Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Badan Nasional Penanggulangan Bencana bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nias Selatan melakukan simulasi geladi evakuasi peringatan dini tsunami. Kegiatan ini merupakan bagian dari pemasangan alat peringatan dini bencana tsunami di wilayah Nias Selatan.
Simulasi geladi evakuasi ini menitikberatkan pada prosedur standar operasi ketika merespons peringatan dini tsunami. Kegiatan yang berlangsung pada hari ini, Jumat (11/12) melibatkan puluhan personel dari berbagai pihak. Simulasi geladi evakuasi dilakukan oleh tim siaga bencana yang telah dibentuk bersama dengan masyarakat sekitar. Sebelum geladi, dinas terkait beserta masyarakat menerima sosialisasi potensi bencana gempa bumi dan tsunami oleh BMKG Stasiun Geofisika Gunung Sitoli yang dilakukan di Aula Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Nias Selatan.
Baca juga: Tinjau Banjir Deli Serdang, Kepala BNPB Serahkan Rp500 Juta
Saat berlangsungnya geladi, Kepala Seksi Diseminasi BNPB Dian Andry Puspita Sari mengatakan geladi ini sekaligus menguji alat peringatan dini tsunami yang dikembangkan BNPB bekerja sama dengan UGM.
“Maksud kegiatan ini adalah sebagai pengenalan alat peringatan dini tsunami dan melatih masyarakat merespon peringatan dini yang ada untuk peningkatan kapasitas agar nantinya mengurangi dampak bencana yang ditimbulkan, seperti jatuhnya korban jiwa,” ujar Dian dalam keterangan resmi, Sabtu (12/12).
Ia menambahkan bahwa sejauh ini, delapan dari sembilan subsistem TEWS ini telah dilakukan. Kedelapan subsistem tersebut yaitu persiapan, penilaian risiko, sosialisasi bencana tsunami, pembentukan tim siaga, pembuatan denah evakuasi, penyusunan prosedur tetap, pemantauan peringatan dini dan geladi serta membangun komitmen pemerintah daerah dan masyarakat. Satu subsistem lagi yang akan secara periodik dilakukan yaitu monitoring status keberfungsian alat.
“Pada tahun ini, TEWS dibangun di kawasan rawan tsunami, seperti di Nias Selatan, Mandalika, Mentawai dan Banyuwangi,” lanjutnya.
Dian menambahkan, alat peringatan dini dibutuhkan agar informasi disampaikan secara cepat dan tepat tentang adanya potensi ancaman bencana tsunami, khususnya saat malam hari karena bencana tidak mengenal waktu.
Kegiatan ini dibuka oleh Asisten 1 Pemerintah Kabupaten Nias Selatan Gayus Duha S. Gayus Duha dalam sambutannya mengucapkan terimakasih atas hibah alat TEWS dari BNPB dan berharap alat dapat dijaga bersama karena memberi manfaat bagi masyarakat. Sebanyak 70 personel bergabung dalam kegiatan ini termasuk Lantamal Nias, Danramil Teluk Dalam, Kepala Dinas Sosial, Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Satpol PP, RRI Nias, Perwakilan Media, Kepala Lingkungan, Tim Siaga Bencana dan masyarakat setempat.
Pemasangan alat peringatan dini tsunami atau tsunami early warning system (TEWS) tidak terlepas dari wilayah Nias Selatan yang memiliki potensi tsunami. Berdasarkan kajian risiko, Nias Selatan termasuk kategori sedang hingga tinggi untuk potensi bahaya tsunami.
Sistem peringatan dini tsunami ini merupakan sistem yang pemantauan status bahaya dilakukan secara wireless dan jarak jauh. Sistem ini terdiri dari dua bagian, yaitu (1) Warning System Controller dan Sirine, (2) Remote Control System. Dua bagian utama ini saling terintegrasi untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat akan bahaya tsunami melalui sinyal atau tanda peringatan.
Sistem ini terintegrasi antara BMKG dan BPBD. BMKG akan melakukan monitoring kondisi laut dan akan memberikan informasi kepada BPBD setempat apabila terdapat potensi bencana tsunami. BPBD akan menerima informasi dari BMKG dan mengirimkan data ke warning system secara manual (push on) menggunakan remote control yang berada di BPBD.
Selanjutnya sinyal peringatan dini tsunami tersebut kemudian dikirim melalui jaringan GSM dan atau melalui komunikasi radio yang akan diterima oleh warning system controller yang berada di daerah rawan bencana atau terdampak. Warning system akan memberikan peringatan dalam bentuk suara sirine.
Sejarah mencatat Nias Selatan yang berada di Provinsi Sumatra Utara mengalami tsunami pada 2005 setelah dipicu oleh gempa M8,7. Akibat bencana itu, lebih dari 5.000 rumah warga hancur dan lebih 100 orang meninggal dunia. (H-3)
“Pemilihan lokasi pemasangan EWS didasarkan pada kejadian banjir susulan akhir tahun 2025 di Desa Lampahan Timur,”
Sebanyak 62 jadwal perjalanan kereta cepat Whoosh kembali normal usai gempa bermagnitudo 4,9 di Kabupaten Bekasi.
Sistem peringatan dini gempa bumi memanfaatkan jaringan sensor seismik untuk mendeteksi gelombang primer (P)—gelombang cepat yang muncul pertama kali saat gempa terjadi.
BMKG membuat sistem peringatan dini tsunami Indonesia (InaTEWS) yang resmi beroperasi sejak 11 November 2008.
Potasium bisa dijadikan indikator baru dalam pemantauan aktivitas vulkanik, terutama untuk menilai potensi terjadinya letusan besar yang memicu pembentukan kaldera.
Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah penyebaran informasi kebencanaan melalui berbagai saluran komunikasi, termasuk operator seluler dan televisi.
Melihat kondisi cuaca yang masih hujan hingga saat ini, ia juga meminta Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk ikut serta melakukan modifikasi cuaca.
BANJIR dan tanah longsor yang terjadi di Desa Tempur, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, telah memutus akses jalan masyatakat dan merusak rumah warga.
Bahkan banjir merendam sejumlah daerah tersebut, juga mengakibatkan kerusakan sejumlah infrastruktur seperti tanggul jebol, jalan l, jembatan hingga sejumlah perkantoran dan sekolah rusak
KEPALA Badan Penanggulangan Bencana Nasional Letjen TNI Suharyanto menegaskan, pemerintah tidak membeda-bedakan satu daerah dengan daerah yang lain.
Ratusan unit huntara tersebut tersebar di Kecamatan Baktiya sebanyak 215 unit, Baktiya Barat 5 unit, Dewantara 115 unit, Sawang 241 unit, dan Kecamatan Seunuddon 135 unit.
BNPB bersama kementerian/lembaga, pemerintah daerah, unsur TNI/Polri, serta mitra swasta terus mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara) di Aceh Tamiang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved