Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
PANDEMI Covid-19 membuat proses pembelajraan di Indonesia harus beralih ke pendidikan jarak jauh (PJJ). Bagi anak dengan disabilitas majemuk, PJJ menjadi sebuah tantangan tersendiri.
Kepala SD Kristen Charis Susane Ikawati mengatakan, pendekatan khusus yang melibatkan guru dan orang tua dapat membantu anak dengan disabilitas majemuk untuk mengikuti pembelajaran jarak jauh, baik berupa daring maupun luring.
"Komunikasi dan koordinasi sangat penting. Kita tidak berjuang sendiri, kita (guru pendidik) dan orang tua murid adalah satu tim akan bersama berjuang untuk anak-anak”, ujar Susane dalam webinar Tantangan dan Solusi PJJ Bagi Anak Dengan Multiple Disability yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi, Kamis (18/3).
Staf Khusus Presiden RI Angkie Yudistia mengatakan, pemerintah telah mengeluarkan sejumlah kebjakan afirmatif bagi penyandang disabilitas dalam kurun 2019 hingga 2020. Kebijakan itu bisa dimanfaatkan dalam membantu anak disabilitas majemuk dalam proses pembelajaran.
"Beragam Peraturan Pemerintah ini dikeluarkan agar kami (penyandang disabilitas) terlindungi sehingga program-program Pemerintah ini dapat dirasakan bagi penyandang disabilitas dan keluarga”, kata Angkie yang juga CEO ThisAble Enterprise.
Baca juga : Penting, Peran Perguruan Tinggi Mengawal Good Public Governance
Ketua Yayasan Wahana Inklusif Indonesia Tolhas Damanik mengatakan, sejumlah inovasi teknologi juga sudah dikembangkan untuk membantu anak disabilitas majemuk dalam proses pembelajaran.
"Teknologi harus dibuat berdampak kepada kehidupan penyandang disabilitas untuk dapat mengatasi rintangan dalam PJJ”, tutur Tolhas.
Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khususkementerian Pendidikan dan Kebudayaan Samto mengatakan, kebijakan PJJ dikeluarkan untuk melindungi anak dari penularan Covid-19. Namun, pemerintah menjamin setiap elemen pelajar bisa mendapatkan pendidikan yang setara, meski di tengah pandem.
Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kemenkominfo Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan, kolaborasi menjadi kunci dalam menyongsong era digital di tengah pandemi. (RO/OL-7)
Persepsi ini lahir dari cara pandang lama yang mengabaikan prinsip gizi seimbang. Padahal ukuran kesehatan tidak bisa hanya dilihat dari tampilan fisik semata.
Paparan gawai pada fase krusial pertumbuhan (usia 5 hingga 15 tahun) berisiko memicu gangguan tumbuh kembang yang menetap hingga dewasa.
Skrining pendengaran pada anak sejak dini menjadi kunci vital dalam menjaga kualitas hidup dan fungsi komunikasi buah hati.
Fungsi pendengaran memiliki kaitan erat dengan kemampuan bicara anak.
Orangtua diimbau untuk tidak membawa anak ke tempat yang terlalu padat guna meminimalisir risiko infeksi.
Kunci utama keberhasilan aturan pembatasan gawai bukan hanya pada larangan, melainkan pada keteladanan orangtua sebagai role model.
Saat ini terdapat perbedaan rekomendasi antara pemerintah pusat dan pemerintah provinsi terkait pola kerja fleksibel.
KETUA PP Muhammadiyah sekaligus pengamat pendidikan dan sosial, Anwar Abbas, mengatakan bahwa proses belajar-mengajar memang sebaiknya dilaksanakan secara tatap muka.
SEKRETARIS Jenderal Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Dudung Abdul Qodir mengapresiasi keputusan pemerintah untuk tetap menerapkan pembelajaran tatap muka.
KEPUTUSAN pemerintah membatalkan rencana pembelajaran jarak jauh (PJJ) pada April 2026 dinilai sebagai langkah tepat di tengah kekhawatiran penurunan kualitas pendidikan.
KETUA Bidang Advokasi Guru P2G, Iman Zanatul Haeri mengatakan bahwa keputusan pemerintah tetap memberlakukan sekolah tatap muka sudah tepat. Namun, kegiatannya harus berkualitas.
PENGAMAT dan praktisi pendidikan Indra Charismiadji menilai wacana pembelajaran jarak jauh atau PJJ maupun work from home atau WFH tak berkaitan dengan kualitas pendidikan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved