Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Tantangan Fisik Jimmy Kobogau di Film Timur, Bertarung di Ketinggian dengan Oksigen Tipis

Basuki Eka Purnama
08/12/2025 19:32
Tantangan Fisik Jimmy Kobogau di Film Timur, Bertarung di Ketinggian dengan Oksigen Tipis
Aktor Jimmy Kobogau(Instagram @kobogau_j)

AKTOR Jimmy Kobogau, yang memerankan karakter Sila, seorang anggota Kopassus dalam film aksi Timur, membagikan pengalamannya menghadapi tantangan fisik ekstrem saat syuting. Tantangan terberatnya adalah melakoni adegan baku hantam yang kerap memaksanya bertarung melawan lebih dari dua lawan sekaligus.

"Sila itu harus berantem dengan banyak lawan, dan rata-rata lebih dari dua. Jadi tiga, empat. Itu sangat capek," ujar Jimmy, dikutip Senin (8/12).

Kesulitan fisik ini diperparah oleh lokasi syuting yang menuntut. Produser Aufa Assegaf menjelaskan bahwa proses produksi film sebagian besar dilakukan di kawasan Situ Lembang, tepatnya di area hutan asli yang berada di ketinggian dan bersuhu dingin.

"Kurang lebih 90% lokasinya di hutan dan hutan yang dingin dengan cuacanya terus berada di ketinggian," kata Aufa.

Kondisi tersebut secara langsung memengaruhi stamina para aktor, terutama saat melakukan adegan laga yang intens. Jimmy Kobogau menambahkan bahwa bertarung di ketinggian membuat pernapasan menjadi lebih berat.

"Di ketinggian itu, oksigen lumayan tipis. Jadi semakin banyak bergerak, semakin cepat capek," jelas Jimmy.

Tantangan bertambah parah ketika adegan aksi harus dieksekusi di medan yang berat. 

"Apalagi kalau syutingnya di malam hari, habis hujan, dan itu ada lumpurnya... parah sekali," imbuhnya.

Pelatihan Intensif dan Komitmen Realisme

Untuk menjamin keselamatan dan kualitas adegan, para aktor, yang sebagian besar tidak memiliki latar belakang bela diri, menjalani pelatihan intensif selama sekitar dua bulan bersama tim koreografi terkenal, Uwais Team.

Fokus awal pelatihan bukan pada koreografi rumit, melainkan pada dasar-dasar keselamatan.

"Kami bukan orang bela diri atau atlet. Jadi dua bulan itu, Uwais Team melatih bagaimana kita jatuh dengan cara yang safety," terang Aufa Assegaf. "Supaya tidak cedera, bagaimana cara reaksi yang benar. Setelah itu baru masuk ke gerakan-gerakan koreografi."

Selain persiapan aktor, film Timur juga berkomitmen pada realisme visual dengan meminimalkan penggunaan efek komputer (Computer Generated Imagery/CGI). 

Menurut Aufa, visual efek hanya berfungsi menopang hal-hal yang sudah dibuat secara nyata di lapangan. Hal ini termasuk membangun set lokasi dari nol di atas lahan kosong.

Komitmen ini terlihat jelas dari penggunaan peralatan. Jimmy mengonfirmasi bahwa senjata yang digunakan saat berjalan adalah senjata asli, meskipun untuk adegan baku hantam digunakan versi dummy demi keamanan. Bahkan, helikopter yang muncul di poster film diklaim merupakan unit asli.

"Memang itu heli yang riil. Visual effect hanya menopang dari yang sudah dibikin asli," tegas Aufa.

Kerja detail dari tim koreografi yang merancang adegan aksi hingga membuat videoboard sebelum syuting, membuat eksekusi di lokasi menjadi lebih lancar.

"Ketika semuanya sudah dipersiapkan, saat syuting kami tinggal eksekusi saja. Kalau pun ada adjustment, hanya disesuaikan dengan lokasi. Tapi dasarnya kami sudah terlatih," tutup Aufa. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya