Kamis 16 Juli 2020, 09:45 WIB

6 Cara Membuat Anak Tetap Aman Berinternet

Zubaedah Hanum | Humaniora
6 Cara Membuat Anak Tetap Aman Berinternet

Antara
Siswa belajar di rumah ditemani orangtua selama pandemi covid-19.

 

SELAMA pandemi covid-19 berlangsung, pembelajaran jarak jauh dilakukan di rumah dengan memanfaatkan internet. Sebagian besar waktu mereka kini dihabiskan anak di dunia maya, mulai dari belajar, mengobrol dengan teman dan kakek-nenek, hingga kegiatan ekstrakurikuler.

Bagi anak dan remaja, keterhubungan dengan lingkungan sosialnya sangat penting untuk mengurangi dampak rutinitas baru (dan sementara) ini, serta membuat mereka tetap bersemangat.

Lalu, bagaimana cara agar kita dapat memaksimalkan kegunaan internet sekaligus meminimalkan potensi dampak negatif kepada anak? Berikut ini tips yang diberikan oleh Sarah Jacobstein, Spesialis Hak Anak & Bisnis dari UNICEF Amerika Serikat, seperti dikutip dari laman UNICEF Indonesia, Kamis (16/7).

1 Berkomunikasi dengan terbuka

Upayakan komunikasi jujur dan terbuka dengan anak tentang cara dan teman interaksi mereka di dunia maya. Pastikan anak paham bahwa interaksi dunia maya pun harus dilakukan dengan baik dan sopan. Perlakuan yang bersifat mendiskriminasi atau tidak pantas tetap tidak boleh ditoleransi.

Dorong anak untuk selalu bercerita kepada orang dewasa yang bisa mereka percayai apabila mereka mendapatkan pengalaman negatif.

Selain itu, amati perilaku anak. Waspadalah jika anak tampak murung atau cenderung menyembunyikan kegiatannya di internet, atau jika mengalami perundungan di dunia maya.
Buat peraturan bersama anak tentang cara, kapan, dan di mana mereka boleh menggunakan perangkat elektronik.

2 Manfaatkan fitur perlindungan teknologi

Pastikan perangkat yang digunakan anak telah menggunakan peranti lunak dan program antivirus terbaru, dengan pengaturan privasi diaktifkan. Matikan/tutupi webcam jika tidak sedang digunakan.

Untuk anak-anak, terdapat fitur pengendalian orang tua, termasuk pencarian aman (safe search), agar setiap akses mereka aman dan positif.

Berhati-hatilah terhadap sumber belajar daring yang menawarkan akses gratis. Jangan berikan foto dan nama lengkap anak, karena platform yang sah tidak meminta data ini.

Ingat untuk selalu memeriksa pengaturan privasi untuk meminimalkan perekaman data pribadi. Ajarkan anak cara melindungi informasi pribadinya, terutama dari orang yang tidak dikenal.

3 Temani anak saat mengakses internet

Ciptakan kegiatan interaksi daring dengan teman, keluarga, atau orang tua sendiri dengan anak. Pada masa seperti ini, rasa keterhubungan sosial sangat penting. Inilah peluang bagi orang tua mencontohkan sikap baik dan empati dalam interaksi virtual.

Bantu anak mengetahui dan menghindari bentuk-bentuk misinformasi serta konten yang tidak sesuai dengan usianya.

4 Ajarkan anak untuk tetap berperilaku baik di dunia maya

Contohkan dan pantau perilaku positif di dunia maya dan saat melakukan panggilan video. Ingatkan anak untuk selalu bersikap baik terhadap teman sekelas, mengenakan pakaian yang pantas, dan untuk tidak bergabung dalam panggilan video dari kamar tidur.

Untuk orang tua, pelajarilah kebijakan sekolah dan kontak yang bisa dihubungi untuk melaporkan peristiwa cyberbullying atau konten negatif.

Bantu anak mengenali iklan di internet. Gunakan kesempatan ini untuk membahas aspek negatif atau keliru dari konten yang tampil, misalnya iklan makanan yang tidak sehat, stereotip gender, ataupun konten yang tidak seusai dengan usianya.

5. Berikan anak ruang untuk berekreasi

Orang tua juga bisa menjaga anak tetap aktif dengan mengajarkan dan menemani anak menggunakan sarana digital, seperti video olah raga atau permainan yang membutuhkan gerakan fisik.

Ingat, seimbangkanlah rekreasi dunia maya dengan kegiatan fisik, termasuk kegiatan di luar rumah, jika masih memungkinkan.

6. Dorong anak untuk bersuara

Jika anak merasa sedang di-bully, diganggu, diancam, atau menemukan masalah di dunia maya, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mencari bantuan dari seseorang yang dipercaya seperti Anda sebagai orang tua, wali, anggota keluarga, pendamping, atau orang dewasa lainnya yang terpercaya.

Jika bullying atau perilaku tidak menyenangkan terjadi di media sosial, mereka bisa memblokir akun pelaku dan melaporkan perilaku di media sosial itu sendiri. Media sosial berkewajiban menjaga keamanan penggunanya.

Mengumpulkan dan menyimpan bukti-bukti bisa membantunya nanti untuk menunjukkan apa yang telah terjadi – misalnya seperti pesan dalam chatting dan screenshot postingan di media sosial, agar dapat ditindaklanjuti oleh pihak yang berwenang. (H-2)

Baca Juga

Ist/Pemprov Jateng

Ganjar Sampaikan Duka Mendalam Atas Kepulangan Buya Syafii Maarif

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 27 Mei 2022, 13:34 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyampaikan duka mendalam atas kepergian Cendekiawan muslim yang juga mantan Ketua PP...
Ist

Kurangi Konsumsi Daging Bantu Atasi Perubahan Iklim

👤Eni Kartinah 🕔Jumat 27 Mei 2022, 13:27 WIB
Sebuah studi di Jerman mengungkapkan bahwa untuk mencapai tujuan iklim dan mengamankan kelangsungan  pangan global, konsumsi daging...
Ist

Tak Hanya Pendidikan, Kiprah YAPI Turut Sehatkan Anak Bangsa

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 27 Mei 2022, 13:15 WIB
Yayasan Asrama Pelajar Islam mengajak masyarakat untuk mendonorkan darahnya; mengingat betapa berartinya setetes darah bagi kehidupan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya