Kamis 04 Maret 2021, 16:38 WIB

Menristek: Indonesia tak Lakukan Nasionalisasi Riset Covid-19

Faustinus Nua | Humaniora
Menristek: Indonesia tak Lakukan Nasionalisasi Riset Covid-19

Antara/Dhemas Reviyanto
Riset vaksin merah-putih

 

MENTERI Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro menegaskan bahwa dalam upaya menanggulangi pandemi Covid-19, Indonesia tidak melakukan nasionalisasi riset. Pasalnya, dunia riset dan sains pada umumnya memiliki ruang lingkup yang luas serta harus terbuka untuk bisa mengatasi krisis saat ini.

"Kalau menggunakan istilah Merah-Putih atau nasional dan segala macam atau istilahnya kita ingin mensubstitusi impor itu sebenarnya tidak mengarah kepada nasionalisasi dalam pengertian hanya produk Indonesia yang bisa dipakai," ungkapnya dalam webinar Pandemi Covid-19 Ubah Riset Sains di Indonesia?, Kamis (4/3).

Baca juga: Menristek Minta Hasil Riset dan Inovasi Berbasis Ekonomi Sirkular

Menurutnya, penamaan atau istilah yang digunakan dalam riset tersebut berawal dari keprihatinan terhadap perkembangan riset Tanah Air. Artinya, pandemi ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat riset di Indonesia. Sementara, untuk kerja sama atau pun kolaborasi dengan dunia internasional tetap harus dilakukan.

Lebih lanjut, Bambang menyoroti industri kesehatan Indonesia yang selama ini selalu melakukan impor alat kesehatan hingga mencapai 94%. Begitu pula dengan impor bahan baku obat yang sangat tinggi, padahal Indonesia mempunyai keanekaragaman hayati yang kaya.

"Kita sudah punya pabrik farmasi, demikian banyak tapi ternyata kebanyakan hanya di produk akhirnya, bahan bakunya masih impor," terangnya.

Untuk itu, sejal awal pandemi Kemenristek pun sudah berinisiastif membentuk konsorsium riset. Bagaimana pun, Indonesia dengan populasi terbanyak ke-4 di dunia harus mampu memcapai kemandirian riset di sektor kesehatan.

Bambang pun mengakui bahwa riset sains dalam negeri berubah karena Covid-19. Sebelumnya riset dilakukan sacara mandiri atau dari berbagai universitas dan lembaga penelitian mengembangkan risetnya masing-masing, sekarang arah top down. Artinya, pemerintah serius mengerahkan semua sumber daya pada tujuan yang sama. Hal itu tidak terlepas dari harapan untuk segera mengakhiri krisis saat ini.

Pada tahun-tahun sebelumnya riset hanya berakhir pada publikasi dan prototipe, tapi saat ini riset harus bisa dihilirisasi dan manfaatnya dirasakan masyarakat. (OL-6)
 

Baca Juga

Ist

Idul Fitri bukan Sekadar Hari Kemenangan

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 18 Mei 2021, 01:05 WIB
Dengan kemajuan teknologi saat ini, masyarakat tetap dapat berkomunikasi dan menjalin silaturahim, saling berbagi rezeki dan makanan, meski...
Dok. Perpusnas

Penguatan Literasi Perlu Didukung dari Hulu hingga Hilir

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 17 Mei 2021, 23:43 WIB
Perpusnas adalah salah satu lembaga negara yang paling siap dalam menghadapi pandemi Covid-19. Karena sejak 2015, Perpusnas sudah memulai...
Antara/Muhamamd Iqbal

Kimia Farma Terus Matangkan Persiapan Vaksinasi Gotong Royong

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 17 Mei 2021, 22:24 WIB
Vaksinasi Gotong Royong merupakan vaksinasi kepada karyawan/karyawati, keluarga, dan individu lain terkait dalam keluarga yang...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Tempat Wisata Tetap Pilihan Utama

LIBUR Lebaran tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya