Rabu 07 April 2021, 16:00 WIB

Peneliti UGM: Potensi Siklon Tinggi, Galakkan Sosialisasi Bencana

Atalya Puspa | Humaniora
Peneliti UGM: Potensi Siklon Tinggi, Galakkan Sosialisasi Bencana

ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA
Foto udara tumpukan kayu-ka merusak jembatan penghubung antardesa di Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, NTT, Rabu (7/4/2021)

 

Peneliti Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Emilya Nurjani menyebut berbagai daerah di Indonesia memiliki peluang terdampak siklon tropis seperti yang saat ini melanda sejumlah daerah di Nusa Tenggara Timur.

Oleh karena itu, perlu digalakkan sosialisasi terkait bencana yang ditimbulkan oleh siklon, di samping upaya lain seperti memperkuat konstruksi bangunan, membuat prosedur darurat, hingga meningkatkan penelitian tentang prediksi siklon untuk mengurangi dampak bencana yang diakibatkan.

“Di Indonesia memang evakuasi karena bencana angin kencang dan storm surge belum umum dilakukan, tetapi dalam rangka mitigasi dan adaptasi, sebaiknya sudah mulai dikenalkan mengingat proyeksi peningkatan suhu muka laut ke depan akan menyebabkan peningkatan peluang terjadinya siklon tropis,” terangnya dalam keterangan resmi, Rabu (7/4).

Baca juga: Bupati Lembata Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana

Wilayah Indonesia, menurutnya, memiliki peluang terdampak siklon tropis dengan level bencana yang berbeda. Misalnya saja, siklon tropis di perairan selatan Indonesia akan menimbulkan dampak yang lebih besar bagi daerah pesisir selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, dibandingkan pesisir timur Sumatra atau pesisir Kalimantan.

Sementara itu, siklon tropis di utara Indonesia akan menimbulkan hujan yang lebih lebat di sekitar Sulawesi dan Kalimantan sehingga bencana yang ditimbulkan untuk setiap daerah juga akan berbeda.

“Pengetahuan bencana sebaiknya disosialisasikan di seluruh daerah di Indonesia sesuai dengan potensi bahaya yang ada di daerah masing-masing,” ucapnya.

Ia menjelaskan, siklon tropis 99S yang terbentuk di sekitar laut Sawu yang mengakibatkan cuaca ekstrem di Pulau Timor merupakan bentuk formasi dari sistem badai tropis yang besar dan berkembang di atas perairan hangat dekat wilayah ekuator.

Baca juga: Awas, Siklon Tropis Seroja Diprediksi Meningkat 24 Jam Ke Depan

Pertumbuhan siklon sendiri membutuhkan uap air hangat yang tersedia di wilayah antara 5-30 derajat di lintang utara dan lintang selatan bumi, serta efek coriolis yang merupakan implikasi dari gerak rotasi Bumi pada sumbunya.

“Efek Coriolis ini menyebabkan angin mengalami pembelokan pergerakannya. Makin besar lintangnya maka makin besar pembelokan angin yang terjadi sehingga di daerah ekuator atau lintang nol efek ini tidak ada,” paparnya.

Pertumbuhan siklon dimulai dari gangguan tropis, depresi tropis, badai tropis, dan kemudian menjadi siklon tropis. Pada saat pertumbuhan mencapai badai tropis itulah siklon ini mulai dinamai.

Lebih lanjut ia menerangkan, pada kondisi siklon tropis kecepatan angin mencapai 64 knot atau 74 meter per jam. Dampak yang ditimbulkan berupa hujan yang lebat, angin kencang, serta gelombang laut yang besar atau storm surge.

“Beberapa penelitian menyebutkan wilayah terdampak sampai 50/km dari pusat siklon,” imbuhnya.

Emilya mengungkapkan, peluang terbentuk siklon di Indonesia sebenarnya cukup kecil karena suhu permukaan laut wilayah Indonesia cukup rendah dan efek coriolis pun relatif kecil. Meski demikian dalam beberapa tahun terakhir siklon semakin sering terbentuk, terutama pada periode transisi dari musim penghujan ke musim kemarau atau musim kemarau ke musim penghujan. Hal ini ditengarai terjadi akibat perubahan iklim yang meningkatkan suhu permukaan laut.

“Di perairan selatan dan utara Indonesia cukup banyak siklon terbentuk, dalam setahun bisa 5-8 siklon dengan kecepatan yang berbeda dan dampak yang berbeda,” terangnya.

Sejak adanya Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC), deteksi dini siklon menurutnya telah dilakukan dengan baik. Bibit siklon sendiri sudah dapat dideteksi menggunakan citra satelit ataupun radar pada saat bibit siklon terbentuk dengan tingkat perkembangan sebagai gangguan tropis.

Arah pergerakan dan kecepatannya pun bisa dideteksi sehingga bisa diperkirakan waktu serta kecepatan siklon tersebut tiba di daratan untuk sistem mitigasi. Namun, meski prediksi siklon bisa dilakukan, masih ditemukan kesulitan karena beberapa siklon terkadang berbalik arah. Di samping itu, kesiapan mitigasi sendiri berbeda-beda di setiap daerah.

“Perlu kerja sama yang lebih solid lagi antara BMKG yang punya early warning dan Pemda yang melaksanakan mitigasi di daerah masing-masing,” tutup Emilya. (H-3)

Baca Juga

ANTARA

Pemerhati Anak Soroti Bahaya BPA

👤Widhoroso 🕔Selasa 13 April 2021, 01:50 WIB
DORONGAN agar BPOM memberi peringatan akan bahaya zat BPA dalam galon air guna ulang dan plastik kemasan makanan atau minuman terus...
Dok. Pribadi

Tanah Papua Mozaik Indonesia yang Perlu Dirawat

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Senin 12 April 2021, 23:18 WIB
Dia menjelaskan, Indonesia merupakan mozaik yang sangat beragam dari orang-orangnya serta etinisnya. Kekayaan ini tentu harus dikelola...
Ilustrasi/Ist

Waspada Gejala Long Covid-19 Bagi Penderita Penyakit Kronis

👤Eni Kartinah 🕔Senin 12 April 2021, 20:53 WIB
Gejala Long Covid adalah pasien yang sudah pernah terinfeksi virus Covid-19 masih mengeluhkan gejala setelah dinyatakan sembuh....

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Salah Kaprah Salurkan Energi

Kenakalan remaja pada masa lalu hingga masa kini masih ada, bahkan semakin meninggi. Itu terjadi karena remaja sering kali mementingkan solidaritas grup.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya