Headline
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Kumpulan Berita DPR RI
STUNTING pada anak menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian besar dari pemerintah. Angka prevalensinya yang disebut-sebut lebih dari 30% membuat pengentasan stunting menjadi program prioritas.
Sejumlah kementerian/lembaga terlibat, pun demikian dengan sektor swasta. Selama ini, program lebih banyak ditekankan pada perbaikan nutrisi anak-anak yang dinilai stunting. Misalnya, dengan memberikan makanan tambahan. Telah sekian lama program itu berjalan.
Namun menurut Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Dr. dr. Aman B Pulungan Sp.A (K), ada beberapa hal yang perlu ditinjau kembali terkait masalah stunting.
Pertama, terkait pemahaman terhadap stunting. Banyak yang memahami stunting sebagai anak pendek belaka. Padahal, stunting bukan sekedar pendek, melainkan harus disertai kondisi malnutrisi.
“Anak stunting pasti pendek, tapi tidak semua anak pendek tergolong stunting. Anak stunting itu pendek dan kekurangan gizi. Kalau anak pendek status gizinya baik, mereka tidak stunting,” terang Prof. Aman dalam temu media secara virtual baru-baru ini.
Selain soal pemahaman, hal lain yang perlu ditelaah ialah angka prevalensi stunting. Pada 2013, lanjut Prof. Aman, Unicef menerbitkan laporan Improving Child Nutrition yang menyatakan Indonesia berada di peringkat ke-5 untuk jumlah anak dengan moderate atau severe stunting setelah India, Nigeria, Pakistan, dan Tiongkok. Data yang digunakan untuk laporan ini adalah data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013.
“Walaupun begitu, sebenarnya data Riskesdas tidak mendata stunting secara spesifik, melainkan hanya menghitung panjang/tinggi badan populasi anak, dan data tersebut terpisah dari data malnutrisi,” tutur Prof. Aman yang dalam Sidang Terbuka dan Upacara Pengukuhan Guru Besar FKUI, Sabtu (13/3) membawakan pidato pengukuhan berjudul ‘Penuntasan Stunting pada Anak sebagai suatu permasalahan Multi-Faktorial: Medis, Sosial, Ekonomi, Politik dan Emosional’.
Menggunakan Kurva Standar Pertumbuhan WHO 2006, Riskesdas 2013 melaporkan 37,2% anak balita Indonesia stunted (pendek) dan 12,1% wasted (kekurangan gizi). Hanya 2,5% anak yang tergolong stunted dan wasted.
Sebagian besar anak tersebut pendek dengan berat badan normal (27,4%) dan pendek dengan kelebihan berat badan (6,8%). Jadi, penyebutan prevalensi stunting 37,2% patut ditinjau kembali mengingat penggolongan stunting seharusnya hanya diperuntukkan bagi anak yang pendek dan kekurangan gizi.
Lebih lanjut prof. Aman menyoroti penggunaan Kurva Standar Pertumbuhan WHO sebagai acuan. Hal itu berpotensi menyebabkan overestimation angka stunting. Sebab, kurva WHO dibuat berdasarkan data pertumbuhan anak-anak pada kondisi ideal tetapi populasi anak-anak yang digunakan sebagai dasar penyusunan belum tentu sesuai dengan pola pertumbuhan anak Indonesia.
Jadi ketika membandingkan tinggi anak-anak Indonesia dengan standar pertumbuhan anak WHO, sebagian besar dari anak-anak ini berada di bawah batas kritis dan dianggap sebagai stunted.
Perlu dicatat, pertumbuhan anak Indonesia telah didokumentasikan sejak paruh pertama abad ke-20. Anak-anak Indonesia lebih pendek daripada anak-anak Eropa modern dan lebih pendek dari yang disarankan oleh standar internasional. Idealnya, menurut Prof. Aman, pendataan stunting dilakukan menggunakan kurva nasional.
“Kami telah mengembangkan seperangkat kurva pertumbuhan untuk anak Indonesia. Dengan menggunakan kurva yang lebih representatif, diharapkan pemantauan pertumbuhan anak Indonesia bisa lebih tepat dan intervensi yang dilakukan lebih sesuai,” kata Prof. Aman yang juga Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Anggota Majelis Dokter Spesialis Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ini.
Ia menambahkan, negara-negara seperti Singapura dan Jepang juga tidak menggunakan kurva WHO, mereka menggunakan kurva referensi sendiri yang tentunya lebih sesuai dengan pola pertumbuhan anak-anak di negara tersebut.
“Banyak anak Indonesia yang dinyatakan stunted menggunakan kurva WHO, tetapi jika dibandingkan dengan data anak seusianya di Indonesia ternyata masih tergolong normal. Tingginya perhatian pemerintah serta alokasi dana yang tinggi untuk program penanganan stunting hendaknya diiringi dengan akurasi dalam pengukuran pertumbuhan anak,” ucap dokter yang juga menjabat sebagai Elected Executive Director International Pediatric Association (IPA) ini.
Pendekatan Multi-faktorial
Terkait penanganan, stunting erat dikaitkan dengan masalah nutrisi. Tetapi, terang Prof. Aman, hubungan antara nutrisi dan pertumbuhan linear masih diperdebatkan. Berbagai penelitian menunjukkan intervensi berupa peningkatan asupan gizi tidak dapat memperbaiki pertumbuhan linear secara bermakna.
Penelitan yang dilaksanakan di Nusa Tenggara Barat menunjukkan pemberian makanan tambahan kepada anak stunted tidak menghasilkan kenaikan berat badan dan tinggi badan yang signifikan.
Sedangkan, Penelitian di Nusa Tenggara Timur, Sumatera Utara, dan Bali menunjukkan tidak ada hubungannya ketebalan lipat lemak kulit (indikator nutrisi) dengan tinggi badan. Oleh karena itu, penyebab perawakan pendek anak-anak ini mungkin disebabkan oleh hal lain.
“Penggunaan stunting sebagai indikator status gizi dapat mengalihkan perhatian dari masalah lingkungan dan sosial yang memiliki dampak besar terhadap pertumbuhan anak karena diskusi mengenai stunting terlalu dititikberatkan pada masalah gizi. Para ahli mengemukakan pemikiran bahwa masalah stunting bukan hanya nutrisi, tetapi juga masalah sosial, ekonomi, politik, dan emosional,” papar Prof. Aman yang sejak 2018 hingga kini menjabat sebagai President of Asia Pacific Pediatric Association (APPA).
Kesenjangan sosial dan kurangnya kesempatan mobilisasi sosial di suatu populasi diduga lebih berkontribusi pada pendeknya tinggi badan. Studi tentang pertumbuhan anak balita Korea Utara dan Korea Selatan pada 2009 menunjukkan bahwa anak balita di Korea Selatan lebih tinggi 6-7 cm dibandingkan Korea Utara.
Populasi Jerman Timur juga lebih pendek jika dibandingkan populasi Jerman Barat sebelum Tembok Berlin diruntuhkan. Faktor genetik diprediksi menjadi salah satu yang mempengaruhi tinggi badan
Penelitian disertasi yang dilakukan oleh Prof. Aman terhadap populasi pigmoid di Rampasasa, Flores menunjukkan ada pengaruh faktor genetik terhadap tinggi badan. Populasi pigmoid lebih pendek dari rerata nasional. Lelaki dewasanya mempunyai tinggi badan di bawah 150 cm, sedangkan perempuan dewasanya di bawah 140 cm.
“Penelitian ini menunjukkan bahwa populasi pigmoid tidak mengalami malnutrisi, sehingga perawakan pendek mereka tidak termasuk stunting,” ujarnya.
Dikhawatirkan, ketika penanganan lebih ditekankan pada pemberian nutrisi tambahan pada semua anak yang dinilai stunting padahal tidak, justru akan timbul masalah baru seperti obesitas pada anak-anak pendek yang bergizi baik namun dikira stunting lalu diberi nutrisi berlebih.
“Yang dikhawatirkan, dampak jangka panjangnya, anak-anak ini menjadi lebih rentan terhadap penyakit sindrom metabolik seperti diabetes,” imbuh dokter yang pernah menjadi Project Leader DM type 1 for World Diabetes Foundation di Indonesia ini.
Lalu, bagaimana penanganannya? Prof. Aman menjelaskan, berdasarkan berbagai penelitian, dalam mengatasi stunting dan meningkatkan kesehatan anak Indonesia perlu melihat faktor sosial, ekonomi, politik, dan emosional.
Pencegahan dan deteksi dini sangat penting dalam manajemen gangguan pertumbuhan seperti stunting. Dalam hal ini, sistem yang sudah berjalan di Indonesia bisa dioptimalkan, misalnya penggunaan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan pemanfaatan Posyandu.
“Seiring dengan perkembangan digitalisasi dan mempermudah akses layanan kesehatan di daerah rural Indonesia, kehadiran smartphone dapat dimanfaatkan untuk kesehatan anak, misalnya penggunaan aplikasi seperti PrimaKu. Aplikasi pemantauan pertumbuhan anak dapat membantu orangtua dalam upaya deteksi dini jika anaknya mengalami gangguan pertumbuhan,” pungkas Prof. Aman.(Nik/OL-09)
Sejak 2019, Faris terjun ke NTT untuk melakukan misi sosial dalam penanganan masalah kesehatan di daerah itu.
Pemanfaatan kacang hijau untuk mengatasi stunting dinilai sangat relevan karena aksesnya yang mudah, harga terjangkau, serta kandungan gizi yang tinggi.
Selain penurunan angka stunting, hasil evaluasi menunjukkan bahwa 64,28 persen balita peserta program mengalami perbaikan status gizi.
Pada 2026 cakupan intervensi diharapkan semakin luas sehingga target penurunan stunting hingga 5 persen pada 2045 dapat tercapai.
SELAMA ini kita terlalu sering memaknai pembangunan sebagai pembangunan fisik: jalan, jembatan, gedung, kawasan industri, dan infrastruktur digital, tapi melupakan manusia
Kemenkes ungkap 6% bayi di Indonesia lahir dengan berat badan rendah (BBLR) lewat Program Cek Kesehatan Gratis 2025. Simak risiko stuntingnya.
Kabar baik! MK putuskan penyakit kronis kini bisa masuk kategori disabilitas. Simak syarat asesmen medis dan prinsip pilihan sukarela dalam Putusan MK No. 130/2025.
Minyak sawit sering dianggap berbahaya. Simak fakta ilmiah tentang komposisi lemak, risiko kanker, obesitas, dan kesehatan jantung yang jarang diketahui publik.
Tidur cukup bukan sekadar istirahat. Ini 7 manfaat tidur berkualitas bagi kesehatan tubuh dan mental.
Dirjen Kesehatan Lanjutan Kemenkes Azhar Jaya menyebut Indonesia kekurangan 92 ribu dokter dan meluncurkan program pendidikan spesialis hospital based.
KEBIASAAN kurang bergerak atau duduk terlalu lama saat bekerja alasan mengapa bahu, leher, atau punggung terasa sakit. 7 gerakan peregangan meredakan punggung bawah.
Peran brand dalam sektor kesehatan terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gaya hidup sehat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved