Headline
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Kumpulan Berita DPR RI
PERAN perguruan tinggi dalam mendorong kemajuan bangsa dinilai semakin strategis melalui penguatan ekosistem riset serta pengabdian kepada masyarakat. Dengan jumlah mahasiswa yang besar dan tersebar di ribuan kampus, perguruan tinggi diharapkan mampu memberikan kontribusi yang lebih nyata terhadap pembangunan.
Berdasarkan data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti), saat ini terdapat hampir 10 juta mahasiswa yang menempuh pendidikan di 4.416 perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 mencatat Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi di Provinsi Bali mencapai 40,69 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada pada angka 32,89 persen.
Potensi tersebut dinilai harus diimbangi dengan penguatan kontribusi perguruan tinggi di luar proses pembelajaran di kelas, terutama melalui kegiatan riset dan pengabdian masyarakat yang berdampak langsung.
Hal itu disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan saat menghadiri Dies Natalis ke-44 Universitas Mahasaraswati (Unmas) Denpasar, Bali, Minggu (8/3).
“Perguruan tinggi hari ini tidak cukup hanya menghasilkan lulusan atau publikasi ilmiah. tridarma perguruan tinggi seharusnya diimplementasikan secara saling terhubung agar dapat memberikan dampak yang nyata bagi pembangunan," kata Wamen Fauzan.
Ia menjelaskan, kebijakan transformasi pendidikan tinggi saat ini mengarah pada konsep kampus berdampak, yaitu perguruan tinggi yang mampu mengaitkan aktivitas akademik dengan kebutuhan masyarakat serta dunia kerja.
Melalui pendekatan tersebut, kampus diharapkan dapat menjadi bagian dari solusi terhadap berbagai persoalan masyarakat sekaligus mendorong pengembangan daerah.
Fauzan juga mengingatkan pesan Presiden Prabowo Subianto bahwa kualitas pendidikan menjadi faktor utama dalam menentukan kemajuan suatu bangsa.
Menurutnya, kampus tidak hanya berfungsi menerima mahasiswa yang sudah unggul, tetapi juga mampu membentuk dan mengembangkan potensi mahasiswa menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.
"Kita harus merenungi bersama apa yang disampaikan oleh Pak Presiden. Hanya dengan pendidikan yang bermutu, bangsa Indonesia akan bisa berdiri di atas kaki sendiri," tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Fauzan juga menyinggung kondisi demografi Indonesia yang didominasi penduduk usia produktif. Ia menyebut mahasiswa yang saat ini berada di perguruan tinggi akan menjadi generasi yang menentukan arah pembangunan Indonesia dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan menuju visi Indonesia Emas 2045.
"Pada 2025, sekitar 68,95% penduduk Indonesia berada pada usia produktif. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar untuk menyiapkan sumber daya manusia yang unggul," ujarnya.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, ia mengusulkan pembentukan konsorsium perguruan tinggi di Bali. Konsorsium ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antar kampus dalam menjawab berbagai persoalan strategis di daerah, mulai dari isu lingkungan, pengelolaan sampah, hingga pembangunan sosial.
"Harus ada kolaborasi dengan pemerintah daerah, industri, dan masyarakat," tuturnya. (Fik)
Stella menyoroti tantangan besar keluarga di era metropolitan, yakni dominasi gawai (gadget) yang mulai mengikis waktu berkualitas saat makan bersama.
Fauzan kemudian mengajak peserta untuk memikirkan kembali cara pengelolaan mesjid kampus agar tampil lebih segar dan profesional.
Stella mengutarakan masa kuliah merupakan waktu yang ideal untuk mengeksplorasi minat, mencoba hal-hal baru, dan tidak sekadar mengikuti arus.
WAKIL Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie optimis terhadap masa depan riset Indonesia.
Menurutnya, inovasi baru tidak akan tercipta tanpa adanya curiousity yang dijawab secara sistematis dengan riset.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved