Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Film Klasik Makoto Shinkai Kembali Hadir di Layar Lebar Indonesia

N Apuan Iskandar
09/1/2026 05:21
Film Klasik Makoto Shinkai Kembali Hadir di Layar Lebar Indonesia
Layar menampilkan film 5 Centimeters per Second dalam pemutaran ulang di bioskop Indonesia. Karya klasik Makoto Shinkai ini kembali hadir di layar lebar.(MI/N Apuan Iskandar)

FILM klasik karya sutradara Jepang Makoto Shinkai kembali hadir di layar lebar Indonesia, memberi kesempatan bagi penonton untuk menyaksikan ulang salah satu karya paling berpengaruh dalam sejarah anime modern. 

Pemutaran ulang ini disambut antusias, tidak hanya oleh penggemar lama, tetapi juga oleh penonton baru yang ingin mengenal akar estetika dan narasi khas Shinkai.

Film 5 Centimeters per Second dikenal luas karena pendekatannya yang puitis dan reflektif. 

Shinkai sendiri pernah mengungkapkan bahwa sejak awal ia menginginkan judul yang memiliki kesan kuat dan bernuansa sastra, layaknya judul novel. Ia terinspirasi oleh karya-karya Haruki Murakami, khususnya kumpulan cerpen Membakar Gudang dan Cerita Pendek Lainnya, yang menghadirkan kesederhanaan cerita dengan kedalaman emosi.

Pada tahap awal, film ini dirancang sebagai kumpulan cerita pendek yang berdiri sendiri. Shinkai membayangkan dua atau tiga kisah terpisah yang selesai dalam ruang kreatif yang “terkendali”. 

Namun, seiring proses pengembangan, cerita-cerita tersebut perlahan terhubung secara emosional dan naratif, hingga akhirnya disatukan menjadi satu karya utuh yang saling berkaitan.

Pengalaman produksi film ini juga memiliki kesan personal bagi tim kreatif. Setelah terlibat dalam proyek sebelumnya, Kumo no Mukou, Yakusoku no Basho, Shinkai dan tim kembali bekerja bersama dalam suasana yang lebih intim. 

Proses produksi dilakukan di apartemen sang sutradara, dengan meja gambar yang dipasang di satu ruangan untuk seluruh tahapan kerja mulai dari ilustrasi hingga pewarnaan. Lingkungan kerja yang sederhana, bahkan ditemani seekor kucing, justru menumbuhkan semangat dan kenikmatan dalam berkarya.

Banyak adegan dalam film lahir dari pengalaman nyata. Adegan kereta yang terlambat, misalnya, terinspirasi dari pengalaman pribadi Shinkai yang pernah terjebak semalaman di dalam kereta akibat salju. 

Rasa panik dan penantian itulah yang kemudian menjadi fondasi emosional cerita. Riset lokasi pun dilakukan secara mendalam, termasuk saat penggarapan bagian Tanegashima, yang dipilih karena kedekatan unik antara fasilitas peluncuran roket dan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Terdiri dari tiga bagian, dengan bagian ketiga yang paling singkat dan nyaris sepenuhnya mengandalkan musik, 5 Centimeters per Second secara sadar menghindari penutupan cerita yang mutlak. 

Shinkai memilih memberi ruang bagi penonton untuk mengisi kekosongan dengan pengalaman dan perasaan mereka sendiri. Dua dekade setelah perilisannya, film ini mungkin tidak sempurna, namun justru ketidaksempurnaan itulah yang membuatnya tetap berkilau seperti kenangan masa muda yang tak bisa diulang, tetapi selalu hidup dalam ingatan. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya