Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
ISU kerusakan ekosistem pesisir dan laut semakin marak belakangan ini. Salah satu contoh yang pernah terjadi yakni kerusakan ekosistem terumbu karang di wilayah perairan Karimunjawa akibat kapal tongkang batubara yang parkir di sekitar pulau tersebut.
Kondisi itu kemudian menggugah Pakar Ekologi Terumbu Karang Departemen Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro Munasik untuk menghitung besaran kerugian akibat kerusakan ekosistem terumbu karang di perairan Karimunjawa.
“Di Karimunjawa sudah ada beberapa kasus sejak 2017-2018. Kemudian kita lakukan observasi perhitungan. Kita perlu melakukan satu penghitungan klaim ganti rugi atas kerusakan yang diakibatkan,” tutur Munasik dalam webinar Valuasi Ekosistem dan Pengelolaan Berkelanjutan Pesisir dan Laut, Selasa (7/7).
Menurut Munasik, penghitungan besaran kerugian akibat kerusakan lingkungan hidup selama ini hanya menggunakan komponen kerugian dari referensi/average global value of annual ecosystem services. Padahal, kondisi ekosistem di Indonesia sangat beragam, sehingga dibutuhkan nilai/harga ekosistem yang riil di suatu wilayah sebelum timbul kerusakan.
Valuasi ekosistem terumbu karang yang dilakukan Munasik bersama sejumlah peneliti lainnya meliputi ecological value dan services value. Penghitungan dilakukan dengan menggunakan metode Emergy Analysis (EmA), metode yang secara kuantitatif mengekspresikan value/nilai semua produk berdasarkan energi yang setara dengan energi matahari dan digabungkan dengan metode konvensional.
Adapun komponen-komponen yang dihitung dalam variabel nilai ekologis meliputi, sinar matahari, CO2, bentos, ikan, masa air, dan zooxanthellae. Sedangkan komponen yang dihitung dalam variabel nilai layanan antara lain, pariwisata, akuakultur, biaya perlindungan/manajemen, ecosystem buffer, dan tutupan karang hidup.
Baca juga : 15 Tahun Mati Suri Festival danc(E)motion Dibangkitkan Korona
Berdasarkan pemantauan di wilayah observasi, prosentase tutupan karang hidup mencapai 42 persen, abiotic 30 persen, karang mati 26 persen, alga 1 persen, dan biota lainnya 1 persen. Kemudian dari penghitungan yang dilakukan Munasik bersama peneliti lainnya didapatkan bahwa nilai ekosistem terumbu karang di Taman Nasional Karimunjawa yakni mencapai Rp3.174.013/m2/tahun.
Tingkat kerusakan terumbu karang di Karimunjawa mencapai 26 persen, sehingga untuk memulihkan hingga 100 persen pada setiap meter persegi kerusakan dibutuhkan waktu sekitar 65 tahun lamanya.
“Berbasis nilai ekosistem terumbu karang tersebut, maka nilai kerugian ekosistem terumbu karang di TN Karimunjawa adalah Rp12.245.419 per meter persegi . Ini dasarnya adalah tingkat GDP nasional tahun 2012,” tuturnya.
Munasik menuturkan, dengan besarnya kerugian yang diakibatkan oleh kerusakan ekosistem karang, pihaknya menyarankan pemerintah agar menjadikan nilai/harga ekosistem nasional sebagai salah satu variabel penghitungan kerugian kerusakan lingkungan hidup.
Ia juga mengusulkan sistem valuasi ekosistem terumbu karang dengan menggunakan metode Emergy Analysis (EmA) untuk diaplikasikan di lokasi lain sehingga diperoleh hasil value/nilai ekosistem terumbu karang untuk tingkat lokal dan nasional. (OL-7)
Studi terbaru mengungkap evolusi biofluoresensi pada ikan sejak zaman kuno. Ternyata, terumbu karang mempercepat kemunculan "neon" alami ini.
Dari perairan yang sempat minim kehidupan, terumbu karang kini kembali berwarna dan mangrove tumbuh semakin kokoh di pesisir Desa One Ete dan Pulau Bapa, Kabupaten Morowali. Rehabilitasi
Ilmuwan temukan fakta mengejutkan dari fosil telinga ikan: rantai makanan terumbu karang menyusut drastis akibat aktivitas manusia. Simak dampaknya!
KECERDASAN buatan (AI) kini melampaui sekadar asisten digital atau pengolah teks.
Kerentanan di perairan Raja Ampat salah satunya karena ketidakakuratan peta navigasi elektronik global (ENC) yang sering gagal memotret profil terumbu karang yang dinamis.
Studi terbaru mengungkap terumbu karang bertindak sebagai "konduktor" yang mengatur ritme harian mikroba laut, melampaui perubahan musiman.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved