Kamis 07 Januari 2021, 12:10 WIB

Ancam Vaksinasi, Ini Alasan Mewaspadai Varian Baru Covid-19

Indrastuti | Humaniora
Ancam Vaksinasi, Ini Alasan Mewaspadai Varian Baru Covid-19

AFP-National Institutes of Health
Protein spike SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan covid-19.

 

Ilmuwan telah memperingatkan selalu ada kemungkinan virus korona dapat berevolusi untuk menghadapi vaksin covid-19 yang telah beredar sejauh ini. Varian baru virus korona dari Inggris dan Afrika Selatan mengindikasikan hal tersebut sehingga memperbesar peluang berkurangnya efektivitas vaksin, demikian dilansir dari vox.com

Pada virus SARS-CoV-2, mutasi utama yang diperhatikan para ilmuwan adalah pada protein spike virus, bagian virus yang membuatnya dapat memasuki sel manusia.

Protein spike inilah yang ditiru oleh vaksin covid-19 yang diproduksi Moderna dan Pfizer/ BioNTech). Sekitar 4.000 mutasi pada protein spike SARS-CoV-2 telah terdeteksi di berbagai belahan dunia. Sebagian besar belum mengubah fungsi virus dan tidak menimbulkan kekhawatiran.

Baca juga: Warga Menantikan Vaksinasi Covid-19, Presiden Jokowi: Saya Juga

Dalam banyak kasus, meskipun jarang terjadi, mutasi, atau beberapa mutasi sekaligus, dapat menyebabkan perubahan yang memberi virus keuntungan lebih besar. Dan tampaknya itulah yang terjadi dengan mutan Inggris dan Afrika Selatan.

Varian Inggris, B.1.1.7, mengandung 23 mutasi pada genom virus sedangkan varian Afrika Selatan, 501Y.V2, memiliki setidaknya 21 mutasi, dengan beberapa tumpang tindih di antara keduanya. Dalam kedua kasus tersebut, perubahan tersebut tampaknya telah meningkatkan adaptasi virus, atau kemampuannya untuk menyebar.

"(Dengan genome sequence di Afrika Selatan, kami dapat menunjukkan dengan jelas bahwa ada banyak garis keturunan berbeda yang beredar sebelum Oktober," jelas Richard Lessells, spesialis penyakit menular University of KwaZulu-Natal infectious di Durban, Afrika Selan yang turut membantu penemuan mutasi virus korona Afrika Selatan.

Fakta bahwa mutasi ini telah menjadi begitu dominan di sejumlah negara dengan begitu cepat menunjukkan bahwa mutasi tersebut mungkin lebih menular. Tidak jelas seberapa jauh kemampuan penularan varian Afrika Selatan, tetapi diperkirakan kemampuan penularan varian Inggris  hingga 70 persen lebih cepat.

Variabel baru seperti perjalanan liburan diduga mendorong penyebaran varian baru tersebut.

“Ketika ada penularan yang begitu cepat di berbagai negara di dunia pada bulan November dan Desember, saya tidak tahu apakah disebabkan varian yang lebih mudah menular atau karena mobilitas manusia yang meningkatkan penularan," kata Anna Durbin, peneliti vaksin dan profesor kesehatan internasional di Johns Hopkins School of Public Health.

Para ilmuwan masih harus menyelesaikan eksperimen pada hewan untuk menunjukkan perbedaan penularan antara mutasi ini dan versi awal virus - dan sejauh mana pergeseran perilaku manusia mungkin juga menjelaskan pertumbuhan dalam kasus.

Ilmuwan juga sudah memusatkan perhatian pada perubahan virus yang relevan dengan efektivitas vaksin. Dengan varian Afrika Selatan, misalnya, perubahan yang menarik adalah mutasi E484K di domain pengikat reseptor virus tempat ia menempel ke sel manusia.

"Mutasi E484K telah terbukti mengurangi pengenalan antibodi," kata Francois Balloux, seorang profesor biologi sistem komputasi di University College London, dalam sebuah pernyataan. Ini berarti dapat membantu virus "melewati perlindungan kekebalan yang diberikan oleh infeksi atau vaksinasi sebelumnya".

Baca juga: Vaksinasi Jakarta Tunggu Instruksi Pemerintah Pusat

Sebuah makalah pra-cetak di Biorxiv mengamati beberapa generasi SARS-CoV-2 yang dihadapkan pdengan plasma darah pasien yang sembuh dari covid-19 yang memiliki antibodi.

 Pada awalnya, antibodi tampaknya melawan virus. Tapi saat virus bermutasi, akhirnya membuat substitusi E484K, virus tetap berkembang biak meskipun ada antibodi.

Penulis senior studi tersebut, Rino Rappuoli, seorang profesor penelitian vaksin di Imperial College dan kepala ilmuwan di GSK, mengatakan  ketika dia dan rekan-rekannya pertama kali menjalankan eksperimen, mereka tidak tahu seberapa relevan temuan mereka.

“Namun ketika varian Afrika Selatan dan Inggris muncul, kami melihat [data kami] dan melihat bahwa, dalam kehidupan nyata, langkah pertama dari apa yang kami lihat secara in vitro sedang terjadi.” (GSK memiliki vaksin Covid-19 dalam uji klinis dengan pembuat obat Sanofi.)

Ilmuwan lain sampai pada kesimpulan yang sama. Dalam cetakan kedua, para peneliti melacak bagaimana mutasi mengubah efektivitas respons antibodi pada empat orang yang terkena virus dan mereka juga menemukan E484K memiliki kemampuan untuk menghindari antibodi.

Yang perlu diperhatikan, penelitian dengan plasma tersebut mengamati plasma pasien yang sembuh dari covid-19, bukan antibodi yang dihasilkan dari orang yang menerima vaksin covid-19. (Vox/H-3)

 

Baca Juga

Antara/Asprilla Dwi Adha

Ini Alasan Kemendikbudristek Kukuh Pertahankan PTM Meski Kasus Omikron Meningkat 

👤Faustinus Nua 🕔Senin 24 Januari 2022, 21:40 WIB
"PTM sangat urgen, kita sudah menutup sekolah hampir dua tahun dan selama waktu tersebut banyak kejadian luar biasa diantaranya...
Dok. Pribadi

Alat Masak Berkualitas Ikut Tentukan Kelezatan Makanan 

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 24 Januari 2022, 21:37 WIB
Dilansir dari healthline, alat masak seperti panci dan wajan yang tidak berkualitas bisa jadi sampah menumpuk karena orang-orang tidak akan...
Ist

Hari Pendidikan Internasional, LSM di Indonesia Dorong Menu Berbasis Nabati

👤Eni Kartinah 🕔Senin 24 Januari 2022, 21:12 WIB
Sinergia Animal ingin mendorong institusi untuk menyediakan makanan yang lebih ramah iklim dan lebih sehat kepada siswa  sejalan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya