Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Teknologi Sebarkan Pendidikan Berkualitas dengan Merata

MI
02/5/2019 08:30
Teknologi Sebarkan Pendidikan Berkualitas dengan Merata
Rektor Universitas Terbuka (UT) Ojat Darojat.(MI/M. Irfan)

 

PERINGATAN  Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei harus mampu memaknai setiap perkembangan zaman, termasuk kemajuan teknologi. Pada era digitalisasi, pendidikan  mesti memanfaatkan internet agar hasilnya lebih berkualitas dan merata.

Karena itu, setiap anak bangsa, terutama generasi muda, tidak dapat mengabaikan kemajuan teknologi setiap saat. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka harus mampu memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

“Dengan kemajuan TIK, kini kita memperoleh dan mengakses informasi menjadi lebih mudah. Kalau masih gagap teknologi, tidak mungkin kita memperoleh informasi terbaru,” jelas Rektor Universitas Terbuka (UT), Ojat Darojat, di kantornya, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (26/4).

Kawula muda atau yang akrab disebut generasi milenial harus memiliki kebutuhan untuk beradaptasi dengan tren yang sedang berlangsung. Literasi komputer, smartphone, dan internet juga harus diperkuat dengan optimal demi masa depan mereka seiring dengan berlangsungnya revolusi industri 4.0.

“Harus ada motivasi dari dalam bagaimana meningkatkan kapasitas yang dimiliki, menyesuaikan dengan dinamika dan perubahan yang terus berlangsung. Artinya, mereka mengintegrasikan kemajuan yang telah dicapai oleh industri telekomunikasi dengan proses akademik,” urai Ojat.

Lembaga pendidikan, seperti sekolah dan perguruan tinggi, pun harus menyesuaikan diri. Dia menekankan kini sudah tidak zaman lagi interaksi belajar dibatasi ruang kelas/kuliah dengan waktu jam pelajaran tertentu. Sekarang setiap orang harus dapat belajar kapan saja, di mana saja, dan dalam keadaan apa saja.

“Ini berarti interaksi yang dibatasi ruang sudah tidak memadai lagi. Meski berhalangan ke kampus, mahasiswa tetap bisa mengakses materi pelajarannya,” ujarnya.

Bicara tentang UT, sejak didirikan pada 1984, institusi ini memegang teguh amanah pemerintah untuk menciptakan pemerataan akses pendidikan tinggi bagi seluruh lapisan warga masyarakat. Perannya sekarang pun signifikan dan strategis terhadap pendidikan Indonesia, terutama pada era revolusi industri 4.0.

“Kata terbuka pada UT merujuk pada orang. Siapa pun di negeri ini tidak boleh tidak memiliki kesempatan untuk masuk ke perguruan tinggi, termasuk disabilitas dan mereka yang sulit secara ekonomi. Kami hadir di tengah masyarakat memfasilitasi itu semua,”tegas Ojat.

Makna terbuka kedua merujuk pada tempat. Artinya, perguruan tinggi harus hadir di mana pun, baik wilayah yang mudah sampai yang sulit terjangkau.


Kerja sama dengan 10 PT

Salah satu upaya teranyar sekaligus menyambut Hardiknas, UT menandatangani nota kesepahaman perjanjian kerja sama dengan 10 perguruan tinggi, antara lain Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Sumatra, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas  Negeri Semarang, Politeknik Bandung, dan Politeknik Madiun. Kerja sama tersebut memudahkan mahasiswa 10 kampus tersebut mengambil mata kuliah umum (MKU) di UT secara daring (online).

Namun, Ojat mengakui, salah satu tantangan terbesar dalam mengejar metode belajar melalui jaringan, yaitu akses internet yang terbatas bagi mereka yang hidup di daerah pinggiran.

Bahkan, demi pemerataan pendidikan, UT pun menyasar pekerja migran di 36 negara bekerja sama dengan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia dan Kementerian Luar Negeri.

Mayoritas pekerja tersebut terkonsentrasi di Malaysia, Singapura, Taiwan, Hong Kong, Korea Selatan, Jepang, dan Arab Saudi. “

Itu dilakukan agar mereka bisa memperoleh sarjana tanpa meninggalkan pekerjaan. Jumlahnya kini sudah sekitar 2.500 orang yang aktif,” tukas Ojat. Melihat pentingnya pembelajaran daring, pihaknya sudah mengusulkan kepada pemerintah agar pembangunan base transceiver station di daerah pinggiran segera dilakukan.

Tujuannya, kegiatan yang sangat bergantung pada internet tersebut berlangsung lebih masif. UT juga mengusulkan agar syarat masuk ke perguruan tinggi tidak wajib berijazah sekolah menengah atas melainkan bisa dengan portofolio pengalaman profesi. Ini dilatarbelakangi fakta bahwa banyak orang yang berusia 18 tahun ke atas tidak berpendidikan SMA, tetapi memiliki pengalaman pada profesi tertentu.

Sekadar informasi, sampai hari ini lulusan UT sebanyak 1,75 juta orang. Kini UT sedang aktif melayani 325 ribu mahasiswa di seluruh Indonesia dengan dosen sebanyak 624 orang. Dosen UT, di samping sebagai staf akademik, juga merangkap kegiatan manajerial kampus serta kegiatan penelitian dalam bidang ilmu dan kelembagaan. “Dosen kami juga wajib memiliki poin atau menyisihkan waktu melakukan pengabdian kepada masyarakat, melatih guru membuat satuan pelajaran, melatih petani terkait dengan masalah pertanian, dan sebagainya,” pungkas Ojat. (Try/S4-25)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya