Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
DATA WHO tahun 2015 menunjukkan bahwa 70% kematian di dunia disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular (39,5 juta dari 56,4 kematian).
Dari seluruh kematian akibat Penyakit Tidak Menular (PTM) tersebut, 45% nya disebabkan oleh Penyakit jantung dan pembuluh darah, yaitu 17,7 juta dari 39,5 juta kematian.
Adapun, Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi Penyakit Jantung berdasarkan diagnosis dokter di Indonesia sebesar 1,5%, dengan peringkat prevalensi tertinggi Provinsi Kalimantan Utara 2,2%,DIY 2%, Gorontalo 2%.
Berkaitan dengan itu, di masa pandemi covid-19, orang yang menderita penyakit jantung diimbau agar terus melakukan pemeriksaan rutin ke dokter dan tidak putus minum obat.
"Sampai saat ini tidak ada perubahan tata laksana terapi penyakit jantung yang berubah. Semua pedoman penatalaksanaan penyakit jantung dan obat-obatan tidak berubah. Obat yang dikonsumsi rutin, pola hidup sehat tetap dilaksanakan. Tidak berubah," kata Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RS Pondok Indah Sari Sri Mumpuni, Selasa (16/6).
Baca juga: Operasi Jantung, Pasien Perlu Tes Covid-19 dahulu
Berdasarkan pengalamannya di lapangan, banyak pasien jantung yang takut untuk pergi ke fasilitas layanan kesehatan hingga putus minum obat. Akhirnya, kondisi pasien tersebut malah semakin memburuk.
"Kalau putus obat berpotensi strooke. Ada kasus, 1 bulan tidak minum obat. Beberapa hari lalu datang dengan keluhan kelemahan anggota badan sebelah kiri," ungkapnya.
Dirinya juga mengimbau kepada pasien penyakit jantung agar jangan memercayai isu bahwa obat hipertensi dapat menyebabkan covid-19. Pasalnya, hal itu terbukti tidak benar.
"Jangan percaya hal-hal seperti itu. Pasien hipertensi tetap haruz minum obat. Obat ARB ridak menyebabkab kita terinfeksi covid-19. Malahan kalau kita hentikan obat tersebut malah memperberat kondisi kesehatan," bebernya.
Di masa pandemi ini, Sari juga menyarankan agar pasien penyakit jantung tetap menjaga kesehatannya dengan cara stop merokok dan hindari menjadi perokok pasif, kontrol tekanan darah, konsumsi makanan sehat, rutin olahraga intensitas sedang 150 menit per minggu.
"Juga hindari stres. Jangan banyak baca pesan yang tidak betul. Nanti stres," tadasnya. (A-2)
Tidur dalam kondisi terang bukan sekadar masalah gangguan kenyamanan, melainkan ancaman serius bagi jantung.
Peningkatan risiko penyakit jantung koroner pada golongan darah non-O diduga berkaitan dengan kadar faktor pembekuan darah dan penanda inflamasi yang lebih tinggi.
Nyeri leher tak selalu akibat salah tidur. Dalam kondisi tertentu, sakit leher bisa menjadi gejala serangan jantung. Kenali tanda dan risikonya.
Tes darah baru mampu mendeteksi risiko komplikasi mematikan pada pasien hypertrophic cardiomyopathy (HCM). Terobosan besar bagi jutaan pengidap jantung genetik.
Peradangan kronis pada gigi dan gusi bukan sekadar rasa nyeri, melainkan proses biologis yang memengaruhi pembuluh darah.
Para pelari disarankan agar rutin mendeteksi masalah jantung, seperti keberadaan plak, sedini mungkin.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved