk konsumsi, tetapi juga untuk menjaga sanitasi lingkungan, mencegah penyebaran penyakit, serta menunjang aktivitas harian.
Transformasi digital ini merupakan komitmen nyata pemerintah dalam menjamin kedaulatan air di Ibu Kota
Perluasan pelanggan ini didukung oleh ketersediaan sumber air baku yang semakin stabil, baik dari Sungai Ciliwung maupun Kali Angke.
Program ini ditujukan untuk membantu masyarakat yang masih menghadapi keterbatasan akses terhadap air bersih di Sumut, Sumbar, Riau, Lampung, Jateng, Jatim, Kalsel dan Sulsel.
Pasokan air bersih Aceh Tamiang kembali normal setelah SPAM IKK Rantau beroperasi pascabanjir. Menteri PU memastikan kualitas air aman dan layak konsumsi.
Kecamatan Pauh dan Kuranji mengalami krisis air bersih akibat sumur mengering serta kerusakan bendungan dan irigasi pascabencana November 2025.
Berdasarkan penelusuran Media Indonesia, Sabtu (17/1) di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh misalnya, ratusan ribu penyintas banjir masih krisis kebutuhan dasar.
Program ini ditujukan untuk membantu masyarakat yang masih menghadapi keterbatasan akses terhadap air bersih di Sumut, Sumbar, Riau, Lampung, Jateng, Jatim, Kalsel dan Sulsel.
Ratusan pengungsi banjir di Aceh Tamiang mendesak bantuan air bersih dan MCK. PDAM rusak fatal, kondisi tenda pengungsian memprihatinkan.
Menurut anggota tim pengabdian Dr Imam Muslem, kegiatan tersebut dilakukan secara adaptif mengikuti dinamika pasca bencana.
BANJIR bandang dan tanah longsor yang puncaknya terjadi pada 26-27 November lalu sedikitnya telah meluluhlantakkan 52 kabupaten/kota di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved